INVESTIGASI

Berebut Suara di Tanah Pasundan

Blunder Emak-emak Prabowo-Sandi

“Kami optimistis, dalam sebulan terakhir, perolehan suara 2014 bisa tercapai. Sebab, swing voters biasanya menentukan pilihan pada detik-detik terakhir.”

Foto : Prabowo Subianto (Instagram)

Rabu, 13 Maret 2019

Masyarakat di Tanah Pasundan kini jadi rebutan dua pasangan capres-cawapres yang berlaga pada Pilpres 2019. Wilayah Jawa Barat memang jadi incaran lantaran memiliki jumlah suara paling besar di tingkat nasional dengan jumlah pemilih pada daftar pemilih tetap (DPT) mencapai 32.636.846.

Pada 2014 memang Prabowo Subianto, yang kala itu berpasangan dengan Hatta Rajasa, mampu menaklukkan wilayah tersebut dengan perolehan suara 14.167.381 atau 59,78 persen, mengungguli raihan suara Joko Widodo, yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla, dengan raihan 9.530.315 suara atau 40,22 persen.

Nah, pada Pilpres 2019, Badan Pemenang Daerah (BPD) Jabar Prabowo-Sandiaga Uno mencoba mempertahankan keunggulan tersebut. Apalagi ‘panglima perang’ untuk wilayah itu adalah mantan Gubernur Jawa Barat dua periode Ahmad Heryawan alias Aher.

Menurut juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, sebulan menjelang pencoblosan, Tatar Pasundan masih menjadi lumbung suara paslon nomor 02. Bahkan, sejak 2014, ujar Andre, belum pernah keunggulan suara itu disentuh atau disalip oleh Jokowi sekalipun selisihnya berbeda-beda.

“Jabar ini masih menjadi lumbung suara bagi Prabowo untuk nasional. Kita masih unggul 15 persen. Jadi, kalau Pak Jokowi (Joko Widodo) bilang suaranya turun di Jabar karena hoaks, itu lagi mengigau saja,” ujar Andre saat berbincang dengan detikX, Senin, 11 Maret 2019.

Untuk mempertahankan lumbung suara di Jawa Barat, kata Andre, para relawan secara sukarela melakukan kampanye door to door dari kampung ke kampung. “Jadi kalau ada klaim kubu 01 (Jokowi-Ma’ruf Amin) aktif melakukan door to door, itu hoaks. Sebab, pasangan sebelah hanya bisa memobilisasi dengan menyiapkan transportasi dan lainnya,” tutur Andre.

Jubir BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade
Foto : Zacky/detikcom

Hal senada dikatakan Ketua DPW PKS Jawa Barat Ahmad Syaikhu. Menurutnya, sejak 2014, Jawa Barat memang masih menjadi basis suara Prabowo. Sambutan masyarakat Jabar terhadap mantan Danjen Kopassus itu pun selalu meriah. “Bahkan acara di Bandung kemarin yang dihadiri oleh Pak Prabowo dan itu berbayar tiketnya, masyarakat tetap penuh,” kata Syaikhu, yang saat ini menjadi kandidat Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Tingginya animo masyarakat terhadap Prabowo membuat tren elektabilitas Prabowo diyakini meningkat dari beberapa bulan sebelumnya. Dari survei internal yang dikantongi Syaikhu, pada September 2018 elektabilitas Prabowo dan Jokowi hanya berselisih tipis. Namun, per Maret 2019 selisihnya sudah mencapai dua digit meski belum menyamai perolehan suara Prabowo pada 2014, yang hampir 60 persen.

“Tapi kami optimistis, dalam sebulan terakhir, perolehan suara 2014 bisa tercapai bahkan bisa melampaui. Sebab, berdasarkan pengalaman saya saat ikut Pilkada Jabar, swing voters biasanya menentukan pilihan pada detik-detik terakhir,” begitu kata Syaikhu kepada detikX, Senin, 11 Maret 2019.

Untuk menguatkan basis dukungan, terutama di kalangan milenial, BPN kemudian mengerahkan relawan milenial yang dikomandani Muhammad Alatas. Relawan Melati Putih Indonesia Milenial (MPI Milenial) itu bertugas ‘menyerbu’ daerah-daerah terpencil dan pelosok desa untuk menggaet undecided voters di Jabar.

Pergerakan mereka dilakukan dengan sepeda motor atau Motor Kampanye 02 Pilpres 2019. Motor yang diluncurkan itu dipenuhi gambar pasangan calon guna menjangkau daerah terpencil yang selama ini menjadi kendala dalam berkampanye dan mensosialisasikan program Prabowo-Sandi.

Prabowo saat menyapa pendukungnya di Cianjur, Jawa Barat.
Foto : Syahdan Alamsyah/detikcom

"Motor Kampanye 02 ini rencananya akan masuk ke 15 provinsi di Indonesia. Ini upaya kami sebagai relawan yang harus aktif menyampaikan program kerakyatan Prabowo-Sandi," ujar Ketua MPI Milenial Muhammad Alatas di Prabowo-Sandi Media Center, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu, 3 Maret 2019.

Ada sejumlah syarat bagi relawan yang ingin sepeda motornya di-branding stiker Prabowo-Sandi. Salah satunya adalah kelengkapan administrasi, seperti SIM dan STNK. "Motornya harus lengkap. Dan kami juga akan berikan penyuluhan mengenai safety riding. Karena kami ingin relawan tetap mengedepankan keselamatan berkendara," kata Alatas.

Urusan relawan bergerak secara tertib dan sesuai dengan aturan saat melakukan kunjungan door to door memang saat ini menjadi perhatian khusus BPN. Pasalnya, timses Prabowo pernah dipermalukan oleh aksi emak-emak di Karawang yang melakukan kampanye hitam saat sosialisasi di Karawang, Jabar, beberapa waktu lalu.

Dalam kasus kampanye hitam yang dilakukan Partai Emak-emak Prabowo-Sandi (PEPES) di Karawang, para relawan itu menyebut, jika Jokowi menang, tidak akan ada azan dan pesantren akan ditutup. Namun BPN mengatakan itu merupakan salah satu kreasi relawan di lapangan saja, bukan arahan dari BPN.

Dalam proses kampanye pemenangan, selain menggerakkan kader partai koalisi serta relawan yang tergabung di BPN, relawan PEPES memang cukup menjadi andalan paslon nomor 02. Relawan tersebut tersebar di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Jabar, wilayah Sumatera, Sulawesi, dan beberapa daerah lain.

Buntut kasus Karawang yang dilakukan PEPES kini menjadi bahan evaluasi BPN supaya tidak lagi blunder. “Semua relawan kita kasih arahan terus-menerus. Setiap ada masalah seperti di Karawang kemarin, itu jadi pelajaran politik bagi kita. Kita ingatkan terus-menerus. Seperti kasus tujuh kontainer surat suara kemarin kita ingatkan juga. Kalau ada yang begitu, meskipun isu atau isinya seolah-olah berpihak atau bagus bagi kita, kalau kita tidak tahu kebenarannya, jangan langsung di-forward. Karena bukan sumber beritanya yang kena, tapi yang mem-forward-lah yang kena,” ujar Direktur Relawan BPN Ferry Mursyidan Baldan kepada detikX, Rabu, 13 Maret 2019.

Ferry Mursidan Baldan (kanan)
Foto : Rachman Haryanto/detikcom

Saat ini, menurut Ferry, para relawan yang bergerak di lapangan diinstruksikan lebih memperkuat opini kepada masyarakat kenapa harus memilih Prabowo-Sandi. Relawan tidak boleh menyebarkan hal-hal yang jelek atas paslon 01. Selain itu, relawan yang terlibat dalam aksi door to door itu adalah orang yang benar-benar dikenal. “Kayak misalnya saya kemarin lagi ngobrol sama cewek seksi, teman saya, terus saya dipotret terus di-framing saya lagi duduk sama siapa,” Ferry menambahkan.

Adapun koordinasi BPN dengan para relawan yang bergerak di lapangan dilakukan melalui grup WhatsApp. Komunikasi yang intens diharapkan bisa meluruskan isu negatif yang berkembang di lapangan.

Untuk pertemuan via darat, tim relawan lebih banyak dilakukan di Jakarta, seperti di Rumah Aspirasi di rumah Titiek Soeharto, Seknas, Rumah Juang, Posko Jafras, dan M16. Lokasi tersebut merupakan rumah induk bagi relawan. Sedangkan untuk wilayah Jabar, posko relawan berada di rumah Ketua BPD Harris Bohihoe.

Meski ada sejumlah posko relawan di Jawa Barat, pola kerja para relawan terpusat di Jakarta, yakni rumah induk relawan. “Dari sana kita informasikan jadwalnya kepada relawan-relawan di Jabar melalui koordinatornya. Titik-titiknya kita kasih tahu bahwa Pak Prabowo akan ke sini, Pak Sandi akan ke sini, dari sini akan ke sini. Nah, sudah, begitu saja, mereka para relawan akan menyesuaikan titiknya sendiri,” kata Ferry.

Ferry juga mengatakan, dalam setiap kampanye Prabowo atau Sandi di sejumlah daerah, para relawan yang hadir tidak dimobilisasi. Para relawan dan simpatisan datang secara sukarela. Lantaran fakta tersebut, Ferry meyakini perolehan suara Prabowo-Sandi masih tetap unggul di Jawa Barat.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE