INVESTIGASI

Kampanye Terbuka

Infiltrasi Sandi di Kandang Banteng

“Kalau Prabowo yang kita dorong ke basis Jokowi, tentu akan resisten karena bakal ada penolakan secara keras.”

Kampanye Prabowo Subianto di kawasan Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (29/3/2019)
Foto: Sigid Kurniawan/Antara Foto

Selasa, 2 April 2019

Infiltrasi ke markas lawan menjadi tugas Sandiaga Uno, cawapres pasangan Prabowo Subianto. Selama kampanye terbuka, Sandi bertugas mendatangi kantong suara capres petahana Joko Widodo, di antaranya sejumlah kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bahkan Sandi mengawali kampanye terbuka pada 24 Maret 2019 di Sragen, Jawa Tengah. Sandi menjumpai ribuan pemilih milenial yang berjubel di gedung Sasana Manggala Sukowati. Sandi ikut melenggak-lenggok di acara fashion show yang melengkapi gelaran YES 2019.

“Untuk kampanye akbar di wilayah basis lawan, kita dorong Bang Sandi yang turun. Makanya kampanye akbar kemarin itu Bang Sandi menyasar Jateng di Sragen, yang itu tentu basis merah (PDI Perjuangan) banget,” kata juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean, kepada detikX pekan lalu.

Sementara itu, Prabowo bertugas memperkuat basis di daerah yang identik dengan pendukungnya, seperti wilayah Sulawesi, Jawa Barat, dan Sumatera. Pembagian tugas tersebut demi efektivitas penjaringan suara. Sandi, yang berkampanye secara soft, masuk ke wilayah ‘musuh’ untuk menggaet kalangan emak-emak, milenial, dan swing voters.

Khusus di Jawa Timur, di wilayah Mataraman, kita masih tertinggal. Kita akan memaksimalkan figur Pak Soekarwo dan Mas Ibas di wilayah itu.”

Andre Rosiade, juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga

Sandiaga Uno saat berkampanye di Jakarta Timur
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

“Kalau Prabowo yang kita dorong ke basis Jokowi, tentu akan resisten, karena bakal ada penolakan secara keras. Makanya kita dorong figur baru, seperti Bang Sandi, yang masuk ke wilayah pendukung Jokowi,” tutur Ferdinand.

Namun strategi yang telah dirancang BPN itu tidak sepenuhnya berjalan mulus. Pasalnya, ‘serangan’ ke wilayah Jawa Timur tidak bisa melibatkan mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena berada di Singapura mendampingi istrinya, Ani Yudhoyono, yang sakit. Alhasil, mesin pendulang suara di wilayah Jawa Timur, terutama kawasan Tapal Kuda, seperti Banyuwangi, Situbondo, Probolinggo, dan Jember, menjadi rawan.

Meski begitu, BPN punya strategi cadangan, yakni melibatkan Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas untuk mengisi pertempuran di Jawa Timur bersama mantan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Soekarwo alias Pakde Karwo memang tidak bisa berperang secara terbuka di wilayah Jawa Timur karena basis pendukung Partai Demokrat banyak yang menambatkan hatinya pada Joko Widodo.

Namun Pakde Karwo akan bergerilya secara bawah tanah demi meraup dukungan untuk Prabowo. “Mas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertugas mendampingi Prabowo dan Sandi melakukan kampanye akbar. Tujuannya, selain memperkuat suara Prabowo, untuk meraup suara buat Demokrat dari pendukung Prabowo,” ujar Ferdinand.

Dia melanjutkan, target yang dibidik saat kampanye akbar adalah swing voters di kubu pendukung Jokowi, yang jumlahnya sekitar 20 persen.

Prabowo berkampanye di Banyumas, Jawa Tengah. 
Foto: dok. BPN Prabowo-Sandiawa

Sementara itu, juru bicara BPN lainnya, Andre Rosiade, mengatakan kampanye akbar difokuskan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur karena hasil survei internal menunjukkan suara Prabowo-Sandi masih tertinggal di kedua wilayah itu.

“Khusus di Jawa Timur, di wilayah Mataraman, kita masih tertinggal. Kita akan memaksimalkan figur Pak Soekarwo dan Mas Ibas di wilayah itu. Soalnya, Pak SBY tidak bisa turun karena harus menemani Bu Ani,” begitu kata Andre kepada detikX pekan lalu.

Sebagai gambaran, pada Pilpres 2014, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla menang di wilayah Jawa Timur dengar meraih 53,17 persen suara atau 11.669.313 suara dari total suara sah 21.946.401. Sedangkan Prabowo, yang saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa, mengumpulkan 10.277.088 suara atau 46,83 persen.

Di wilayah Jawa Tengah, ujar Andre, sejauh ini Prabowo-Sandi masih tertinggal. Namun wilayah yang dikomandoi mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said tersebut dikatakan sudah melewati perolehan suara Sudirman saat Pilkada Jawa Tengah, yang meraup 7.267.993 suara atau 41,22 persen.

Dan bila berkaca pada Pilpres 2014, di Jawa Tengah, Jokowi saat itu berhasil meraih 12.959.540 suara atau 66,65 persen. Sedangkan Prabowo hanya meraih 6.485.720 suara atau 33,35 persen. Raihan suara Jokowi saat itu hampir dua kali lipat dari perolehan suara Prabowo.

Sekalipun merasa ketar-ketir di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, Andre mengklaim, Prabowo-Sandi tercatat unggul di sisi barat Pulau Jawa, yakni Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. “Untuk Jabar, kita masih unggul. DKI Jakarta, Banten, dan Sumatera kita unggul juga. Pokoknya kita optimistis 2019 nanti presidennya Prabowo karena survei internal kita sudah unggul,” demikian sesumbar Andre.

Pada Pilpres 2014, Provinsi Jabar memang jadi kantong suara Prabowo-Hatta. Dari total 23.697.696 suara sah, Prabowo berhasil meraup 14.167.381 suara atau 59,78 persen, sementara Jokowi-JK meraih 9.530.315 atau 40,22 persen.

Juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno, Ferdinand Hutahaean
Foto: Yulida Medistiara/detikcom

Di wilayah Banten, Prabowo juga unggul. Dari total suara sah 5.591.302, Prabowo meraup 3.192.671 atau 57,10 persen, sedangkan Jokowi-JK mendapatkan 2.398.631 atau 42,90 persen. Di Jakarta, Prabowo saat itu kalah oleh Jokowi dengan hanya meraih 2.528.064 atau 46,92 persen, sementara Jokowi-JK meraup 2.859.894 atau 53,08 persen.

Secara terpisah, Faransyah Jaya, anggota tim BPN yang juga orang dekat Sandi, saat dimintai keterangan menyebut tugas Sandi memang sangat berat dalam pemenangan Pilpres 2019. Sebab, hampir seluruh wilayah di Pulau Jawa dia datangi, terutama yang menjadi basis pendukung Jokowi.

Selama dua bulan terakhir saja, kata Faransyah, Sandi setidaknya harus menyapa sepuluh wilayah di satu kabupaten bersama relawan dan caleg dengan menggelar sejumlah pertemuan tertutup di ruangan yang kapasitasnya terbatas. Kampanye terbuka Sandi juga dimaksudkan untuk mengecek kembali hasil dari blusukan.

“Dan dalam kampanye akbar kali ini, Bang Sandi sangat senang karena bisa menyapa ribuan orang di satu tempat. Sekaligus melihat hasil gerilya yang selama ini dilakukan,” ujar Faransyah. Dan dari pantauan di lapangan terhadap kampanye yang dianggap meriah, Faransyah merasa yakin Prabowo-Sandi bisa memenangi pilpres kali ini.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE