INVESTIGASI

ANDI ARIEF, DARI AKTIVIS, KOMISARIS, HINGGA NYABU

Perjalanan politik Andi Arief dimulai saat menjadi aktivis SMID. Jebolan UGM tersebut sempat menjadi Komisaris PT Pos Indonesia di era SBY. Kini karir politiknya terancam kandas setelah terjerat narkoba.

Foto : Andi Arief (Twitter)

Kamis, 07 Maret 2019

Heri Sebayang langsung syok ketika mendengar kabar teman lamanya Andi Arief masuk bui karena memakai sabu. “Lihat wajahnya di sel tahanan saya langsung menangis. Itu teman saya sejak lama,” kata Heri kepada detikX, Selasa 5 Maret 2019.

Heri dan Andi sudah berkawan sejak keduanya masih menjadi aktivis mahasiswa di Yogyakarta semasa Orde Baru. Heri kuliah di Universitas Janabadra sementara Andi di Universitas Gajah Mada (UGM). “Saya lulus tahun 1995 dan ketemu lagi dengan AA (Andi Arief) itu di Jakarta waktu Peristiwa 27 Juli 1996. Saya dan kawan-kawan aktivis mahasiswa Yogyakarta kan ikut juga dalam aksi itu,” terang Heri.

Setelah itu keduanya tidak lagi bertemu pasca aksi penangkapan terhadap aktivis prodemokrasi. Heri sempat ditahan selama satu hari di Garnisun Yogyakarta. Sementara Andi, yang aktif di Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), sempat menjadi buronan sebelum akhirnya ditangkap penguasa.

Andi bebas pada 1998 ketika era reformasi datang. Dan ia kembali bertemu Heri pada 2004 saat sama-sama menjadi relawan calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla. Buah kemenangan SBY kemudian mengantarkan Andi ke kursi komisaris PT Pos Indonesia pada tahun 2006. Pada tahun yang sama, Heri pun diangkat menjadi komisaris di PT Perkebunan Nusantara.

Andi Arief setelah ditangkap poliis dalam kasus narkoba
Foto : istimewa

Pertemuan terakhir Heri dengan Andi, yang kini menjabat Wasekjen DPP Partai Demokrat, terjadi Jumat, 1 Maret 2019, saat Heri menghadiri pidato Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) PD Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Ballroom Djakarta Theater, Jakarta. Saat pulang ke Yogyakarta, Senin pagi, 4 Maret, Heri yang menjabat Ketua DPD PD Yogyakarta mendengar kabar Andi ditangkap polisi saat sedang memakai narkoba di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, pada Minggu, 3 Maret, malam.

“Pertemuan terakhir saya dengan AA itu terjadi ketika Pidato AHY di Djakarta Theater. Saya sempat ngopi di bawah Djakarta Theater bersama AA, Rocky Gerung, Said Didu, Rachland Nashidik, dan lain-lain lah,” jelas Heri.

Mohon maaf, saya telah membuat marah dan kecewa. Doakan saya bisa memperbaiki salah menuju benar.'

Ferdinan Hutahaean, Ketua Divisi Advokasi dan Hukum PD mengungkapkan, setelah pidato AHY selesai hingga Sabtu malam, Andi masih aktif di grup WhatsApp politikus PD. Andi memberi analisa dan masukan-masukan untuk pemenangan Pemilu 17 April mendatang. “Nah, memasuki hari Minggu, Bang Andi Arief hilang dari radar frekuensi. Saya sempat heran, ‘kok tumben tidak aktif di WA?’ Karena ada beberapa pertanyaan di grup yang ditujukan buat Bang Andi Arief tidak direspon,” ungkap Ferdinan kepada detikX, Selasa 5 Maret.

Akhirnya, Ferdinan mengontak Andi secara pribadi pada Minggu malam. Nomor telepon Andi disebutnya masih aktif, tapi tak kunjung membalas. Ferdinan mengaku berusaha berpikir positif dan tidak aneh-aneh terhadap Andi. “Apalagi berpikir soal narkoba dan cewek, nggak sama sekali. Saya hanya berpikir mungkin dia capek. Paling lagi istirahat.’

Barang bukti alat pengisap sabu dari penangkapan Andi Arief/
Foto : Istimewa

Ternyata keesokan harinya ramai di media bahwa Andi digerebek polisi sedang memakai narkoba. Foto-foto penangkapan Andi di hotel beredar luas. Ferdinan dan para punggawa PD terkejut. Mereka menggelar rapat malam itu juga untuk menyikapi kasus itu dan konferensi pers. “Malam itu juga (sebelum konferensi pers) sebetulnya kami sudah mendatangi Bang Andi Arief, tapi kami belum diperbolehkan bertemu oleh pihak yang berwajib. Katanya masih dalam proses,” imbuh Ferdinan.

Dalam sikapnya, PD menyesalkan kasus narkoba yang dialami Andi. Selama ini, Andi dikenal sebagai sosok yang jauh dari dunia narkoba. Mengenai apakah Andi dijebak, PD enggan berspekulasi. “Kami tidak ingin memperkeruh dan mendambah ricuh terkait kasus ini. Yang jelas saya menyesalkan sekali,” cetusnya.

Dalam penangkapan Andi, polisi memang tidak menemukan sabu di kamar Nomor 14 yang terletak di lantai 12 Hotel Menara Peninsula itu. Namun, polisi mendapati sejumlah alat-alat untuk menghisap barang haram tersebut. Tes urine yang dilakukan terhadap Andi pun positif mengandung amphetamin.

Saat ditangkap, Andi sedang bersama seorang perempuan di dalam kamar hotel. Perempuan itu tengah berada di kamar mandi. Untuk mencari barang bukti, kloset di kamar mandi itu dibongkar polisi. Perempuan yang bersama Andi itu disebut-sebut adalah caleg Partai Nasional Demokrat, Livy Andriany, namun hal itu sudah dibantah. Polisi sendiri hanya menyebut perempuan berpakaian warna pink itu berinisial L.

“Untuk masalah wanitanya, kita lakukan pemeriksaan, kita pisah, saya tidak mau (dia) dipengaruhi atau takut. Tim memeriksa di kamar sebelah. Untuk wanita tes urine negatif," kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Daniyanto, di gedung Badan Narkotika Nasional (BNN), Cawang, Jakarta Timur, Rabu, 6 Maret.

Dari pemeriksaan polisi selama dua hari disimpulkan Andi hanya korban penyalahgunaan narkoba dan polisi merekomendasikan untuk direhabilitasi. Andi dipulangkan setelah menjalani asesmen di BNN. Pemulangan itu menurut polisi merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) No 25 Tahun 2011 Tentang Pelaksanaan Wajib Lapor bagi Pecandu Narkotika.

Ketua Divisi Advokasi dan Hukum PD Ferdinan Hutahaean memberi keterangan pers mengenai sikap PD terhadap kasus narkoba Andi Arief.
Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom

"Sudah diizinkan pulang, untuk sementara merenung dulu,” kata Andi saat dihubungi, Selasa, 5 Maret. Usai keluar dari tahanan, Andi pun langsung berkicau di akun Twitternya. Dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf karena sudah membuat banyak pihak marah.

"Tak ingin berakhir di sini. Kesalahan bisa saja membenamkan, namun upaya menjadi titik awal pencarian jalan hidup dengan kualitas berbeda jika benar-benar tak putus asa. Mohon maaf, saya telah membuat marah dan kecewa. Doakan saya bisa memperbaiki salah menuju benar," kicaunya di akun Twitter @AndiArief__.

Namun, dilepasnya Andi membuat Ketua Gerakan Nasional Anti-Narkotika (Granat) Henry Yosodiningrat kecewa. Henry menilai hal ini menjadi preseden buruk dalam upaya pemberantasan narkoba. Menurut Henry, polisi sebetulnya memiliki alat bukti yang cukup kuat untuk menahan Andi. Selain hasil tes urine yang positif mengandung sabu, di kamar yang ditempati politisi PD itu ditemukan alat isap sabu (bong).

Sedangkan pemulangan pengguna narkoba, sesuai dengan PP No 25 Tahun 2011, kata Henry, adalah untuk mereka yang melaporkan ketergantungan itu kepada BNN. Namun, Andi, katakanlah dia benar atau tidak sebagai pengguna narkoba dan mengalami ketergantungan, tidak pernah melapor ke BNN. “Dan segera setelah ditangkap dites secara laboratoris, hasilnya positif menggunakan sabu dan saat ditangkap ditemukan bukti berupa 'bong' alat untuk nyabu," ucap Henry.

Pasca tertangkap dalam kasus narkoba, Andi mengajukan pengunduran diri dari posisi Wasekjen PD. Pengunduran diri Andi itu pun bakal dilaporkan kepada SBY selaku Ketua Umum PD. “Saya akan segera sampaikan kepada Ketua Umum dan akan ada mekanisme yang berjalan untuk memutuskan permohonan ini," kata Rachland Nashidik, Wasekjen PD, Selasa 5 Maret.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE