INVESTIGASI

Misteri ‘Setan Gundul’ di Belakang Prabowo

Siapa 'setan gundul' yang dituding membisikkan data kemenangan menyesatkan kepada Prabowo? BPN Prabowo-Sandi mengklaim real count mereka mencapai 70 persen.

Foto: Deklarasi kemenangan Prabowo-Sandi, 17 April 2019 (Foto: Rfikianto Nugroho/detikcom)

Kamis, 9 Mei 2019

Istilah ‘setan gundul’, yang pernah populer saat Orde Baru, kini kembali menjadi perbincangan. Adalah politikus Partai Demokrat Andi Arief yang memunculkan istilah itu dalam cuitannya di situs microblogging Twitter.

“Dalam Koalisi Adil-Makmur, ada Gerindra, Demokrat, PKS, PAN, Berkarya, dan rakyat. Dalam perjalanannya, muncul elemen setan gundul yang tidak rasional, mendominasi dan, cilakanya, Pak Prabowo mensubordinasikan dirinya. Setan gundul ini yang memasok kesesatan menang 62 persen,” demikian cuitan Andi, Minggu, 5 Mei.

Andi menambahkan cuitannya, “Partai Demokrat hanya ingin melanjutkan koalisi dengan Gerindra, PAN, PKS, Berkarya dan rakyat. jika Pak Prabowo lebih memilih mensubordinasikan koalisi dengan kelompok setan gundul, Partai Demokrat akan memilih jalan sendiri yg tidak khianati rakyat.”

Cuitan itu pun lantas disambut oleh politikus Demokrat lainnya, Benny K Harman, di Twitter. Menurut Benny, pembisik kemenangan Prabowo yang mencapai 62 persen itu bukanlah setan gundul, melainkan monster demokrasi atau genderuwo. Mereka adalah tangan-tangan kotor tak kelihatan yang menjadi benalu demokrasi. “Namanya benalu yah lama-lama makan tuannya sendiri!” kata Benny

Namun baik Andi maupun Benny tidak menunjukkan siapa yang dimaksud dengan 'setan gundul' atau 'genderuwo' di belakang Prabowo itu. “Ya, tidak perlu juga maksudnya dipublikasikan. Karena publik yang akan menilai sendiri itu,” ucap Benny saat dimintai konfirmasi detikX, Senin, 6 Mei 2019.

Politikus Demokrat lainnya juga enggan menyebut secara tegas siapa gerangan setan gundul itu. “Kalau siapanya, namanya juga setan, kan nggak kelihatan. Tapi yang pasti jenisnya itu adalah orang yang memasok data ke Prabowo, memasok informasi ke Prabowo yang sesat, sehingga Prabowo mendeklarasikan menang 62 persen itu,” jelas Ketua DPP Demokrat, Jansen Sitindaon, kepada detikX, Senin, 6 Mei 2019.

Suasana input data Situng KPU Kabupaten Bogor 
Foto : Ibad Durohman/detikX

Menurut Jansen, yang dimaksud setan gundul adalah orang yang memberikan masukan, data, dan informasi yang sesat kepada Prabowo terkait kemenangan angka 62 persen. Sebab, Demokrat sendiri tidak percaya Prabowo bisa menang dengan angka sebesar itu.

Argumentasinya, saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maju pilpres sebagai capres petahana pada 2009, di tengah arus kuat dukungan untuk SBY, Ketua Umum Demokrat itu hanya mendapat 60,8 persen suara. Kala itu, SBY, yang berpasangan dengan Boediono, mematahkan perlawanan capres-cawapres Megawati Soekarnoputri-Prabowo.

“Itu rekor kemenangan terbesar pascapemilu langsung sejak 2004 di Indonesia. Jadi, jangankan ke Pak Prabowo, yang mengklaim menang 62 persen, ke Pak Jokowi saja di tengah suara-suara ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan Jokowi-JK, kami yakin juga kemenangannya tidak mungkin di atas 60 persen,” demikian analisis Jansen.

Ditambahkan Jansen, partainya tetap berada di barisan partai pengusung Prabowo sampai tahapan pemilu itu selesai, yakni pada 22 Mei mendatang. Dan sebagai anggota koalisi, Jansen pun mengaku dirinya dan kawan-kawan di Demokrat sudah mencurahkan semua kekuatan untuk memenangkan Prabowo.

Menilik deklarasi kemenangan pasca-Pilpres dan Pileg 17 April 2019, Prabowo mengatakan saat itu menang di posisi 62 persen. Data itu, kata Prabowo, berasal dari real count tim internal Prabowo-Sandi, yang telah menghimpun penghitungan lebih dari 300 ribu tempat pemungutan suara (TPS).

Prabowo juga bilang pihaknya sudah diyakinkan oleh para ahli statistik bahwa perolehan angka 62 persen itu tidak bakal berubah hingga seluruh data C1 selesai ditabulasi. Dia juga mengatakan siap menjadi presiden bagi seluruh rakyat Indonesia. Dia tak peduli rakyat itu termasuk pendukungnya atau bukan.

Ketum PA 212, Slamet Maarif
Foto : Samsudhuha/detikcom

"Saya akan jadi presiden seluruh rakyat Indonesia. Bagi Saudara-saudara yang membela 01, tetap kau akan saya bela, saya akan dan sudah menjadi Presiden Indonesia, Indonesia yang menang, Indonesia yang adil dan makmur," paparnya.

Saat mendeklarasikan kemenangannya tersebut, Prabowo setia didampingi oleh beberapa penggawa partai Koalisi Indonesia Adil-Makmur,  para purnawirawan TNI, serta sejumlah pentolan Persaudaraan Alumni 212 (PA 212). Sandi sendiri baru menghadiri deklarasi kemenangan ketiga kalinya karena alasan sakit.

"Saya bukan paranormal jadi bukan maqom saya lihat setan, saya fokus ke dunia manusia saja, saya tidak mau masuk dunia setan, karena kami bukan setan," kata Ketua Umum PA 212, Slamet Maarif, ketika dikonfirmasi.  

Sandi mengatakan pihak-pihak yang berada di panggung itulah yang menjadi pembisik Prabowo, meski tidak dijelaskan apakah termasuk angka kemenangan atau tidak. “Jadi, kalau ada yang memberikan masukan kepada Pak Prabowo, ya, orang-orang yang di depan itu,” kata Sandi. Lalu, mengenai setan gundul seperti yang dituduhkan oleh Andi, Sandi menilai itu merupakan sesuatu yang tidak jelas.

Menurut Benny, masalahnya adalah meski Prabowo menyebut ada real count internal, hingga sekarang proses real count itu juga tidak pernah dibuka kepada masyarakat. Seharusnya Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi membuat tabulasi yang hasilnya bisa diperbandingkan, misalnya, dengan Sistem Informasi Penghitungan Pemilu (Situng) milik KPU.

“Harus buka Situng tandingan dan harus dibuka kepada publik. Dan kalau perlu menyewa satu tempat dan C1-nya dibawa, karena C1 itu kata kunci. Dan C1-nya itu dihitung di situ dan ditayangkan secara terbuka kepada publik. Kan begitu,” tandas Benny.

Benny mengatakan bisa jadi tabulasi yang dilakukan BPN menggunakan formulir C1 memang benar adanya. Namun, sekali lagi, prosesnya haruslah transparan dan dibuka kepada publik. “Sekarang omongnya semua tidak jelas, sumbernya entah apa. Ini semua malah jadi bingung, karena tidak ada keterbukaan itu tadi,” katanya.

Berdasarkan penelusuran detikX sebelumnya, memang tidak jelas di mana proses real count itu dilakukan oleh kubu Prabowo-Sandi. Pascapilpres, tim Prabowo-Sandi sempat terlihat meriung di Hotel Ambhara, Kebayoran Baru, namun hanya berlangsung sehari dan itu pun kabarnya hanya untuk memantau quick count.

Benny K Harman (kiri)
Foto : Dok Benny K Harman

Andre Rosiade, juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, sempat menyebutkan real count itu dilakukan di ruangan yang steril di rumah Prabowo, Jl Kertanegara IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu, Andre sendiri juga belum bisa masuk ke ruangan tersebut.

Diwawancarai beberapa waktu lalu, Andre menyayangkan sikap Demokrat yang banyak berkomentar terkait koalisi di medsos, bukan di forum koalisi, sehingga menimbulkan polemik. Saat ditanya dari mana munculnya angka 62 persen kemenangan buat Prabowo-Sandi, Andre beralibi angka itu berdasarkan hitungan C1 yang masuk ke BPN sebanyak 40 persen.

Nah, sekarang angka itu sudah berubah seiring data yang masuk saat ini sekitar 70 persen. Meski angkanya sudah berubah, kata Andre, tetap Prabowo dianggap masih unggul. Ia mempersilakan para politikus di Koalisi Indonesia Adil-Makmur yang belum melihat data real count untuk datang saja ke BPN.

“Saya sudah telepon Bang Andi Arief setelah dia nge-tweet itu. Saya minta dia datang dan bawa teman-teman Demokrat, silahkan lihat data C1 yang kita input di data tabulasi kita. Itu betul-betul data real count,” ungkap Andre.

Dia pun menampik anggapan jika data C1 yang masuk dalam tabulasi yang dilakukan BPN merupakan data C1 bodong, seperti hasil temuan polisi di sebuah taksi online pada Sabtu, 4 Mei, lalu. Saat itu ribuan formulir C1 asal Boyolali, Jawa Tengah, diamankan di Menteng, Jakarta Pusat. Tetapi isi C1 itu disebut berbeda dari hasil rekapitulasi di TPS dan menguntungkan Prabowo-Sandi. 

Terkait temuan itu, Andre meminta Bawaslu menginvestigasinya. Namun C1 yang disita polisi bukan C1 yang berasal dari pihaknya. Andre menuding razia tersebut sebagai modus untuk menekan BPN dan relawannya.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE