INVESTIGASI

Di Balik Debat Cawapres

Formula ‘Nyuwun Sewu’ Sandiaga Uno

Sandi tak goyah ‘dikompori’ untuk menyerang Ma’ruf Amin. Putri Bung Hatta, Meutia Hatta, juga digaet sebagai pakar.

Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Senin, 18 Maret 2019

“San, kamu kan anak muda. Jadi kalau ada kesempatan menyerang, menyerang saja.” Muhammad Taufik mencoba membujuk Sandiaga Uno. Malam itu, 21 Februari 2018, keduanya bertemu. Debat calon presiden antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo baru empat hari lewat. Serangan Jokowi terhadap Prabowo soal lahan seluas 340 ribu hektare di Kalimantan dan Aceh masih membuat kubu capres-cawapres Prabowo-Sandi geram.

Karena itu, Taufik menginginkan Sandi bersikap garang terhadap Ma’ruf Amin, pasangan Jokowi, dalam debat cawapres yang digelar pada 17 Maret. Sandi pun mengaku sedang memikirkan bagaimana cara menghadapi Ma’ruf dalam debat. Sebab, Ma’ruf adalah kiai dan ulama besar yang harus dihormati.

“Nggak bisa, San, dengan ulama itu mestinya biasa berdebat,” kata Taufik yang juga Ketua Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo-Sandi itu kepada Sandi.

“Nggak, Bang. Ini harus kita hargai,” ujar Sandi keukeuh.

Taufik sebetulnya maklum Sandi adalah orang muda yang penuh sopan santun, sehingga tidak bakal Sandi mau mempermalukan lawan debat. Prabowo sendiri juga tak menyerang balik Jokowi dengan alasan tak mau membuat Jokowi malu, apalagi Jokowi seorang presiden. Namun Taufik tetap berpesan agar Sandi mencari formula yang pas dalam menghadapi Ma’ruf.

“Saya bilang cari formulanya. Yang penting mesti ada ini... (gereget),” ujar Taufik.

Ketua KPU Arief Budiman (tengah) bersama paca cawapres dan moderator sesaat sebelum debat dimulai.
Foto : Grandyos Zafna/detikcom

Tapi pendirian Sandi tak goyah sampai beberapa hari menjelang debat cawapres berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta. Sandi tetap tak bisa ‘dikompori’ untuk bersikap ofensif melawan Ma’ruf. Bahkan, menurut Faransyah Agung Jaya, juru bicara debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Sandi bilang tak akan membalas seandainya diserang lebih dulu oleh Ma’ruf.

“Intinya nggak akan menyerang. Bang Sandi sudah ada persiapan khusus soal itu. Nah, tapi kalau dari sebelah menyerang duluan bagaimana, ya? Info terakhir dari tim tetap kita lebih banyak menyampaikan data di lapangan,” kata Faransyah saat dihubungi detikX, Kamis, 14 Maret.

Beberapa saat sebelum debat bertema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan sosial-budaya semalam itu, Sandi bilang akan menghadapi Ma’ruf sebagaimana adab dan kebiasaan bertemu dengan kiai atau ulama berpengaruh. Dan selama debat berlangsung, memang tak sekali pun ia melontarkan argumen yang menyudutkan Ma’ruf. Bahkan eks Wakil Gubernur Jakarta itu selalu memulai bicara dengan menyebut “pak kiai”, “yang kita muliakan”, kepada Ma’ruf sambil menundukkan kepalanya.

“Menambah jumlah lembaga yang menangani bidang riset, menurut hemat kami, nyuwun sewu (bahasa Jawa: mohon maaf) menambah birokrasi. Bagi kami, kuncinya kolaborasi,” kata Sandi saat menanggapi Ma’ruf tentang penguatan riset di Indonesia dalam debat malam itu.

Seperti dikatakan Faransyah, Sandi pun memaparkan uraian dan menjawab pertanyaan Ma’ruf berdasarkan pengalamannya selama blusukan ke daerah-daerah. Sandi bilang, selama tujuh bulan terakhir, ia mengunjungi 1.500 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia menerima banyak keluhan dan lalu berusaha menciptakan solusinya.

“Saya sampaikan juga data survei soal brand awareness OK OCE. Angkanya 72 persen warga Indonesia itu minimal pernah dengar apa itu OK OCE. Makanya dalam debat mungkin akan banyak bicara OK OCE.”

Faransyah Agung Jaya, juru bicara debat Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno
Faransyah Agung Jaya 
Foto: Gresnia Arela F

Masalah kesehatan, misalnya, Sandi mengungkap kasus Liswati di Sragen, yang pengobatannya terpaksa disetop karena Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tidak menanggung biayanya. BPJS juga terbelit tunggakan pembayaran ke sejumlah rumah sakit. Dalam 200 hari pertama jika memenangi pilpres, Sandi berjanji bakal mengatasi akar masalah BPJS itu.

“Kita pastikan defisit ditutup dengan penghitungan melibatkan putra-putri terbaik bangsa. Tenaga kesehatan harus dibayar tepat waktu, obat harus dibayar tepat waktu, tidak boleh ada antrean panjang,” kata Sandi dalam debat yang dipandu Alfito Deannova dan Putri Ayuningtyas itu.

Sandi mengungkapkan, sekitar 61 persen dari 7 juta pengangguran di Indonesia adalah angkatan muda, khususnya lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Hal itu karena tidak adanya link and match antara sekolah dan penyedia kerja. Untuk menjawab itu, Sandi sudah meluncurkan Rumah Siap Kerja untuk memudahkan mereka mendapat pekerjaan yang diinginkan.

“Seandainya mereka menjadi wirausaha, mereka bisa bergabung dengan program OK OCE. Di Jakarta, OK OCE sudah bisa menurunkan pengangguran sebanyak 20 ribu di tahun 2018. Kami melihat hasil yang nyata dan sudah mendapat review yang positif,” ujar Sandi pamer.

Karena itu, Faransyah melanjutkan, persiapan debat cawapres Sandi dilakukan sejak pendiri PT Saratoga Investama Sedaya itu pergi ke daerah-daerah. Ada dua asisten Sandi yang mendampingi dan mencatat setiap permasalahan yang didapat ketika kunjungan itu.

Faransyah sendiri mengaku sebetulnya juga diminta Sandi selalu melekat, terutama ketika bertemu dengan anak-anak muda yang tertarik berwirausaha. Faransyah, yang merupakan Ketua Umum Perkumpulan OK OCE, diminta memberikan update perkembangan OK OCE, yang diproyeksikan bakal menjadi wadah kegairahan berwirausaha anak muda itu.

Sandiaga Uno dalam debat calon wakil presiden Minggu 17 Maret 2019
Foto : Grandyos Zafna/detikcom

“Saya sampaikan juga data survei soal brand awareness OK OCE. Angkanya 72 persen warga Indonesia itu minimal pernah dengar apa itu OK OCE. Makanya dalam debat mungkin akan banyak bicara OK OCE,” kata Faransyah.

Namun, selain mengangkat permasalahan di tingkat bawah sebagai materi debat, Sandi menerima masukan dari para pakar yang dikoordinasikan oleh Sudirman Said. Pakar itu di antaranya ekonom Kwik Kian Gie, yang memang sudah lama menjadi mentor Sandi. Juga mantan Menteri Kemaritiman Rizal Ramli.

“Pertemuan itu selalu ada. Itu tanggung jawab Pak SS (Sudirman Said)-lah. Ada para ahli yang sudah diminta kasih sumbangsih pemikiran atau ketemu langsung. Terakhir setahu saya bertemu Ibu Meutia Hatta,” tutur Yuga Aden, anggota Tim Media Center BPN, kepada detikX, 14 Maret.

Seusai debat, Sandi berharap debat yang baru saja berlangsung bisa menjadi penentu pilihan masyarakat. Prabowo-Sandi memilih berfokus untuk mencari solusi terhadap masalah yang sedang dihadapi masyarakat. Sandi enggan berkomentar terkait penampilannya dan membiarkan masyarakat memberikan penilaian.

“Saya hanya bersyukur semua lancar. Biarkan masyarakat yang menilai dan saya ucapkan terima kasih kepada Pak Kiai karena sudah menjadi mitra yang luar biasa malam ini. Kita bersyukur format yang terbaru dari KPU ini bisa menampilkan sesi yang informatif dan kita harapkan ini bisa menjadi format di debat-debat berikutnya," ujarnya.


Reporter: Ibad Durohman
Penulis/Editor:Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE