INVESTIGASI

Karamnya Perahu Oesman Sapta

"Saya lihat Pak Ketum optimistis sekali. Happy-happy saja."

Foto : Massa Partai Hanura di KPU, 21 Januari 2019

Selasa, 23 April 2019

Bila diibaratkan sebuah perahu, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) diprediksi karam sebelum mencapai pulau yang ditujunya. Partai politik yang dibentuk Jenderal TNI (purnawirawan) Wiranto, yang kini dipimpin oleh Oesman Sapta Odang (OSO) terpental dari DPR RI. Lima tahun ke depan kecil kemungkinan kader Hanura duduk di Senayan.

Kegagalan Hanura sudah terlihat dari persentase suara real count Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 Komisi Pemilihan Umum (KPU), Selasa, 23 April 2019, pukul 01.00 WIB. Hanura berada pada peringkat ke-13 dengan suara 1,51 persen. Parpol lain yang juga berada di bawah ambang batas 4 persen parliamentary threshold adalah Perindo (2,58 persen), PSI (2,21 persen), Berkarya (2,09 persen), PBB (0,91 persen), Garuda (0,5 persen) dan PKPI (0,34 persen).

Sebelumnya, pada 17 April 2019, hasil quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA juga mencatat peringkat Hanura pada urutan ke-13 dengan perolehan suara 1,85 persen. Hasil quick count Litbang Kompas mencatat persentase suara Hanura cuma 1,35 persen. Begitu juga dengan hasil quick count Charta Politika yang mencatat persentase suara Hanura sebesar 1,68 persen.

“Kalau lihat dari data, memang kemungkinan besar hanya sembilan parpol akan lolos ke parlemen, di mana ambang batas 4 persen dari partai lama yang duduk di Senayan. Hanura terpental,” kata Direktur Riset Charta Politika, Muslimin, dalam keterangan persnya di Hotel Grandhika, Jakarta, Rabu, 17 April 2019, pekan lalu.

Oesman Sapta Odang
Foto : Lamhot Aritonang/detikcom


Saya lihat Pak Ketum optimistis sekali. Happy-happy saja setelah mendengar dari DPD Provinsi dan pernyataan permainan seperti itu. Artinya kita mau menang harus menang terhormat.”

Hanura dibentuk pada Desember 2006 oleh barisan jenderal yakni Wiranto bersama Jenderal TNI (purnawirawan) Fachrul Razi, Jenderal TNI (purnawirawan) Subagyo HS, Laksamana TNI (purnawirawan) Bernard Kent Sondakh, Jenderal Polisi (purnawirawan) Chaeruddin Ismail, Letjen TNI (purnawirawan) Suaidi Marasabessy, Marsekal Madya TNI (purnawirawan) Budhy Santoso.

Juga politisi, cendikiawan, advokat dan artis yang ikut membidani lahirnya Hanura, seperti Yus Usman Sumanegara, Fuad Bawazier, Tuty Alawiyah, Achmad Sutarmadi, Max Wullur Azzam Sam Yassin, Djafar Badjeber, Elza Syarif, Teguh Samudera dan Anwar Fuadi. Parpol ini selalu berhasil masuk Senayan pada Pemilu 2009 dan 2014.

Namun, Hanura tak mau buru-buru mengakui kekalahannya dalam pemilu kali ini. Sebab, hasil real count yang dilakukan KPU belum selesai, karena masih proses penghitungan suara di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Sedangkan, hasil quick count yang dilakukan sejumlah lembaga survei merupakan hasil random secara nasional.

“Soal perolehan suara sekarang kan proses masih berlangsung di kecamatan. Hasilnya masih berlangsung. Kalau kita bicara tentang Indonesia, itu masih banyak. Jadi, perolehan suara masih direkapitulasi di PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan). Hasilnya belum keluar,” kata Sekjen DPP Hanura, Herry Lontung Siregar, kepada detikX, Senin, 22 April 2019.

Herry mengatakan, belum mengetahui penyebab perolehan suara dukungan partainya itu jeblok pada Pemilu 2019 ini. “Anjlok atau tidak anjloknya itu belum tahu. Orang belum tahu,” ucapnya singkat.

Partai Hanura menggelar pembekalan calegnya pada 8 September 2018 lalu.
Foto : Arief Ikshanudin/detikcom

Namun, dari laporan sejumlah pengurus DPD, kekalahan Hanura disebabkan strategi partai yang mengandalkan kejujuran. Sementara partai lainnya ditenggarai menggunakan strategi ‘serangan fajar’ alias bagi-bagi amplop untuk mendongkrak perolehan suara.

“Kita tidak memakai sistem serangan fajar itu. Karena, kita kan membangun peradaban, politik yang beradab. Ya, seyogyanya demokrasi kita ini kan sudah lumayan berumur. Belajar terus untuk lebih maju untuk politik bersih dan beradab,” kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Hanura, Benny Pasaribu, kepada detikX, Senin, 22 April 2019.

Namun, Benny mengaku konflik internal terkait dualisme kepemimpinan buntutnya masih dirasakan hingga sekarang dan mempengaruhi perolehan suara Hanura. Begitu juga dengan hengkangnya sejumlah elit Hanura ke partai lainnya, juga menjadi penyebab tergerusnya perolehan suara dalam Pemilu kali ini.

Petinggi Hanura yang mundur seperti Wakil Ketua Umum Saleh Husin (mantan Menteri Perindustrian) sejak Desember 2018. Lalu ada tujuh anggota DPR dari Hanura yang lebih dulu loncat ke parpol lainnya, yaitu Partai NasDem dan PAN. Sebut saja, Dossy Iskandar Prasetyo, Dadang Rusdiana, Rufinus Hotmaulana, Fauzi Amro dan Arief Suditomo, Muhktar Tompo, dan Sarifuddin Sudding.

Kubu yang hengkang itu menganggap OSO tidak memiliki sifat kepemimpinan di partai. OSO dinilai menjadikan Hanura layaknya perusahaan pribadi alias tidak mengacu pada aturan yang digariskan dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) partai. Pemecatan dan pergantian pengurus yang dilakukan sesuka hati tanpa aturan AD/ART.

“Itu yang lebih kena pengaruh dari konflik itu. Konflik kemarin berpengaruhnya terhadap struktur. Kepengurusan berubah dan militansinya juga berkurang,” ujar Benny. 

Herry Lontung Siregar, Sekjen Partai Hanura.
Foto : Lamhot Aritonang/detikcom

Walau secara nasional diprediksi kuat gagal, perolehan suara Hanura di daerah disebut Benny justru trennya meningkat. Ia mencontohkan, bila dalam pemilu 2014 ada DPRD Provinsi, Kabupaten/Kota yang tak terisi kursi dari Hanura, kini terisi, misalnya DPRD Jawa Tengah dan Jawa Barat. Juga dulu ada dua kursi di DPRD Bekasi dan Karawang, kini bertambah. “Kecuali DKI Jakarta memang agak kendur, saya melihatnya,” ucap Benny lagi.

OSO sebagai Ketua Umum DPP Hanura, menurut Benny, sangat optimistis bila perolahan suara partai masih bisa bertambah sampai 5 persen. Sebab, quick count untuk parpol mempunyai margin of error antara 3-5 persen. Apalagi karena OSO dilapori sejumlah pengurus daerah yang menyebutkan bahwa suara di daerah masih dalam proses penghitungan.

“Saya lihat Pak Ketum optimistis sekali. Happy-happy saja setelah mendengar dari DPD Provinsi dan pernyataan permainan seperti itu. Artinya kita mau menang harus menang terhormat,” pungkasnya.


Reporter/Penulis: Gresnia F Arela
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE