INVESTIGASI

Tragedi Dukun Santet Banyuwangi

Mereka yang Menuntut Pembersihan Nama

“Saya ingin sekali meminta maaf kepada keluarga korban, tapi saya tidak berani. Bagaimana saya memulainya?”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 7 Februari 2019

Di tepi jalan desa di Dusun Jajangsurat, Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur, ada sebuah bangunan rumah yang menyita perhatian. Bagunan itu sudah tak beratap. Pintu dan daun jendelanya pun raib. Bagian lantai dan dinding banyak ditumbuhi tanaman liar dan lumut. Laba-laba dengan leluasa bersarang di lubang-lubang jendela.

Rumah itu terakhir ditempati Lilik dan keluarganya pada pengujung tahun 1998. Lilik terpaksa meninggalkan rumah setelah ayah dan suaminya tewas dibantai warga karena dituduh dukun santet. Ketika itu warga dusun beramai-ramai ke rumah Lilik untuk menjemput paksa ayah dan suami lilik untuk kemudian dihabisi. Rumah lilik juga dibakar massa yang sudah gelap mata.

Trauma atas peristiwa itu, Lilik memutuskan untuk pergi dari kampungnya. Terakhir, menurut kabar dari warga, beberapa tahun yang lalu Lilik mengontrak rumah di Kelurahan Pakis, Kota Banyuwangi. Setelah itu ia seolah menghilang, tidak terdeteksi di mana tinggalnya.

Kisah di seperti itu tidak hanya terjadi pada Lilik. Di Dusun Sumberwadung, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, juga ada kasus yang identik. Soemarno tewas di amuk massa, juga karena dituduh dukun santet. Pasca kejadian itu, istri dan anak korban memilih meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke negara jiran Malaysia, menetap di sana dan tak pernah kembali.

Rumah yang ditinggalkan Lilik pasca ayah dan suaminya dibantai warga karena dituding dukun santet pada 1998.
Foto : Ibad Durohman/detikX


Saya ingin sekali meminta maaf kepada keluarga korban, tapi saya tidak berani. Bagaimana saya memulainya?”

Suhalik, peneliti sejarah asal Banyuwangi, yang juga ikut dalam tim penyelidikan dugaan pelanggaran HAM pada tragedi pembataian dukun santet Banyuwangi 1998, yang dibentuk Komnas HAM, mengungkapkan, mayoritas keluarga korban memilih meninggalkan desanya karena tidak tahan terhadap stigma dan pengucilan dari masyarakat.

”Sama seperti PKI yang terkena stigma, mereka sulit mencari kerja, tidak diterima di sosial. Berdasarkan pengalaman saya, kebanyakan dari mereka lebih memilih menghindar, menghilang, pindah entah ke mana,” jelas Suhalik kepada detikX di kediamannya, Perumahan Permata Giri, Banyuwangi, Rabu 23 Januari 2019.

Pada tahun 2015, Komnas HAM membentuk tim untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM berat peristiwa pembantaian dukun santet itu. Mulai awal 2015 hingga pertengahan 2018, Suhalik bersama Komnas HAM telah mewawancara puluhan keluarga korban melalui serangkaian Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan di beberapa hotel di Banyuwangi guna mengumpulkan data untuk keperluan penyelidikan.

Terakhir FGD dilakukan di Hotel Blambangan yang dihelat pada pertengahan 2017. Di Forum itu, ada satu kejadian yang tak akan bisa dilupakan Suhalik. Salah satu keluarga korban maju ke tengah acara dan menceritakan kejadian pilu yang menimpa dia dan keluarganya. Perempuan itu bercerita bagaimana ayahnya tewas dihakimi massa di depan dia dan keluarganya.

Cerita itu memicu histeria masal. Seluruh keluarga korban lainnya yang hadir turut menangis terisak-isak. “Mereka tidak tahan memendam kesedihan yang selama tahunan tidak kunjung ada penyelesaian. Hampir semua keluarga korban meminta pembersihan nama atau minimal meminta penggantian atas rumah-rumah mereka yang telah dirusak,” kata Suhalik.

Perginya keluarga korban karena stigmatisasi itu juga menjadi kendala bagi tim dalam mengumpulkan data. Suhalik mencontohkan di Desa Sukojati, Kecamatan Blimbingsari. Di tempat itu, ada lima orang yang masih satu keluarga tewas dibantai warga, dan hanya menyisakan satu orang anggota keluarga. Suhalik bersama Komnas HAM ingin mewawancarainya, namun orang yang dicari tak ada. “Kalau begitu mau bagaimana?” ucap dia.

Pembersihan nama keluarga juga diminta Buatin, anak dari Muhammad Yasin, korban pembunuhan dukun santet di Dusun Krajan, Desa Kaligondo. Buatin hingga kini tidak terima ayahnya dituduh dukun santet. Yasin adalah pengurus Nahdatul Ulama tingkat kecamatan dan aktif di GP Anshor.

Suhalik
Foto : Ibad Durohman/detikX

“Bapak saya aktif di Anshor yang memburu PKI,. Bapak saya itu difitnah. Cuma gara-gara bapak saya tidak punya kamar mandi dan selalu keluar malam untuk ambil air wudu ke rumah tetangga bapak saya dituduh dukun santet,” kata Buatin kepada detikX di rumahnya, Kamis, 24 Januari 2019.

Meski ayahnya menjadi korban pembunuhan dukun santet, Buatin tidak meninggalkan desa seperti yang dilakukan keluarga-keluarga korban lainnya. Dia memilih untuk bertahan meskipun ada anggapan miring dari para tetangganya. “Saya berusaha ikhlas. Dan berdoa semoga Allah saja yang membalas perbuatan mereka,” kata Buatin.

Hubungan dia dengan para pelaku pembunuh ayahnya pun dingin sejak peristiwa kelam itu. “Kalau saya bertemu dengan para pembunuh ayah saya, lebih baik saya menghindar saja. Hati saya masih mangkel (marah),” ucapnya.

Rasa traumatis tidak hanya dirasakan oleh para keluarga korban. Syamsul Effendi, mantan narapidana pelaku pembunuhan terhadap Suhamo, warga Dusun Secang, Desa Kalipuro, yang dituduh dukun santet, juga merasakan rasa trauma dan penyesalan yang mendalam.

“Saya itu menyesal sekali. Kok saya membunuh orang yang tidak punya salah pada saya. Sebelum saya ditangkap itu saya sudah ketakutan. Bukan saya takut pada polisi. Saya takut karena selalu terbayang-bayang wajah korban. Kata-kata korban juga terngiang-ngiang di telinga saya,” terang Syamsul di rumahnya, Dusun Papring, Desa Kalipuro, Kecamatan Kalipuro, Jumat, 25 Januari 2019.

Peristiwa pembunuhan terhadap Suhamo terjadi pada pertengahan 1998. Syamsul divonis 4,8 tahun oleh Pengadilan Negeri Banyuwangi dan menjalani hukuman di Lapas Porong, Sidoarjo. Meski sudah menjalani hukuman, rasa bersalah Syamsul tidak hilang. Sampai hari ini Syamsul tidak berani bertemu secara langsung dengan keluarga korban. “Saya ingin sekali meminta maaf kepada keluarga korban, tapi saya tidak berani. Bagaimana saya memulainya?” imbuh Syamsul sambil berkaca-kaca.

Pada 15 Desember 2018, Tim penyelidik Komnas HAM telah menyerahkan laporan investigasinya kepada Mahkamah Agung. Komnas HAM meminta kepada Jaksa Agung untuk segera memulai penyidikan terkait kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di wilayah Jawa Timur tersebut.

Muhammad Yasin, salah satu korban pembantaian dukun santet.
Foto : Ibad Durohman/detikX

Selain itu Komnas HAM juga merekomendasikan kerpada Presiden untuk memberikan komitmen penuh terhadap upaya-upaya pemulihan korban. Presiden juga direkomendasikan agar membuat permintaan maaf terbuka kepada para korban atas pelanggaran HAM berat itu.

Komisioner Komnas HAM M. Choirul Anam mengatakan, sudah 21 tahun peristiwa ini terjadi, sudah bebarapa kali rezim berganti, selama itu pula penanganan terhadap kasus ini diperlakukan seperti kasus biasa dan diangap kriminal biasa. Sehingga Komnas HAM pun menganggap pemerintah belum melakukan penanganan apa pun. “Seharusnya kasus seperti ini diperlakukan dengan cara yang luar biasa, pendekatannya juga luar biasa,” kata Anam kepada detikX di Kantornya, Jakarta Jumat, 1 Januari 2019.

Komnas HAM juga mendesak agar Jaksa Agung segera mengungkap dan mengadili dalang di balik kasus pembantaian terhadap dukun santet itu. “Komnas mendesak Jaksa Agung untuk memulai penyidikan agar dalam kasus ini bisa diadili siapa dalangnya. Paling minimal adalah bagaimana korban ini dipulihkan harkat dan martabatnya. Bagi kami itu kebijakan yang selemah-lemahnya iman,” pinta Anam.


Reporter: Ibad Durohman
Penulis: Ibad Durohman
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE