INVESTIGASI

Partai Terancam Tak Lolos

Senja Partai Hanura

Partai Hanura juga menunggu nasibnya. Hasil survei, baik di kalangan internal partai maupun lembaga survei lain, menunjukkan Hanura belum menembus parliamentary threshold 4 persen.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 26 Maret 2019

Kabar tidak sedap melanda Partai Hanura hanya beberapa hari menjelang pencoblosan Pemilu Legislatif (Pileg) 2019. Petinggi partai yang dinakhodai oleh Oesman Sapta Odang (OSO) itu dikabarkan mundur.

Petinggi partai yang mundur adalah Saleh Husin. Menteri Perindustrian periode 2014-2016 ini sebelumnya menjabat salah satu Wakil Ketua Umum. Dimintai konfirmasi detikX, Saleh Husin pun membenarkan dia sudah tak lagi berkecimpung di Hanura.

Namun, menurut Saleh Husin, langkahnya mundur dari Hanura bukan baru-baru ini, melainkan sudah sejak Desember 2018. “Saya kan sudah tidak lagi di partai. Sudah lama. Sejak Desember 2018 resminya,” kata Saleh Husin kepada detikX, Senin, 25 Maret 2019.

Sayang, Saleh Husin enggan mengungkapkan mengapa dirinya hengkang dari partai yang berdiri pada 2006 itu. Yang jelas, mundurnya Saleh menambah daftar panjang fungsionaris partai besutan Menko Polhukam Wiranto tersebut yang mengundurkan diri.

Massa Partai Hanura saat berunjuk rasa di KPU, 21 Januari 2019.
Foto: Lamhot Aritonang/detikcom


Kita masih tetap berjuang, kok. Kita tetep optimistis lolos Pemilu 2019. Memang ada beberapa caleg yang potensial berpindah. Saya kira peluang kita tetap sama saja ya, tetap bisa lolos.”

Sebelumnya, pada pertengahan Juli 2018, setidaknya tujuh anggota DPR dari Hanura loncat ke parpol lainnya, yakni ke Partai NasDem dan Partai Amanat Nasional (PAN). Sebut saja Dossy Iskandar Prasetyo, Dadang Rusdiana, Rufinus Hotmaulana, Fauzi Amro, dan Arif Suditomo, yang memilih hijrah ke NasDem. Sementara itu, Mukhtar Tompo dan Sarifuddin Sudding memilih bergabung dengan Partai Amanat Nasional.

Faktor OSO-lah--yang dianggap tidak mempunyai sifat pemimpin--yang dituding sebagai penyebabnya. OSO dinilai menjadikan Hanura layaknya perusahaan pribadi alias tidak mengacu pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) partai. Pemecatan dan pergantian pengurus dilakukan sesuka hati, bukan berdasarkan AD/ART.

Hal itu mendorong kubu Sudding, yang waktu itu masih menjabat sebagai Sekjen Hanura, mengajukan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan OSO. Langkah itu didukung oleh 27 DPD dan 400 DPC Hanura. Mereka juga memecat OSO dari jabatan ketua umum.

"Pelanggaran cukup banyak dan kami memandang, setelah dipaparkan tadi, salah satunya memberhentikan DPD, ada pengganti yang tidak melalui mekanisme. Cukup banyak," kata Dossy mengenai pengajuan mosi tidak percaya itu, 15 Januari 2018.

Di tengah kondisi internal seperti itu, Hanura kini harus dihadapkan pada kemungkinan buruk tak lolos ke Senayan dalam Pileg 2019. Dari sejumlah survei yang dilakukan sejumlah lembaga, Hanura menjadi salah satu parpol yang diprediksi gigit jari dalam pemilu legislatif kali ini.

Menurut hasil sejumlah lembaga survei, perolehan suara Hanura hanya berada di kisaran nol koma hingga 1 persen saja. Adapun untuk dapat mendudukkan wakilnya di Senayan, parpol wajib memenuhi parliamentary threshold 4 persen.

Prediksi nasib Hanura misalnya tergambar dalam survei Jaringan Survei Indonesia (JSI) yang dirilis Senin, 25 Maret. Dari survei JSI yang dilakukan pada 3-8 Maret 2019, dengan metode multistage random sampling terhadap 1.220 responden, Hanura termasuk dalam sembilan parpol yang diprediksi tidak lolos ke Senayan karena hanya memperoleh 0,9 persen suara.

Oesman Sapta Odang (berbatik) bersama para fungsionaris Partai Hanura dalam acara Rapat Umum Pemenangan Hanura, 6 Februari 2019.
Foto: Lamhot Aritonang/detikcom

Hasil yang tidak jauh berbeda juga tergambar dalam survei Vox Populi Research Center, yang keluar pada hari yang sama. Dalam survei yang digelar pada 5-15 Maret 2019 menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jumlah sampel 1.200 responden yang dipilih secara acak bertingkat mewakili 34 provinsi itu, Hanura muncul dengan perolehan suara 1,1 persen.

Begitu pula dengan hasil survei Charta Politika, yang digelar pada 1-9 Maret 2019. Survei yang dilaksanakan dengan wawancara tatap muka terhadap 2.000 responden di 34 provinsi itu mencatat Hanura hanya meraih 0,8 persen. Atau bisa dibilang Hanura merupakan partai peserta Pemilu 2014 yang nasibnya terancam seperti partai-partai debutan, seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Perindo, Garuda, dan Berkarya.

Meski begitu, Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir masih optimistis partainya bakal lolos seperti pada Pemilu 2014. “Kita masih tetap berjuang, kok. Kita tetap optimistis lolos Pemilu 2019. Memang ada beberapa caleg yang potensial berpindah. Saya kira peluang kita tetap sama saja. Tetap bisa lolos,” kata Inas kepada detikX, pekan lalu.

Berdasarkan hasil survei internal, Inas mengakui Hanura memang baru mendapat 3 persen, sehingga masih kurang 1 persen untuk mencapai ambang batas parlemen. Sedangkan waktu yang tersisa tinggal tiga minggu. Untuk itu, Hanura sangat bertumpu pada para calegnya di daerah, yang merupakan tokoh di daerah mereka masing- masing.

“Hanura di pusat dan di daerah itu teranomali. Karena jumlah anggota DPRD Hanura jauh lebih banyak ketimbang di DPR-RI. Sekarang saja kursi Hanura di DPRD provinsi dan kabupaten/kota jauh lebih banyak dibandingkan dengan PKS. Tapi di DPR-RI lebih banyak PKS,” beber Inas.

Menurutnya, selama 10 tahun Hanura sudah punya basis dukungan loyal, seperti Banten, Sumatera Utara, Jawa Timur, serta Jawa Barat. Sementara itu, untuk urusan segmen, Inas mengklaim banyak didukung generasi milenial dan kelompok usia 41-50 tahun. Banyaknya kalangan milenial itu karena Hanura memasang caleg-caleg yang berusia 20- an tahun.

Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir
Foto: dok. pribadi

“Berdasarkan hasil survei internal kita, selain generasi Z dan usia matang, tidak sedikit juga pemilih dari generasi milenial yang menjadi simpatisan atau basis suara Hanura. Paling banyak itu di DKI Jakarta,” terang Inas.

Karena alasan itu, Inas pun sesumbar Hanura bisa meraih 20 kursi di DPR alias naik empat kursi dari perolehan kursi Pemilu 2014, yang meraih 14 kursi di DPR atau sekitar 6 juta suara.

Sementara itu, Sekjen Hanura Herry Lontung Siregar menyatakan, meski terdapat konflik internal dan beberapa fungsionaris meninggalkan partai, Hanura tetap partai yang solid sejauh ini. "Ya, biasa itu, sih. Konflik internal itu jadi power. Dengan ada itu jadi ada semangat baru, kan begitu,” ujar Herry kepada detikX.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman
Editor: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE