INVESTIGASI

Celaka Para Pemungut Suara

Pemilu serentak 2019 paling melelahkan dari pemilu-pemilu sebelumnya di Indonesia. Personel KPPS bertumbangan hingga 225 orang meninggal.

Foto: Petugas KPPS saat menghitung surat suara di TPS 59 dan TPS 60, Petamburan, Jakarta Pusat. (Ari Saputra/detikcom)

Jumat, 26 April 2019

Tiba-tiba, kepala Aning terasa sakit pada Rabu, 24 April 2019, sekitar pukul 03.30 WIB. Warga Dusun Jatihurip, Desa Dukuhkarya, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, itu, mengerang kesakitan. Melihat hal itu, istri Aning bergegas membawa suaminya ke Rumah Sakit Proklamasi Rengasdengklok.

Begitu sampai, rumah sakit sedang penuh, sehingga pria berusia 69 tahun itu tak mendapatkan pelayanan. Sampai akhirnya Aning koma dan dilarikan ke Rumah Sakit Bayukarta, Kota Karawang. Ia langsung dirujuk ke ruang ICU. Setelah lima jam, ternyata dokter tak bisa menolong. Aning pun meninggal dunia pada pukul 12.00 WIB.

“Menurut keterangan dokter, pembuluh darah di otak almarhum pecah. Kami merasa sedih dan terpukul,” kata Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Jatihurip, Enjay, di RS Bayukarta, Rabu, 24 April 2019. Aning adalah anggota KPPS Jatihurip.

Sebelum Aning, di Karawang ada dua anggota KPPS yang meninggal pascapemungutan suara pemilu serentak 17 April 2019. Pertama, Yaya Suhaya, 71 tahun, petugas TPS 04 Desa Cilewo, Kecamatan Tegalsari meninggal dunia sehari setelah pencoblosan atau Kamis, 18 April 2019. Kedua, Agus Mulyadi, 53 tahun, petugas TPS 38 Kelurahan Karawang Kulon, Kecamatan Karawang Barat.

Baik Yaya maupun Agus diduga meninggal dunia akibat kelelahan setelah mengawal proses pemungutan dan penghitungan suara selama 48 jam. “Tapi dia (Agus) tak ingin diganti orang lain, karena dia bilang ingin membantu negara,” kata Roni Juanda, 56 tahun, rekan sesama petugas KPPS Agus, Minggu, 21 April 2019.

Nasib serupa menimpa anggota KPPS di TPS 157 Perumahan Poris, Jatirahayu, Pondok Melati, Kota Bekasi bernama Sonny Soemarsono, 74 tahun. Setelah mengawal proses pemungutan hingga penghitungan suara sampai pagi, Sonny jatuh sakit. Ia sempat dibawa ke RS UKI Cawang, Jakarta Timur. Tapi, Sonny meninggal pada Selasa, 23 April 2019, pukul 20.56 WIB.

“Beliau kecapekan. Setelah pemungutan suara kan lanjut penghitungan suara sampai subuh. Karena beliau tanggung jawab terhadap hajat negara, maka harus menyelesaikan. Tiba-tiba sesudah itu sakit beberapa hari,” ungkap Ketua Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Pondok Melati, Syamsul Bahri kepada detikX, Rabu, 24 April 2019.

Suasana rumah duka almarhum Aning, anggota KPPS Dusun Jatihurip, Desa Dukuhkarya, Kecamatan Rengasdengklok.
Foto : Luthfiana Awaludin/detikcom

Saat bertugas di TPS-nya, kondisi Sonny baik-baik saja. Ia memasang tenda, mengawasi logistik, pemungutan suara hingga penghitungan. Saat penghitungan suara masih berlangsung pada pukul 02.00 WIB, Sonny mengeluh sudah tidak kuat lagi, dan kemudian minta izin pulang ke rumah.

Di Blitar, Jawa Timur, empat petugas KPPS juga dilaporkan meninggal setelah proses rekapitulasi suara selesai dilakukan. Juga di provinsi lain di seluruh Indonesia. Menurut data KPU per tanggal 25 April 2019, di seluruh Indonesia sedikitnya ada 225 anggota KPPS yang meninggal dunia sehabis bertugas dan 1.470 lainnya sakit dan dirawat.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto pada Rabu 24 April menyebutkan sebanyak 139 orang petugas pemilu meninggal dunia. Jumlah itu termasuk 15 anggota polisi dan beberapa anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang gugur saat menjaga berlangsungnya pesta demokrasi.

“Kita sangat menyesalkan telah menimbulkan korban di antara petugas, sebanyak 139 orang meninggal dunia dalam tugas. Kita doakan agar arwah para pahlawan demokrasi diterima di sisi Tuhan yang Maha Esa,” ucap Wiranto usai rapat koordinasi khusus pascapemungutan suara Pemilu 2019 di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu, 24 April 2019.

Ketua KPU Arief Budiman mengatakan, Pileg dan Pilpres 2019 yang berlangsung serentak memang sangat melelahkan, terutama bagi petugas pemungutan suara di bawah. Proses penghitungan suara tak bisa diselesaikan sampai tengah malam karena teknis pekerjaan, dan banyak yang harus berlanjut hingga pagi keesokan harinya.

detikX mencoba bertanya kepada para petugas KPPS tentang bagaimana proses pelaksanaan pemilu yang cukup menyita waktu dan menguras tenaga tersebut. Hasan Ajalia, 28, tahun, salah satu Ketua KPPS di Palu, Sulawesi Tengah, mengakui, ia dan anggotanya benar-benar merasakan kelelahan yang akut setelah pencoblosan.

“Kalau yang sakit nggak ada. Anggota yang lain berjauhan rumahnya dengan saya. Tidak saling komunikasi tentang kesehatan. Tapi cuma capeknya memang luar biasa,” ujar Hasan kepada detikX, Rabu, 24 April 2019.

Almarhum Sonny Soemarsono, petugas KPPS Jatirahayu, Bekasi
Foto : Istimewa

Hasan, yang bertugas di TPS 10, Kelurahan Mamboro Barat, Kota Palu, mengatakan, dia menjadi Ketua KPPS setelah ditawari oleh pihak kelurahan. Kemudian ia dan para anggotanya melakukan persiapan-persiapan untuk hari pemungutan suara 17 April.

Menurut Hasan, acara begadang sudah dimulai sejak dua hari sebelum pencoblosan, yakni ketika mendirikan TPS. Pembuatan TPS dilakukan sendiri oleh KPPS selama dua hari. Ketika hari pencoblosan tiba, KPPS sudah bersiap di TPS itu sejak pukul 07.00 Wita.

Saat TPS ditutup pukul 13.00 Wita,  KPPS kemudian melakukan penghitungan suara. Pertama yang dihitung adalah surat suara pilpres. Karena hanya satu kotak, maka rekapitulasi suara berjalan cukup cepat. Tapi begitu penghitungan suara untuk Pileg dengan empat kotak suara, pekerjaan dirasa panjang dan berat.

Penghitungan suara baru selesai pukul 02.30 Wita, dan para petugas KPPS menyerah. Berita acara belum sempat ditandatangani hingga menjelang subuh itu. “Setelah pagi kami lanjutkan menyelesaikan yang belum selesai,” kata Hasan yang mengaku baru bisa istirahat pada pukul 10.00 Wita.

Hernowo, Ketua KPPS Taman Yasmin, Cilendek Barat, Bogor Barat, Kota Bogor bilang, pihaknya harus menyiapkan bilik suara sendiri sebanyak dua buah, sebab dari KPU hanya mengirim tiga bilik. Untuk membuat bilik suara itu saja, katanya, sudah membuat energi terbuang.

“Jadi kita tambahin sendiri dan setting di awal itu sudah capek duluan. Tinggal kita ngumpulin C6, itu prosesnya panjang di situ. Persiapannya bolak-balik ke kelurahan, bisa dua minggu atau sebulan sebelumnya kita sudah prepare,” ungkap Hernowo kepada detikX, Rabu, 24 April 2019.

Yang makin melelahkan saat rekapitulasi suara, karena sangat menyita waktu. Jumlah kertas suara yang dicoblos banyak, apalagi sekaligus surat suara untuk pemilihan presiden, DPR RI, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Penghitungan pun hingga larut malam bahkan ada yang sampai dua hari. “Di tempat saya itu sampai jam 21.00 WIB. Di tempat saya agak cepat, karena petugasnya anak muda-muda,” terang Hernowo.

Hasan Ajalia, Ketua KPPS di Kelurahan Mamboro Barat, Palu, Sulawesi Tengah.
Foto : Dok pribadi

Di setiap TPS memang memiliki tujuh sampai 10 anggota KPPS. Masing-masing memiliki tugas yang berbeda, ada yang menerima tamu, menyiapkan kertas suara, tenda dan lainnya. Tetapi ketika penghitungan suara menjadi tugas bersama-sama. “Capeknya di situ. Apalagi buat orang yang sudah sepuh atau ada punya riwayat penyakit sebelumnya. Belum angin malamnya,” imbuh Hernowo.

Komisioner KPU Viryan Aziz menyarankan, melihat dari banyaknya korban penyelenggaraan pemilu, agar pemilu serentak cukup dilaksanakan satu kali ini saja. Sebab, beban pemilu serentak melebihi kemampuan yang dimiliki. "Pemilu serentak dengan 5 kotak suara cukup sekali saja, jangan lagi dilaksanakan," ujar Viryan.

KPU sendiri sudah mengusulkan kisaran biaya santunan. Untuk petugas KPPS yang meninggal, besaran santunan yang diusulkan yakni Rp 36 juta, untuk yang sakit santunannya berkisar antara Rp 16 juta-Rp 30 juta. Sedangkan besaran gaji sendiri untuk ketua KPPS Rp 550 ribu dan anggota Rp 500 ribu.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md meminta agar Undang-undang No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dievaluasi oleh presiden dan DPR mendatang. UU Pemilu saat ini masih memiliki banyak kelemahan. Dia mencontohkan kejadian petugas KPPS yang sakit hingga meninggal dunia saat bertugas.

"Oleh karena itu, harus ditinjau lagi yang dimaksud pemilu serentak itu apa sih? Apakah harus harinya sama? Atau petugas lapangan harus sama, sehingga tidak bisa berbagi beban? Atau bagaimana? Itu kita evaluasi lagi. Ataukah harinya bisa dipisah, atau panitia di tingkat lokal, panitianya bisa dipisah, tetapi dengan kontrol yang ketat," kata dia.


Reporter: Gresnia Arela F
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE