INVESTIGASI

Pesohor Gagal

Moncer di Layar Kaca, Keok di Kotak Suara

"Ini perebutan suara yang sangat kacau menurut saya. Atau mungkin saya sebagai pendatang baru jadi agak kaget melihat pencurian-pencurian suara entah oleh siapa."

Ilustrasi: Luthfy Syahban/detikcom

Jumat, 3 Mei 2019

Popularitas rupanya tidak menjamin seorang calon anggota legislatif dengan mudah mendapat kepercayaan masyarakat untuk dipilih. Dalam Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 ini, misalnya, sejumlah politikus yang sering tampil di media, terutama televisi, justru gagal melenggang ke Senayan.

Salah satu nama yang sering menghiasi acara dialog di televisi yang gagal menjadi anggota DPR adalah Inas Nasrullah Zubir, politikus Partai Hanura. Anggota DPR periode 2014-2019 itu kini terempas dari gedung DPR setelah partainya tidak lolos ambang batas parlemen.

Berdasarkan data hasil Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU di situs pemilu2019.kpu.go.id, Rabu, 1 Mei 2019, yang berasal dari 203.354 TPS (25,00203 persen), Hanura hanya meraih 1,89 persen alias masih jauh dari ambang batas parlemen (parliamentary threshold) sebesar 4 persen.

“Saya ini kan petarung. Ini bukan akhir, masih ada waktu 5 tahun ke depan untuk menata dan come back. Saya akan tetap konsen di politik dan akan setia di Hanura,” ujar Inas saat dimintai konfirmasi detikX pekan lalu.

Inas Nasrullah Zubir
Foto: dok. pribadi


Karena popularitas saya tinggi, makanya saya gagal. Sebab, di dapil saya, kebanyakan pemilih Pak Jokowi. Dan itu terbukti Jokowi menang di dapil saya hampir 90-an persen. Jadi aku turun di mana mayoritas masyarakatnya itu pemilih Jokowi.”

Inas, yang bertarung di Daerah Pemilihan (Dapil) Banten III, yang meliputi Tangerang Kota, Kabupaten Tangerang, serta Tangerang Selatan, mengaku akan kembali ke habitatnya semula sebagai pebisnis. Dia juga berjanji bakal memoles partainya hingga bisa konclong untuk berlaga pada pileg berikutnya, 2024.

Kegagalan Hanura mengutus wakilnya ke Senayan, menurut Inas, tidak lepas dari konflik berkepanjangan di partai yang didirikan Menko Polhukam Wiranto itu. Setelah dipimpin Osman Sapta Odang (OSO), partai berwarna oranye itu mengalami perpecahan.

“Penyebab tidak lolosnya itu, menurut saya, sudah terlihat sejak Hanura pecah. Saya sudah memprediksi Hanura tidak akan lolos,” kata Inas.

Parahnya lagi, lanjut Inas, perpecahan terjadi hingga ke akar rumput. Sebagian besar kader Hanura di akar rumput kemudian hijrah ke NasDem. Sebagian berpindah ke partai lain. Menyusutnya jumlah caleg Hanura dari sebelumnya 560 orang menjadi hanya 427 orang pun dianggap sebagai salah satu penyebab Hanura kandas pada Pileg 2019.

Kenapa calegnya berkurang? Kata Inas, dari 560 orang, yang diterima KPU hanya 427. Sisanya gagal nyaleg karena tidak melengkapi dokumen persyaratan lantaran dokumen-dokumen mereka hilang di DPP, yang diduga buntut perebutan pengurus DPP Hanura.

“Contohnya Sekjen Hanura Harry Lontung. Sewaktu pendaftaran ternyata berubah nomor urutnya. Selanjutnya Syamsudin, yang harusnya dapil Sumatera Utara di pindah ke Kalimantan Selatan. Itu ada oknum-oknum yang melakukan perubahan tersebut,” beber Inas, yang mengaku belum tahu berapa suara yang dia dapat dari Dapil Banten III.

Meski Hanura tidak bisa meloloskan kadernya ke DPR, menurut Inas, untuk tingkat DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota, Hanura tetap bisa meloloskan kadernya. “Pokoknya untuk level DPRD semua terisi sama kader kita. Ada semua wakilnya di seluruh Indonesia. Yang jadi persoalan kan di DPR-RI saja,” pungkas Inas.

Jansen Sitindaon
Foto: Farih Maulana/detikcom

Politikus populer lain yang gagal ke Senayan adalah Jansen Sitindaon dari Partai Demokrat (PD). Jansen, yang maju di Dapil Sumatera Utara III, mengatakan tidak lolos karena bertempur di wilayah pendukung Jokowi.

“Karena popularitas saya tinggi, makanya saya gagal. Sebab, di dapil saya kebanyakan pemilih Pak Jokowi. Dan itu terbukti Jokowi menang di dapil saya hampir 90-an persen. Jadi aku turun di mana mayoritas masyarakatnya itu pemilih Jokowi,” ungkap Jansen.

Jansen memang sering tampil di televisi untuk menjadi narasumber di kubu capres nomor 02, yakni Prabowo-Sandi. Karena tugas tersebut, tentu saja dia banyak mengkritik Jokowi. Sikap ini akhirnya berimbas pada sikap masyarakat di dapilnya, yang mayoritas pendukung Jokowi.

Selain itu, lantaran harus sering ke Jakarta membantu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, dia harus sering terbang ke Jakarta dan jarang mengunjungi dapilnya.

Meski tidak lolos ke Senayan, Jansen mengaku tidak risau. Lagi pula maju sebagai caleg merupakan pengalaman pertamanya. Dia pun semakin percaya diri untuk bertarung kembali pada Pileg 2024.

Nama lain yang begitu populer pada Pemilu 2019 yang diprediksi tidak lolos adalah Faldo Maldini dari PAN, yang maju di Dapil Kabupaten Bogor atau Dapil Jawa Barat V.

Sebagai debutan, Faldo memang punya tugas berat, yakni bertarung melawan nama-nama beken yang sudah lebih dulu berkiprah di Senayan. Sebut saja Fadli Zon, Adian Napitupulu, serta Max Sopacua. Selain bertarung melawan caleg dari partai lain, Faldo, yang berada di nomor urut dua, harus bersaing ketat dengan rekan separtainya, yakni Primus Yustisio, yang berada di nomor urut satu.

Faldo Maldini
Foto: dok. Instagram

“(Saya) sebagai pendatang baru, dapil saya memang sangat berat karena harus berhadapan dengan caleg incumbent yang punya nama besar, seperti Bang Fadli dan Primus Yustisio. Ini dapil neraka menurut saya,” ujar Faldo lewat sambungan telepon, Kamis, 2 Mei 2019.

Meski berada di dapil panas, Faldo masih menyimpan harapan dirinya bisa memberikan perlawanan keras untuk caleg-caleg incumbent tersebut. Menurutnya, sampai saat ini, suara yang sudah tergambar dari lembar C-1 yang sudah dihitung, dirinya baru memperoleh 25 ribu suara, sementara perolehan suara Primus sekitar 30 ribu suara.

Praktis, Faldo kini harus memantau pergerakan suaranya dengan pesaing yang tak lain rekan satu partainya. Karena, dari hitungan sementara, PAN hanya bisa meraih satu kursi dari dapil yang memiliki 15 ribu tempat pemungutan suara (TPS) itu.

Untuk mengamankan suaranya, bahkan Faldo sejak hari pencoblosan tidak pulang-pulang karena harus memantau penghitungan suara di tingkat kecamatan hingga KPUD. Alasannya, suaranya sempat hilang saat penghitungan di kecamatan.

“Suara saya sempat hilang 300 di Kecamatan Cibinong. Tapi, setelah di-cross-check dengan C-1 yang saya pegang, suara itu bisa kembali. Ini perebutan suara yang sangat kacau menurut saya. Atau mungkin saya sebagai pendatang baru jadi agak kaget melihat pencurian-pencurian suara entah oleh siapa,” terang Faldo.

Sekalipun akhirnya dia tidak lolos, Faldo tetap merasa bangga bisa memberikan perlawanan berarti di dapil neraka tersebut. Setidaknya dia bisa membantu partainya meraih kursi di dapil yang berisi caleg beken dari parpol kelas atas.


Reporter: Ibad Durohman
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE