INVESTIGASI

TRAGEDI DUKUN SANTET BANYUWANGI

Hancur Lebur Gara-gara 'Hantu' Ninja

“Cuma gara-gara Bapak tidak punya kamar mandi dan selalu keluar malam untuk ambil air wudu ke rumah tetangga, bapak saya dituduh sebagai dukun santet.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 6 Februari 2019

Syamsul Effendi hanya bisa pasrah saat sejumlah polisi menangkapnya sebulan pascapembunuhan Suhamo, 81 tahun, warga Desa Kalipuro, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, 28 September 1998. Syamsul dan empat warga kemudian digiring ke Markas Polres Banyuwangi. Setelah diperiksa sekitar 30 menit, kelima orang tersebut dibawa keluar dari kantor polisi dan dinaikkan ke mobil jip yang dibuka kanvasnya.

Rupanya mereka diarak keliling alun-alun Kota Banyuwangi dengan pengawalan ketat. Kedua tangan dan kaki mereka dirantai. Syamsul dan kawan-kawannya tersebut tak ayal mendapat perhatian ribuan pasang mata warga yang siang itu sedang beraktivitas di sana.

Teriakan dan makian warga pun bersahutan di sepanjang jalan yang dilalui arak-arakan. Apalagi polisi dengan pengeras suara mengumumkan bahwa orang yang membuat teror sudah ditangkap. “Ini ninja sudah ditangkap. Ini ninja sudah kena,” begitu kata Syamsul menirukan suara polisi yang mengaraknya 20 tahun silam.

Saat ditemui detikX, 24 Januari 2019, Syamsul mengaku heran atas perlakuan tersebut. Sebab, dirinya, yang saat itu masih berusia 17 tahun, bukanlah ninja seperti yang digembar-gemborkan polisi. “Saya dan warga justru selama hampir sebulan berjaga-jaga di kampung untuk menghadang ninja. Dan selama itu kami tidak pernah melihat ninja itu seperti apa sosoknya,” terang Syamsul.

Yang terjadi malah warga desa, termasuk Syamsul, menghakimi seorang warga bernama Suhamo karena dituding sebagai dukun santet, yang konon namanya terdaftar dalam radiogram yang diedarkan Bupati Banyuwangi kala itu, Turyono Purnomo Sidik. Syamsul mendekam di penjara selama 4 tahun 8 bulan karena diduga terlibat dalam pembantaian Suhamo.

Dia kemudian dijebloskan Lembaga Pemasyarakatan Porong, Sidoarjo. Di penjara pun, ia pun masih didatangi wartawan asing yang mengkonfirmasi isu ninja itu. Tuduhan Syamsul sebagai ninja rupanya santer terdengar hingga mancanegara. “Banyak wartawan yang mewawancarai saya, termasuk dari luar negeri. Saya terus terang bilang saya bukan ninja,” ujar Syamsul.

Para tersangka pembantaian dukun santet dikumpulkan di sebuah tanah lapang
Foto : Repro buku Geger Santet Banyuwangi

Selain Syamsul, warga lain yang dituduh sebagai ninja adalah Suharso. Pria ini merupakan kerabat Suhalik, akademisi yang juga anggota tim lokal yang membantu investigasi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia tentang pembantaian dukun santet di Banyuwangi. “Ada kerabat saya dituduh sebagai ninja. Dia itu cacat. Dia buka warung, sering didatangi tamu dari Jakarta. Nah, dituduh ninja, rumahnya diamuk warga, hingga harus dilarikan ke rumah sakit,” tutur Suhalik kepada detikX.

Dikatakan Suhalik, kerabatnya itu memang sering menerima tamu karena merupakan seorang pencipta lagu. Lagu terakhir yang dibuat Suharso adalah ‘Hancur Lebur’. Siapa sangka, setelah membuat lagu tersebut, rumah Suharso benar-benar hancur berantakan diamuk massa. “Sekarang orangnya sudah meninggal,” katanya.

Isu ninja muncul setelah peristiwa pembantaian dukun santet merebak di Banyuwangi pada 1998 dan segera menjadi teror yang menghantui warga. Sasarannya adalah para kiai dan aktivis keagamaan di Banyuwangi. Dari sejumlah kesaksian disebutkan, ninja itu mengenakan pakaian serbahitam dan kedapatan memakai Handie-Talkie dalam beroperasi.

Ada dua versi mengenai ninja ini. Ada yang menyebutkan ninja tersebut adalah orang yang hanya berkostum hitam dan membawa senjata. Sedangkan yang lain menceritakan bahwa sosok ninja yang mereka lihat adalah seperti ninja di Jepang, mampu bergerak ringan, melompat dari sisi ke sisi yang tidak akan bisa dilakukan oleh manusia biasa.

Mereka sangat terlatih dan sistematis. Saat itu, yang terjadi adalah listrik tiba-tiba padam. Sesaat kemudian, terdapat seseorang yang sudah meninggal karena dibunuh. Kondisi mayat pada saat itu ada yang sudah terpotong-potong, patah tulang, ataupun kepala yang pecah.

Faisoli Harun, tokoh Masyarakat Banyuwangi yang saat geger dukun santet menjadi anggota DPRD Jawa Timur, bercerita, sejak muncul isu ninja, banyak warga memilih tidur di luar rumah. Tempat tidur dan kasur pun berpindah dari kamar ke teras rumah. Sementara itu, warga lainnya memilih berjaga di mulut-mulut jalan menuju kampung

Fiasoli Harun, tokoh masyarakat Banyuwangi
Foto : Ibad Durohman/detikX

Di depan sejumlah rumah juga tersaji makanan dan minuman sebagai teman begadang warga yang berjaga. Konsumsi itu disiapkan oleh warga yang kaya. “Waktu itu kan warga setiap hari dibikin mencekam. Setiap warga umumnya tidur di luar rumah, tidak berani di dalam rumah,” tutur Faisoli.

Jason Brown dalam Perdukunan, Paranormal, dan Peristiwa Pembantaian (Teror Maut di Banyuwangi, 1998) menyebut media massa turut memanas-manasi isu ninja itu dengan menurunkan laporan sensasional tentang ninja hampir setiap hari. Berita-berita itu membuat masyarakat mengalami perasaan histeria kolektif. Puncaknya adalah kejadian di Malang pada Oktober 1998. Pada 24 Oktober, penduduk Kecamatan Gondanglegi membantai lima orang asing yang dicurigai sebagai ninja. Bahkan seorang di antaranya dibakar hidup-hidup.

Kendati begitu, ada yang percaya pada isu ninja itu. Biasanya adalah para kiai dan tokoh agama yang mengalami teror atau para santri yang merupakan anggota pengamanan swakarsa yang dibentuk untuk membentengi mereka. Salah satu yang mengalami teror itu adalah Kiai Ahmad Siddiq. Tiga kali pria bertopeng mirip ninja mengancam akan membunuhnya.

Selain ninja, menurut Jason, muncul orang gila. Pada Oktober 1998, beberapa pria yang ditangkap sebagai ninja ternyata orang gila. Namun beberapa orang percaya orang gila itu tidak berdiri sendiri. Mereka didrop ke daerah atau kecamatan sebagai kambing hitam. Ada cerita beberapa ninja yang ditangkap polisi ditukar dengan orang gila itu.

Benar-tidaknya ninja itu, pembantaian dukun santet di Banyuwangi telah merembet ke korban-korban di luar terduga dukun santet. Mereka yang tewas termasuk kiai atau ulama Nahdlatul Ulama. “Random polanya. Kalau kita melihat petanya, yang besar hanya dua. Dukun santet dan ulama NU itu korbannya,” kata Ketua Penyelidik Komnas HAM Beka Ulung Hapsara kepada detikX.

Menurut Komnas HAM, dalam banyak peristiwa pembunuhan, pelakunya adalah massa. Namun ada pula yang sangat terlatih dan terorganisasi dengan baik. Mereka juga memahami betul kondisi sosiologis dan mempermainkan emosi. Ada pula komandan yang kemudian memerintahkan pembunuhan dari sini, lalu pindah ke beberapa titik.

Buanti, anak korban pembunuhan dukun santet di Banyuwangi.
Foto : Ibad Durohman/detikX

Sebelum korban dibunuh, rumahnya selalu diberi tanda silang. Lampu juga terlebih dulu dimatikan. Komnas HAM juga melihat ada pembiaran dari aparat keamanan. Indikatornya, ketika eskalasi mulai muncul, aparat yang diterjunkan itu telat datangnya. Sikap abai ini berujung pada penyiksaan dan pembunuhan sadis. Misalnya korban diseret, lalu dikalungi tali, dipukuli, dan dipentungi hingga tewas.

Faisoli mengatakan meluasnya korban disebutkan pengkategorian orang yang disebut dukun santet yang sembarangan. Banyak korban yang menunaikan salat malam, namun dicurigai hanya wiridan, dianggap punya ilmu sihir dan lalu dibantai.

“Tahun 1998 itu saya menemukan di Desa Boyolangu kan di desa itu tidak punya kamar mandi di dalam. Kadang mereka mandi di sungai. Nah, di situ ada (warga/ustaz) yang ‘disikat’ pakai pisau, perutnya kena. Nah, sekian indikator, saya simpulkan ternyata ini sama,” katanya.

Buatin, anak seorang korban, Muhammad Yasin, bilang ayahnya sebetulnya bukan dukun santet. Ayahnya adalah seorang guru mengaji dan Ketua NU Rogojampi dan aktif di GP Ansor. “Ansor yang memburu PKI. Bapak saya itu difitnah. Cuma gara-gara Bapak tidak punya kamar mandi dan selalu keluar malam untuk ambil air wudu ke rumah tetangga, bapak saya dituduh sebagai dukun santet,” kata Buatin di kediamannya, Dusun Krajan, Desa Kaligondo, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Kamis, 24 Januari 2019, kepada detikX.

Komnas HAM pun berharap, setelah penyelidikan kasus pembunuhan dukun santet atau yang terduga dukun santet dan ulama di Jawa Timur, tidak ada lagi kejadian serupa. Komnas HAM juga meminta kepada negara untuk segera mengalokasikan sumber daya manusia, sumber daya anggaran, dan program untuk pemulihan korban.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor:Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE