INVESTIGASI

Melongok War Room Jokowi-Ma’ruf

“Mereka (tim Prabowo-Sandi) itu cuma teriak curang-curang,
tapi nggak punya data.”

Layar monitor di war room Jokowi-Ma'ruf di Hotel Gran Melia, Jakarta
Foto-foto: Gresnia Arela F/detikX

Selasa, 30 April 2019

Puluhan orang duduk menghadap monitor komputer di atas meja. Tak ada suara bising. Mereka serius melihat data dan foto formulir C1 atau hasil rekapan perolehan suara yang masuk dari sejumlah daerah. Mereka adalah relawan yang direkrut oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin untuk melakukan penghitungan suara secara real count.

Relawan ini membuat tabulasi real count di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta Selatan. Ruang Legian berukuran 20x30 meter disulap menjadi tempat membuat tabulasi perolehan suara Pemilu 2019. Ruangan itu pun dinamai War Room. Ruangan itu juga dilengkapi dengan 100 unit komputer. Kenapa War Room?

“Ya, supaya lebih semangatlah. Kemudian nilai juangnya ada. Apalagi kan adik-adik ini kan lebih banyak relawannya daripada orang yang misalnya dikasih gaji untuk entri data,” kata Direktur Saksi dan Informasi Teknologi TKN Jokowi-Ma’ruf, Lukman Edy, kepada detikX di lokasi, Jumat, 26 April 2019.

Menurut Lukman, setiap hari relawan yang bekerja di War Room berjumlah 240 orang. Pekerjaan dibagi menjadi tiga shift, yaitu shift pertama pada pukul 07.00-17.00 WIB, shift kedua pada pukul 17.00-23.00 WIB, dan shift ketiga pada pukul 23.00-07.00 WIB. Setiap shift terdiri atas 80 orang dengan satu koordinator. Hampir 70 persen relawan yang melakukan penghitungan real count ini anak-anak milenial yang masih duduk di bangku kuliah.

Puluhan relawan di War Room TKN Jokowi-Ma'ruf bekerja menginput data real count.


Saya sebagai koordinatornya ingin demokrasi yang sehat. Tidak mau teman-teman ini diajari di medsos untuk menyebarkan hoax. Saya mengharamkan banget. Kalau ada, ya saya keluarkan. Saya tegaskan di sini (War Room).”

Relawan War Room mulai bekerja sejak 13 April 2019 di Hotel Gran Melia. Mereka terdiri atas tim IT Jokowi-Ma’ruf dan tim media sosial, tim IT PDI Perjuangan, dan sisanya tim IT dari partai politik koalisi pendukung capres-cawapres nomor urut 01 itu.

Hanya, Lukman menolak mengungkap sumber pendanaan kegiatan operasional War Room. “Dari Bendahara Umum yang membiayai. Tempat ini juga kita bayar. Saya nggak tahu, itu urusannya Bendahara Umum,” ucapnya.

Sebelum melakukan pekerjaannya, relawan War Room dilatih terlebih dahulu di kantor TKN Jokowi-Ma’ruf di Gedung High End, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, selama satu minggu. Mereka dilatih mengolah, meng-upload, dan menginput data lewat sistem program aplikasi yang dinamai “Jamin”, singkatan dari Jokowi-Ma’ruf Amin.

Penggunaan aplikasi ini juga telah disosialisasikan kepada para saksi partai politik pendukung Jokowi-Ma’ruf, mulai tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Terutama bagaimana cara mengirim foto formulir C1 yang berisi hasil rekapan suara dari tempat pemungutan suara (TPS).

Alur penginputan data real count berawal dari para saksi di daerah yang mengirimkan data dan foto formulir C1. Foto itu masuk ke server Jamin. Data dan foto akan disortir satu per satu oleh tim tersebut.

Data yang sah dan layak adalah yang berasal dari formulir C1 yang ditandatangani petugas KPPS dan saksi serta memiliki hologram KPU. Hal itu juga dilakukan guna mengantisipasi data ganda yang masuk. Karena itu, diyakini hasil real count War Room dan KPU tak banyak yang berbeda.

Direktur Saksi dan Informasi Teknologi TKN Jokowi-Ma’ruf, Lukman Edy

“Di sini itu riil, tidak ada menambah dan mengurangi angka. Kalau hasilnya hampir sama dengan KPU, ya mungkin memang seperti itu,” kata Koordinator War Room, Dede Budhyarto, kepada detikX di lokasi, Jumat, 26 April 2019.

Dede mencontohkan, bila ada relawan yang mencoba memanipulasi atau mengubah angka, akan segera diketahui. Sebab, server akan segera menolaknya karena tidak sesuai dengan data dari C1 yang sudah di-scan di server aplikasi Jamin.

Walau sebagian penginput data adalah relawan pendukung Jokowi-Maruf, Dede menjamin mereka bekerja secara profesional. Apalagi, sejak bergabung dengan tim medsos, mereka diwanti-wanti untuk tak menyerang lawan dengan menyebar berita hoax.

“Saya sebagai koordinatornya ingin demokrasi yang sehat. Tidak mau teman-teman ini diajari di sosmed untuk menyebarkan hoax. Saya mengharamkan banget. Kalau ada, ya saya keluarkan. Saya tegaskan di sini (War Room),” ucap Dede lagi.

Yang jelas, para relawan yang bekerja di War Room diberi honor sesuai dengan UMR. Hanya, Dede enggan menyebutkan kisaran honor yang diberikan kepada 240 relawannya. Selain menerima honor, para relawan ini dijamin kesehatan, makanan, dan vitaminnya.

Lalu, dari mana asal pembiayaan War Room? Sama dengan Lukman Edy, Dede pun tak mau menyebutkannya. “Oh, I don’t know! Itu dari TKN. Nggak pernah saya dengar. Pokoknya, semuanya yang bekerja di sini dari TKN,” jawab Dede sambil tersenyum.

Selain Lukman Edy, yang kerap mendatangi War Room di Hotel Gran Melia adalah Jenderal TNI (Purnawirawan) Moeldoko selaku Ketua Harian TKN Jokowi-Ma’ruf. Lalu, Erick Tohir selaku Ketua TKN dan Hasto Kristiyanto selaku Sekretaris TKN. Sedangkan Jokowi dan Ma’ruf belum pernah mendatangi tempat itu.

Data yang diterima War Room ada dua bentuk, yaitu data hard copy dan soft copy. Pada hari pertama penghitungan suara, Rabu, 17 April 2019, sudah banyak yang mengirimkan data dan foto melalui grup WhatApps. Sementara itu, data hard copy masih terus dikumpulkan. Untuk pengumpulan arsip data, War Room sudah menyiapkan 550 boks kontainer.

Tabulasi oleh TKN Jokowi-Ma'ruf dilakukan di Hotel Gran Melia, Jakarta.

Hard copy ini penting bagi kita kalau ada tuntutan-tuntutan perkara di MK (Mahkamah Konstitusi) sebagai barang bukti kami, sementara soft copy tersimpan aman di server kami,” kata Lukman.

Dalam mengumpulkan data, menurut Dede, tantangan terberat adalah soal teknis, yaitu buruknya jaringan sinyal operator seluler di beberapa daerah. Apalagi, dari 813.350 TPS, beberapa di antaranya ada yang berada di daerah terpencil dan pulau-pulau terpencil.

Untuk meng-upload data, relawan harus terlebih dulu mencari lokasi yang terdapat sinyal seluler, sehingga banyak di antara mereka harus ke kota dan TKD (Tim Kampanye Daerah) Jokowi-Ma'ruf. Sinyal di War Room juga sering mengalami down (lemah), karena banyak yang menggunakannya.

Karena itu, relawan di War Room bekerja sesuka hati saja. Ketika sinyal bagus, mereka langsung kerja lagi. Dede mengakui hampir 90 persen relawan adalah anak baru, sehingga mereka punya pengalaman baru di dunia politik.

“Ternyata tim ini tidak mengajari berbohong dan kebencian. Tim ini benar-benar menginput data, Ini riil. Itu saja sih catatan pentingnya,” tutur Dede.

Selama beroperasi, tim War Room belum pernah menemukan kasus kecurangan dalam penghitungan suara yang dikirimkan. Sebab, formulir C1 yang digunakan sebagai dasar penghitungan real count ini harus ada tanda tangannya. Kalaupun ada yang tanpa tanda tangan, itu karena terpotong ketika difoto sebelum dikirim dan diterima servernya.

Hingga saat ini, hasil tabulasi real count War Room TKN Jokowi-Ma'ruf belum bisa diakses secara umum oleh publik. Hasil real count dan pengumpulan data hanya digunakan untuk back up data, sementara hasil real count resmi tetap berada di KPU.

Salah satu data C1 yang dimasukkan ke sistem tabulasi TKN Jokowi-Ma'ruf

War Room sifatnya mengumpulkan data yang valid untuk meng-counter klaim kemenangan oleh pihak lawan. Dede menegaskan pihaknya akan transparan mengenai hasil real count-nya. Bila Jokowi kalah dalam Pemilu 2019, sebagai negara demokrasi, semua pihak harus menerima.

“Mereka (tim Prabowo-Sandi) itu cuma teriak curang-curang doang, tapi nggak punya data. Katanya ada di kafe, upload C1. Sekuat apa mereka upload sebegitu banyak? Penghitungan kita rigit. Sudah supercanggih aplikasinya. Di satu desa, kecamatan, dan lain-lain,” ucap Dede lagi.

Terkait isu pembobolan atau serangan hacker ke server War Room, seperti isu server KPU diserang, Lukman mengklaim hal itu terlalu mengada-ada. “Nggak ada, isu kebobolan, hacking, konspirasi jaringan platform IT itu adalah novel fiksi saja, nggak pernah ada. Terlalu konspiratif, itu nggak pernah ada,” jawabnya singkat.


Reporter: Gresnia F Arela
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE