INVESTIGASI

Pilpres 2019

Saat Situng Bikin Bingung

Situng KPU banyak terjadi kesalahan. Salah satu penyebabnya karena data TPS yang tertukar.

Foto: alur penghitungan melalui Situng (Grandyos Zafna/detikcom)

Sabtu, 27 April 2019

Perolehan suara Joko Widodo-Ma’ruf Amin mendadak melambung di Sistem Informasi Penghitungan Suara atau Situng Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk TPS 09, Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di TPS kelurahan tempat calon presiden Prabowo Subianto bermukim itu, suara pasangan Jokowi-Ma’ruf yang sebelumnya 16 suara menjadi 132 suara pada laman Situng KPU.

Sedangkan pasangan kandidat Prabowo-Sandiaga Uno memperoleh 172 suara tetapi menyusut menjadi 95 suara pada Situng KPU. Total suara di TPS tersebut 194 suara dengan suara sah 188 suara dan tidak sah 6 suara. Perbedaan penghitungan pada Situng ini sempat ramai beredar di media sosial sepanjang pekan ini.

Kesalahan yang sama juga terjadi diTPS 03 Desa Bagoang, Kecamatan Jasinga. Pasangan Jokowi-Ma’ruf yang tercatat di formulir C-1 sebelumnya 79 suara, namun di laman Situng KPU tercatat menjadi 179. Adapun perolehan suara Prabowo yang berdasarkan C-1 187 suara di Situng menjadi 108 suara.

Untuk menkonfirmasi kejanggalan tersebut, detikX pun mendatangi Gelanggang Olahraga (GOR) Joglo yang terletak di Kampung Pasir Maung, Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kamis 26 April 2019. GOR tersebut dijadikan tempat rapat pleno rekapitulasi perhitungan suara di tingkat Kecamatan Babakan Madang.

Saat itu Panitia Pemungutan Suara (PPS), Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), serta Panwaslu Kecamatan Bojong Koneng sedang melakukan pleno tingkat kecamatan. Dede Yusuf, Ketua KPPS Bojong Koneng, saat ditemui detikX, menjelaskan, permasalahan beda jumlah suara di dua TPS itu bukan ada di pihaknya. Sebab dari PPS data C-1 yang berhologram itu dikirim ke KPU kabupaten.

“Masalah penginputan saya tidak tahu. Kita kirim C1 itu ke KPU kabupaten berupa hard copy yang berhologram itu. Nah, yang mengirimkan itu PPK. Nanti ketua PPK-nya (Panitia Pemilihan Kecamatan) saya panggil biar lebih jelas,” ujar Dede kepada detikX.

Proses penginputan data untuk Situng Kabupaten Bogor di Hotel Olympic, Sentul
Foto : Ibad Durohman/detikX

Tidak lama berselang, Ketua PPK Kecamatan Babakan Madang, Ilham Mukaromdatang, menghampiri. Sambil memperlihatkan data C-1 di tangannya, Mukarom menjelaskan soal kesalahan input di Situng KPU. Menurutnya, kesalahan tersebut karena kekeliruan penginputan atau tertukarnya data antar TPS.

“Kalau kita lihat datanya memang itu (hasil TPS 09) tertukar dengan TPS 04. Jadi suara Jokowi yang 132 suara itu data perolehan suara untuk TPS 04, Perumahan Tampak Siring. Lokasinya di Bojong Koneng juga. Jadi kesalahannya kenapa harusnya data TPS 04 malah dimasukkan ke TPS 09,” jelas Mukarom kepada detikX.

Dia kemudian menjelaskan mekanisme perjalanan formulir C-1 yang dibuat lima rangkap itu, yakni untuk PPS, KPPS, PTPS, saksi, dan salah satunya untuk KPU kabupaten. Nah sebelum formulir C-1 diplenokan, hasilnya sudah dilaporkan ke KPU pusat untuk menginputan Situng. Setelah itu hasil Situng dengan pleno disamakan atau dicocokkan.

Masalah input data ke Situng, Mukarom tidak mengetahui prosesnya. Sebab pihaknya sebagai PPK hanya mengirim data C-1 berupa hard copy ke KPU kabupaten. Sementara yang melakukan Situng adalah tenaga ad hoc di luar KPU.

Jangan kemudian dipahami bahwa inilah satu-satunya alat untuk menetapkan hasil pemilu secara nasional. Ini sebagai alat untuk menyediakan informasi secara cepat saja."

Dari pantauan detikX di lokasi Situng KPUD Kabupaten Bogor yang dilakukan di Ballroom Hotel Olympic, Sentul, Bogor, tampak puluhan orang duduk berjajar di meja yang sudah disiapkan. Masing-masing meja dilengkapi laptop dan printer. Para tenaga input data Situng itu rata-rata masih berusia muda. Sayang, tidak ada satu keterangan pun yang bisa digali dari mereka.

Meski Situng berdasarkan formulir C-1, namun hasil yang sahih tetap saja berdasarkan hasil rapat pleno C-1. Dan proses pleno tersebut sampai sekarang masih berlangsung. R. Fitria, angota Panitia Pengawas Pemilu (Panwasu) Kecamatan Babakan Madang, bilang, rapat pleno sudah berlangsung dalam sepekan ini.

Hasil perolehan suara TPS 00 Bojong Koneng versi C1 (Foto Istimewa).

Data TPS 05 Bojong Koneng yang terinput di Situng KPU (Foto: Istimewa).

Jumlah Panwas Kecamatan Babakan Madang ada tiga orang, staf kecamatan empat orang, dan PKD (Panwas kelurahan atau desa) sembilan orang. Dari hasil pengawasan, memang mulai di tingkat PPS sudah muncul beberapa kesalahan.

Fitria mencontohkan kejadian di Kampung Kadung Mangu, Desa Sentul, Bogor. Di situ Kepala PPS tidak mengerti jika mencoblos partai atau caleg harusnya tetap dihitung satu. Namun, KPPS malah menghitung jadi dua suara. “Akibatnya jadi menggelembung suaranya. Jadi kita hitung ulang. Kotak suaranya kita bongkar satu-satu, akhirnya sesuai. Harusnya itu masuk ke calegnya saja, nggak usah ke patrainya,” kata Fitria kepada detikX.

Ditambahkan Fitria, kesalahan yang terjadi di PPS umumnya karena human error. Jika selisihnya besar akan dibuka lagi kotak suaranya. Penggelembungan suara yang sering terjadi adalah salah penempatan di caleg satu partai.

Persoalan human error itu akibat ketidakmengertian dari petugas PPS yang kurang dibekali bimbingan teknis (bimtek). Bayangkan saja, dari tujuh orang yang bertugas di PPS, hanya tiga orang saja yang melakukan bimtek.

Soal kesalahan input di Situng KPU yang menggelebungkan suara Jokowi, Fitria menyebut hal itu urusan KPU kabupaten. Namun, diakuinya hasil Situng memang banyak diprotes.

Nuni Indah, Panwas Desa Bojong Koneng mengatakan hal serupa. Dirinya mengaku sempat diprotes warga karena suara di PPS berbeda dengan Situng. Apalagi formulir C-1 belum diplenokan tapi sudah dimasukkan ke Situng.

Ketua KPU Arief Budiman saat memberikan sosialisasi tentang Situng di Jakarta, 18 Januari 2019
Foto : Grandyos Zafna/detikcom

“Itu jadi masalah di Desa Bojong Koneng. Kenapa kok itu di Situng sudah ada datanya. Banyak yang nanya ke saya warga desa, karena kan sudah viral. Ya, saya jawab nggak tahu,” jelas Nuning kepada detikX.

Kata Nuning, banyak warga yang merasa heran di Situng KPU sudah ada padahal plenonya belum mulai untuk Desa Bojong Koneng itu. Situng KPU sudah muncul sejak Jumat, 19 April2019, sementara pleno Bojong Koneng itu dimulai hari Minggu, 21 April, dan sampai saat ini belum selesai. “Harusnya menunggu dulu dari kecamatan. ini saja (pleno) kan masih berlangung,” sahut Fitria.

Masalah Situng memang menjadi perbincangan panas pasca hasil hitung cepat (quick count) di hari pencoblosan, 17 April 2019. Banyak kalangan terutama para pendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga, yang tak percaya kesahihan hasil hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei yang hasilnya mengunggulkan pasangan Jokowi-Ma’ruf.

Ketua KPU RI Arief Budiman bilang Situng hanya bertujuan mempercepat penyampaian hasil pelaksanaan pemungutan dan perhitungan suara kepada masyarakat. Serta memudahkan semua pihak baik itu penyelenggara dan peserta dalam mengawal perolehan suara.

Situng ini bermanfaat bagi KPU, sebab, menurut Arief, untuk mengatahui bila ada petugasnya yang berlaku curang dan tidak semestinya terhadap proses penghitungan suara. Ditambahkan dia, proses Situng yang sedang berlangsung saat ini tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan hasil pemilu secara nasional.

"Jangan kemudian dipahami bahwa inilah satu-satunya alat untuk menetapkan hasil pemilu secara nasional. Ini sebagai alat untuk menyediakan informasi secara cepat saja," ucapnya.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE