INVESTIGASI

Kemenangan Kedua Jokowi

KPU menetapkan hasil pemungutan suara Pilpres dan Pileg 2019. Jokowi-Ma’ruf unggul belasan juta suara.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 21 Mei 2019

Kampung Deret di RT 14 RW 01 Kelurahan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, kembali disambangi Joko Widodo. Pada 2013, Jokowi, yang waktu itu menjabat Gubernur DKI Jakarta, meresmikan Kampung Deret sebagai contoh penataan wilayah padat penduduk.

Kali ini Kampung Deret dipilih Jokowi untuk memberikan pidato kemenangan dalam Pilpres 2019. Sebelum berpidato, Jokowi menyempatkan diri berjalan menyusuri kampung yang didominasi oleh warna hijau itu.

“Sambil menengok Kampung Deret yang dulu kita bangun. Tadi ada yang bisik-bisik, ‘Pak, dilanjutkan pembangunannya’. Dan saya sanggupi. Nanti saya izin dulu ke Gubernur,” kata Jokowi, Selasa, 21 Mei 2019.

Tepat pukul 13.00 WIB, cawapres pendamping Jokowi, Ma’ruf Amin, datang menyusul ke lokasi. Jokowi pun lantas membacakan pidato kemenangan didampingi oleh Ma’ruf dan dikelilingi oleh warga Tanah Tinggi.

Jokowi mengatakan bangsa Indonesia patut berbangga dan bersyukur telah terbukti menjadi bangsa yang dewasa. Bukti nyata itu adalah kedewasaan dalam berdemokrasi serta kemampuan menyelesaikan pemilu yang jujur, adil, dan penuh perdamaian.

“Pemilu demi pemilu telah kita lalui dengan penuh kedewasaan. Pemilu yang sekarang ini saya yakin akan bisa kita lalui secara damai dan sesuai amanat konstitusi kita,” kata Jokowi, yang mengenakan kemeja putih.

Jokowi lantas mengucapkan syukur bahwa dari rekapitulasi nasional yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umm pada dini hari sebelumnya, rakyat telah menentukan pilihannya dalam pileg maupun pilpres. “Itulah makna hakiki dari rakyat yang berdaulat.”

Ia dan Ma’ruf juga mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada mereka berdua untuk memimpin negara pada 2019-2024. Kepercayaan itu bakal ia wujudkan dalam program-program pembangunan yang adil dan merata untuk semua golongan.

Jokowi-Ma'ruf usai mememberikan pidato kemenangan Pilpres 2019 di Kampung Deret, Jakarta Pusat.
Foto : Ray Jordan/detikcom

“Setelah dilantik di bulan Oktober nanti, kami adalah presiden dan wakil presiden seluruh rakyat Indonesia. Kami adalah pemimpin dan pengayom dari 100 persen rakyat Indonesia. Kami akan berjuang keras demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat, bagi 100 persen rakyat Indonesia,” begitu kata Jokowi.

Sebelumnya, pada pukul 01.46 WIB, Komisi Pemilihan Umum menuntaskan rekapitulasi nasional Pemilu 2019 di 34 provinsi dan 130 wilayah luar negeri. KPU telah menetapkan hasil penghitungan suara pilpres dan pileg melalui Keputusan KPU No 987/PL.01.8-KPT/06/KPU/V/2019.

Jokowi-Ma’ruf menjadi pemenang Pilpres 2019 dengan perolehan suara sah sebesar 85.607.362 (55,50 persen). Sedangkan jumlah suara sah pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebanyak 68.650.239 (44,50 persen). Adapun jumlah suara sah nasional mencapai 154.257.601 suara.

Jokowi memilih Ma’ruf, Ketua Majelis Ulama Indonesia nonaktif, sebagai cawapres pada 9 Agustus 2018. Paslon ini didukung oleh sembilan partai politik, antara lain PDI Perjuangan, Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, Hanura, dan NasDem.

Jokowi-Ma’ruf unggul di 21 daerah provinsi di Indonesia, yakni Gorontalo, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Bali, Sulawesi Barat, Yogyakarta, Kalimantan Timur, dan Lampung.

Selanjutnya pasangan nomor urut 01 itu menang di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, Kepulauan Riau, Papua Barat, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Maluku, dan Papua.

Sedangkan Prabowo-Sandi unggul di 13 provinsi, yakni Bengkulu, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, Sumatera Barat, Banten, Aceh, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Riau.

image for mobile / touch device
image 1 for background / image background

Jokowi-Ma’ruf terpaut sekitar 16 juta suara lebih banyak dari Prabowo-Sandi atau sekitar 11 persen. Selisih itu lebih besar bila dibandingkan dengan hasil Pilpres 2014. Saat itu, Jokowi-Jusuf Kalla berselisih 6 juta suara atau 8 persen dari pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

Masih berkaca pada Pilpres 2014, Jokowi kini hanya berhasil merebut suara satu provinsi yang dahulu dimenangi Prabowo, yaitu Gorontalo. Namun Jokowi berhasil mempertebal kemenangannya atas Prabowo di Jawa Timur. Pada 2014, Jokowi hanya menang tipis di Jatim.

Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, dan Nusa Tenggara Timur tetap menjadi basis yang kuat bagi Jokowi. Namun Jokowi tidak bisa berbuat banyak di daerah-daerah pendukung militan Prabowo, seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Banten, tempat kelahiran Ma’ruf.

Kemenangan Jokowi-Ma’ruf sebelumnya terlihat dari hasil quick count sejumlah lembaga survei. Hasil survei LSI Denny JA misalnya menyebutkan Jokowi-Ma’ruf meraih 55,71 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 44,29 persen. Hasil quick count Cyrus Network-CSIS lebih mendekati hasil rekapitulasi KPU, yakni Jokowi-Ma’ruf (55,62 persen) dan Prabowo-Sandi (44,38 persen).

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding, menyoroti selisih suara antara paslon 01 dan 02 yang cukup besar. Menurutnya, selisih tersebut jadi bukti yang sah mayoritas rakyat meyakini Indonesia akan lebih baik dipimpin Jokowi untuk kedua kalinya.

"Perjuangan mendapatkan kepercayaan itu tak mudah. Karena kami menghadapi banyak tantangan, mulai fitnah, narasi hoax, hingga narasi politik kelompok yang semakin tajam," sebut Karding.

Sepanjang kampanye pilpres dan pileg serentak berlangsung, Jokowi memang terus diterpa kampanye hitam. Isu Jokowi sebagai keturunan Partai Komunis Indonesia masih muncul. Belakangan, Jokowi-Ma’ruf diserang kampanye hitam bakal melarang azan dan melegalkan perkawinan sejenis.

Karding mengajak kubu pasangan 02 dan pendukungnya bersatu. Ia juga mengajak Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga merajut kebersamaan. "Sekarang ini yang wajib kita lakukan bersama adalah bagaimana kita merajut kebersamaan, persaudaraan, dan persatuan Indonesia.”

Prabowo-Sandi saat menyikapi penetapan hasil penghitungan suara Pilrpres 2019 oleh KPU.
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

Namun kubu Prabowo-Sandi menolak penetapan hasil pilpres tersebut. Dalam jumpa pers di kediamannya, Jalan Kertanegara V, Kebayoran, Jakarta Selatan, Prabowo menyatakan pihaknya menolak penghitungan suara oleh KPU yang bersumber pada kecurangan.

Menurut Prabowo, pihaknya sudah memberi kesempatan kepada KPU untuk memperbaiki seluruh proses sehingga benar-benar mencerminkan hasil pemilu yang jujur dan adil. Namun hingga saat terakhir tidak ada upaya yang dilakukan KPU untuk memperbaiki proses tersebut.

“Oleh karena itu, sesuai dengan apa seperti yang pernah kami sampaikan pada kesempatan tanggal 14 Mei 2019 di Hotel Sahid Jaya, kami pihak paslon 02 menolak semua hasil penghitungan suara pilpres yang diumumkan oleh KPU pada tanggal 21 Mei 2019 dini hari tadi,” kata Prabowo.

Sempat tak akan membawa sengketa pilpres ke MK, akhirnya Prabowo memastikan bakal menggugat ke MK. Di sisi lain, ia tetap meminta agar para pendukungnya yang bergelombang datang ke Jakarta menggelar aksi secara damai.

Komisioner KPU Hasyim Asy’ari menuturkan pengaduan ke MK diberi waktu 3x24 jam setelah hasil pemilu ditetapkan. Jika dalam waktu itu MK menyatakan tidak ada yang melayangkan gugatan, KPU bakal menetapkan presiden dan wapres terpilih dan mengumumkannya.

“Pengaduan sengketa (ke MK) itu kan 3x24 jam. Jadi hitungnya 21, 22, 23, 24 Mei. Jadi KPU akan minta konfirmasi ke MK apakah ada pihak yang melakukan gugatan. Kalau tidak ada, segera kita tetapkan setelah dapat confirm dari MK," ujar Hasyim.


Reporter/Penulis: Gresnia Arela F
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE