INVESTIGASI

Amanat Pamungkas Rommy

Ketum PPP Rommy ditangkap KPK pekan lalu karena dugaan jual-beli pengaruh untuk jabatan di Kemenag. Tapi ia merasa hanya dijebak.

Romahurmuziy
Foto: (Ari Saputra/detikcom)

Senin, 18 Maret 2019

Tepat pukul 09.00 WIB, Musyafak Noer, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan Jawa Timur, tiba di Hotel Bumi Surabaya, Jalan Basuki Rahmat. Dia datang untuk menjemput Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Rommy menuju Bandara Juanda, Jumat, 15 Maret 2019.

Namun, setelah satu jam menunggu di restoran yang berada di dekat lobi hotel, sang ketua umum tidak kunjung terlihat. Padahal Musyafak sudah janjian di tempat tersebut. Karena sudah lama menunggu, dia meminta stafnya bertanya kepada pihak hotel.

Ternyata yang ditunggu sudah dibawa ke Polda Jawa Timur karena operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. “Saya sudah sampai di hotel untuk menjemput Mas Rommy ke Bandara. Ternyata di hotel sudah ada kejadian yang tidak saya duga sebelumnya,” ujar Musyafak kepada detikX.

Ternyata, sebelum Musyafak tiba, terjadi aksi dramatis yang melibatkan bosnya di PPP itu. Ada aksi pengejaran dan teriakan nan menegangkan menyertai penangkapan Rommy oleh tim KPK pagi itu.

Romahurmuziy setelah diperiksa KPK
Foto: Agung Pambudhy/detikcom


Itu amanah terakhir dari Mas Rommy untuk saya. Eh, terus ada kasus ini. Saya kaget, pusing, yo, capek. Pokoknya campur aduk kayak rujak cingur."

Sejumlah saksi mata, salah satunya petugas penjaga JPO (jembatan penyeberangan orang) yang berada di depan Hotel Bumi Surabaya, menceritakan, ada beberapa orang yang keluar dari tempat parkir di samping kiri hotel. “Pukul 08.00 WIB, ada orang keluar dari hotel. Keluar dari lobi. Ada ramai-ramai gitu," kata saksi mata.

Saksi yang enggan menyebutkan namanya itu mengatakan, dari lokasinya yang berada di seberang jalan, terlihat ada dua orang yang ditangkap. Sementara itu, ada sekitar lima orang yang melakukan penangkapan.

Dia menyebut, saat ditangkap, salah satu orang tersebut dipegang pada kedua tangannya. Sedangkan satu orang lainnya terlihat dipiting atau dijepit lehernya menggunakan tangan. Namun beberapa orang yang menangkap tak mengenakan seragam. "Ada dua orang yang ditangkap. Satunya dikekep, satunya dipegang tangannya," lanjutnya.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dalam jumpa pers di KPK mengatakan Rommy tengah sarapan di restoran ketika petugas KPK datang. Petugas meminta tolong kepada seseorang untuk memanggil Rommy keluar. Tapi, begitu tahu yang ingin menemuinya adalah penyidik KPK, Rommy sempat coba menghindar.

Rommy pun kemudian dibawa ke kantor KPK setelah dilakukan pemeriksaan di Mapolda Jawa Timur. Keesokan harinya, salah satu penasihat Tim Kampanye Nasional (TKN) Capres-Cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin tersebut ditetapkan sebagai tersangka jual-beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag).

Lokasi penangkapan Rommy di pintu keluar Hotel Bumi, Surabaya
Foto: Hilda Meilisa/detikcom

Laode dalam jumpa pers pada Sabtu, 16 Maret, membeberkan KPK menerima informasi dari masyarakat pada Jumat, 15 Maret, sekitar pukul 07.00 WIB, akan terjadi penyerahan uang dari Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi kepada Rommy di Hotel Bumi Surabaya.

Setelah tim mendapatkan bukti adanya dugaan penyerahan uang, pada pukul 07.35 WIB tim penyidik KPK mengamankan Muafaq dan sopirnya bersama Abdul Wahab di Hotel Bumi Surabaya. Dari Muafaq, penyidik KPK mengamankan uang Rp17,7 juta dalam amplop berwarna putih.

Setelah itu, penyidik KPK mengamankan Amin Nuryadin, asisten Rommy, yang memegang sebuah tas kertas tangan berlogo salah satu bank pelat merah yang berisi duit Rp 50 juta. Dari Amin juga disita uang Rp 70,2 juta. Total uang yang disita dari Amin senilai Rp 120,2 juta.

Amin diketahui sebagai perantara uang suap dari Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin kepada Rommy. Setelah penangkapan Amin, penyidik KPK pun bergegas menangkap Rommy, yang berencana kabur di kawasan Hotel Bumi pada pukul 07.50 WIB.

Selanjutnya, giliran Haris Hasanuddin yang masih berada di kamar Hotel Bumi Surabaya yang dicokok KPK. Di kamar itu disita uang Rp 18,85 juta. Kemudian semua pihak dibawa ke Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Secara keseluruhan, menurut Laode, total uang yang disita dari kegiatan tangkap tangan tersebut berjumlah Rp 156.758.000. Dia menambahkan, transaksi suap itu merupakan bagian dari suap yang sudah terjadi beberapa kali sebelumnya.

Pada hari penangkapan, penyidik KPK juga mendatangi Kantor Kementerian Agama dan menyegel sejumlah ruangan, termasuk ruang kerja Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan ruangan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama M Nur Kholis Setiawan.

Laode menjelaskan Haris dan Muafaq diduga melakukan beberapa kali komunikasi dengan Rommy dan pihak-pihak lain untuk mengurus proses seleksi jabatan di Kemenag yang dibuka pada akhir tahun lalu. Pada 6 Februari 2019, Haris diduga mendatangi rumah Rommy dan menyerahkan uang Rp 250 juta terkait seleksi jabatan untuk Haris sesuai dengan komitmen sebelumnya.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kepala Kantor Kemenag Jawa Timur, Haris Hasanuddin
Foto : Faiq Hidayat/detikcom

Pada pertengahan Februari 2019, pihak Kemenag menerima informasi bahwa Haris tidak termasuk dalam tiga nama yang diusulkan kepada Menteri Agama. Sebab, Haris tidak lulus seleksi karena diduga pernah mendapat sanksi kedisiplinan.

Karena kongkalikong pihak-pihak tertentu, nama Haris tetap lolos dalam proses seleksi jabatan tersebut. Alhasil, pada awal Maret 2019, Haris dilantik oleh Lukman menjadi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur.

Setelah sukses mendapat jabatan, Haris kemudian berkomunikasi dengan Muafaq pada 12 Februari untuk dipertemukan dengan Rommy. Dan, pada hari yang ditentukan, 15 Maret 2019, Haris dan Abdul Wahab bertemu lagi dengan Rommy untuk penyerahan uang terkait dengan kepentingan seleksi jabatan untuk Muafaq sebagai Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik.

Soal aksi suap yang melibatkan Rommy serta pejabat Kemenang di Jawa Timur, Musyafak mengaku tidak tahu-menahu. Sebab, sepengetahuannya, Rommy berada di Jawa Timur pada 13-15 Maret untuk memenuhi undangan sebagai pembicara selaku anggota DPR RI, bukan acara partai.

“Yang punya gawe (kerja) itu Kanwil Depag Jatim. Nama acaranya  ‘Halaqoh Ulama’. Nah, yang menjadi narasumber utamanya itu Mas Rommy. Awal acara itu di Malang, kemudian di Blitar, dan terakhir di Kediri. Terakhir dari Kediri itu meluncur ke Surabaya untuk bermalam di Hotel Bumi Surabaya,” jelas Musyafak.

Dia mengaku terakhir bertemu dengan Rommy pada Kamis, 14 Maret, sekitar pukul 23.00 WIB. Musyafak mengaku mengantarkan Rommy sehabis jadi pembicara di Kediri ke Surabaya, yakni ke Hotel Bumi Surabaya. 

“Karena kebetulan rumah saya itu di Surabaya. Saya mengantar berbeda mobil. Sesampainya di hotel itu, saya sempat mengantarkan sampai depan meja resepsionis,” terang Musyafak.

Sebelum berpisah, imbuh Musyafak, Rommy sempat mengajak mengobrol di lobi hotel. Namun Musyafak menolak dengan alasan sang ketua umum sudah terlihat lelah dan besok siang harus terbang ke Jakarta.

Meski begitu, Musyafak sempat ngobrol panjang-lebar soal politik dengan Rommy saat di Hotel Bukit Daun, Kediri. Saat itu Rommy sudah kelihatan lelah. Matanya bengkak kelihatan kurang tidur. Rommy sempat mengeluh kepada Musyafak soal aktivitasnya yang padat menjelang pilpres dan pileg.

Baliho Rommy di Jalan S Parman yang disegel Satpol PP. Menjelang pemilu, Rommy termasuk salah satu politikus muda yang banyak memajang baliho kampanye.
Foto: Rifkianto Nugroho/dertikcom

“Saya capek nih, Mas. Aku keliling terus, jadi kurang tidur,” begitu kata Rommy seperti yang diucapkan Musyafak.

Selain mengeluh capek, Rommy mengamanatkan optimalisasi upaya memenangkan Jokowi-Ma’ruf di Jawa Timur dan berjuang sekuat tenaga untuk pileg. Targetnya, pertama, bagaimana Jokowi bisa menang dan PPP bisa lolos 4 persen parliamentary threshold.

“Itu amanah terakhir dari Mas Rommy untuk saya. Eh, terus ada kasus ini. Saya kaget, pusing, yo capek. Pokoknya campur aduk kayak rujak cingur. Wis ora karuan, macem-macem-lah,” ujar Musyafak dengan nada sedih.

Yang jelas amanat terakhir Rommy semakin berat untuk dijalankan mengingat waktu pencoblosan tinggal 30 hari lagi tapi ketua umumnya terkena kasus korupsi. Meski begitu, Musyafak berharap PPP tetap konsisten dan tidak terpecah-pecah lagi.

Rommy dalam suratnya yang diberikan kepada media mengatakan meminta maaf kepada keluarga dan TKN Jokowi-Ma’ruf. Kejadian ini sudah menjadi risiko dirinya sebagai public figure. Namun, terkait dengan kasusnya, Rommy merasa dijebak.

"Saya merasa dijebak dengan sebuah tindakan yang tidak pernah saya duga, saya pikirkan, atau saya rencanakan. Bahkan firasat pun tidak. Itulah kenapa saya menerima sebuah permohonan silaturahmi di sebuah lobi hotel yang sangat terbuka dan semua tamu bisa melihatnya. Ternyata niat baik ini justru menjadi petaka," ujar dia.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE