INVESTIGASI

Partai Terancam Tak Lolos

Tetap Parnoko Meski Jual Nama Soeharto

Berkarya sudah ke sana kemari 'menjual' nama Soeharto. Perindo menyebar ribuan gerobak dan ambulans ke seluruh Indonesia. Hasilnya?

Spanduk dan baliho Rapat Pimpinan Nasional ke III Berkarya di Hotel Lorin, Solo, Jawa Tengah.

Foto : Feri Agus Setyawan/CNN Indonesia

Rabu, 27 Maret 2019

Harap-harap cemas kini menyelimuti partai-partai debutan baru. Betapa tidak. Dari sejumlah hasil survei, tidak ada satu pun partai pendatang baru yang bisa meloloskan kadernya ke Gedung DPR RI karena tidak bisa mencapai ambang batas parlemen yang dipatok 4 persen.

Tengok saja hasil survei yang dilakukan Konsep Indonesia (Konsepindo) terhadap 1.200 responden, dua pekan lalu. Bahkan, menurut Direktur Konsepindo, Veri Muhlis Arifuzzaman, hanya empat partai yang lolos ke parlemen di Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 kali ini.

Sedangkan partai baru seperti Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), serta Partai Berkarya angkanya berada bawah satu persen alias parnoko (partai nol koma).

Meski begitu, partai-partai itu tetap optimistis hasil perolehan suara mereka bisa menjungkirbalikkan hasil survei yang selama ini beredar. “Kita lihat saja kejutannya bagaimana 17 April nanti. Kita selama ini dianggap nggak lolos. Lihat saja kejutannya nanti,” tandas Ketua DPP Partai Berkarya, Vasco Ruseimy, kepada detikX, pekan lalu.

Baca Juga : Senja Partai Hanura

Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya, Tommy Soeharto.
Foto : Andry Novelino/CNN Indonesia


Golkar banyak loyalisnya Pak Harto. Selama ini banyak orang yang memilih Golkar karena dianggap menjalankan manifesto Pak Harto dan Orde Baru. Tapi sekarang kan sudah ada Berkarya yang murni membawa manifesto politiknya Pak Harto.”

Pria berusia 32 tahun itu mengaku sudah capek dengan prediksi-prediksi yang disampaikan sejumlah lembaga survei selama ini, yang menyatakan partai besutan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto selalu masuk kategori parnoko.

Ia tetap yakin partainya bisa mengantarkan sejumlah calegnya ke Senayan lantaran dari survei internal yang telah dikantongi hasilnya cukup jauh dari hasil survei yang sudah dirilis beberapa lembaga survei.

“Kita masih yakin lolos PT (Parliamentary Threshold). Kan kita sama-sama paham lah kalau survei yang selama ini bisa diatur-atur sesuai kepentingan masing-masing,” ujar Vasco tanpa menyebut berapa prediksi suara yang didapat dari survei internalnya.

Dijelaskan Vasco, yang maju dari daerah pemilihan Jakarta II, itu, dalam kampanye terbuka yang tinggal beberapa pekan ini, Berkarya masih konsisten ‘menjual’ nama Presiden ke-2 RI, Soeharto. Sebab, mereka menganggap Soeharto sampai saat ini masih banyak penggemar dan pengagumnya. Dari hasil pengamatan tim survei internal, lanjut Vasco, jaringan yang merindukan era Pak Harto relatif tersebar rata  di seluruh provinsi.

Segmen lain yang menjadi incaran Berkarya adalah basis suara Partai Golkar yang punya historis dengan Soeharto. Dan selama ini banyak pemilih Golkar yang merupakan pengagum Soeharto. Nah, dengan adanya Berkarya, diharapkan para pengagum Soeharto itu akan mengalihkan dukungan ke partai itu.

“Golkar banyak loyalisnya Pak Harto. Selama ini banyak orang yang memilih Golkar karena dianggap menjalankan manifesto Pak Harto dan Orde Baru. Tapi sekarang kan sudah ada Berkarya yang murni membawa manifesto politiknya Pak Harto,” ujar Vasco yang merupakan mantan Wakil Ketua Umum DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia, organisasi underbow Golkar ini.

Sekjen Partai Perindo Ahmad Rofiq
Foto : Marlinda/detikcom

Apalagi sang ketua umum, yang merupakan anak kandung Soeharto dalam beberapa bulan sibuk belakangan berkeliling ke sejumlah wilayah di Indonesia. Begitu pula dengan Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto. Kedua anak Soeharto tersebut dianggap Vasco menjadi magnet kuat untuk merengkuh kembali para pengagum Soeharto.

Kekuatan brand Berkarya sebagai partai yang mengusung manifesto Orde Baru dan Soeharto dialami langsung Vasco dalam setiap kunjungan ke dapilnya. “Kalau saya ke dapil warga selalu bilang''wah ini Partai Berkarya. ‘Enak Zaman Pak Harto,” begitu kata Vasco.

Selain menyasar para pengagum Soeharto dan Orde Baru, Berkarya juga membidik segmen baru, yakni kalangan milenial. Mereka akan diberi gambaran akan nilai-nilai postitif era Orde Baru. Bagi Vasco memperkenal Orde baru ke generasi milenial bukan sesuatu yang usang. Dia mencontohkan PDI Perjuangan yang selama ini ‘menjual’ Soekarno dan Orde Lama-nya.

Sedang Perindo yang didirikan pengusaha Hary Tanoesoedibjo juga optimistis lolos dengan elektabilitas di atas empat persen. “Suara Perindo punya kesamaan dalam hal hasil survei yang disampaikan oleh Pak Presiden waktu datang di acara Rakornas yakni sebesar 4,7 persen,” jelas Sekjen Perindo Ahmad Rofiq kepada detikX, pekan lalu.

Rofiq menduga perbedaan hasil survei internal dengan lembaga survei lantaran berbeda waktu survei yang dilakukan. Dia mencontohkan dari hasil survei yang dirilis Lingkaran Survei Indonesia di bulan Februari, Perindo diprediksi meraih  3,6 persen. Tapi sebulan setelah itu dari hasil survei internal yang dilakukan Perindo ada kenaikan sebesar 1 persen. “Partai kita ini memang baru tapi di dalam beberapa  survei suara kita bisa bersaing dengan Hanura, atau NasDem dan PPP yang sudah existing,” sesumbar Rofiq.

Penetrasi yang intensif ke basis masyarakat dianggap Rofiq sangat berpengaruh terhadap capaian tersebut. Apalagi Perindo sudah empat tahun rajin berkampanye baik lewat media milik Hary Tanoe maupun membagikan gerobak usaha serta ambulans.

Pelepasan 37 ambulans itu merupakan upaya Partai Perindo

Partai Perindo memberikan 350 gerobak kepada para pedagang se-Jabodetabek.

“Kita punya 350 lebih ambulans yang tersebar di seluruh Indonesia. Itu hadir pada tahun pertama Perindo berdiri. Bayangkan 350 ambulans kita sediakan di saat partai Perindo itu belum lolos verifikasi,” ujar Rofiq.

Untuk keperluan tersebut Rofiq mengakui banyak dana yang dikeluarkan, baik untuk pengadaan ambulans, bazar, gerobak, dan berbagai macam promosi partai. Belum lagi biaya untuk membeli properti untuk seluruh DPD dan DPC Perindo di seluruh Indonesia.

Banyaknya biaya yang dikeluarkan Perindo, kata Rofiq, untuk menujukkan jika partainya serius untuk eksis, bukan hanya musiman. Karena target mereka bukan sekadar lolos ke Senayan, melainkan meraih suara hingga double digit.

“Jadi lolos PT itu bukan menjadi target atau agenda kita. Itu sebuah keniscayaan, itu sesuatu yang given. Kami bekerja bukan untuk lolos tapi untuk menang,” begitu kata Rofiq.

Adapun, untuk segmen pemilih Perindo, lebih banyak menyasar masyarakat paling bawah, seperti kelompok petani, nelayan, dan buruh. Bukti Perindo serius menyasar kalangan wong cilik antara lain dengan membagikan ribuan gerobak usaha.

Meski begitu, sampai saat ini Perindo masih belum bisa menentukan wilayah yang jadi basis massa partainya. Padahal peta basis massa sangat penting untuk mengukur potensi suara yang bisa didapat.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE