INVESTIGASI

Senjata Ilegal dan Tudingan Makar pada Sang Jenderal

"Jadi (penyelundupan senjata) jangan dikait-kaitkan dengan GAM. Jangan seolah-olah GAM penjual senjata.”

Penulis: Kapolri Jenderal Tito Karnavian menunjukkan senjata ilegal yang bakal dipakai di aksi 22 Mei. (Eva Savitri/detikcom) 

Rabu, 22 Mei 2019

Menjelang aksi pada 22 Mei 2019, suhu politik semakin panas. Apalagi aksi yang dilakukan Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) terkait hasil Pilpres 2019 ditengarai ditunggangi oleh kelompok-kelompok gelap yang ingin memperkeruh suasana.

Bahkan ada upaya penyelundupan senjata yang diduga bakal digunakan untuk mengacaukan situasi. Tak tanggung-tanggung, orang yang diduga memasukkan senjata ilegal itu adalah seorang purnawirawan jenderal.

Pria itu adalah Mayjen (Purnawirawan) Soenarko, 65 tahun, mantan Komandan Korps Pasukan Khusus (Kopassus) dan Komandan Pusat Seni Infanteri (Pussenif) TNI Angkatan Darat. Soekarno juga saat ini menjabat Ketua Bidang Ketahanan Nasional Dewan DPP Partai Gerindra.

Belum jelas benar di mana Soenarko ditangkap atas kepemilikan senjata ilegal dan tudingan makar itu. Yang jelas, pria asal Medan, Sumatera Utara, tersebut dijebloskan ke sel Markas Polisi Militer Komando Daerah Militer (Pomdam) Jaya, Guntur, Jakarta Selatan, pada Senin, 20 Mei, malam.

Seorang anak buah Soenarko, Prajurit Kepala (Praka) BP, juga ditahan. Penyidikan terhadap Soenarko dilakukan Mabes Polri bekerja sama dengan POM TNI di Markas Puspom TNI di Cilangkap, Jakarta Timur.

Mayor Jenderal (purnawirawan Soenarko (Kanan)
Foto : Rengga Sancaya/detikcom

"Hal ini dilakukan karena salah satu oknum yang diduga pelaku berstatus sipil (Mayjen Purn S), sedangkan satu oknum lainnya berstatus militer (Praka BP)," kata Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Sisriadi dalam pesan singkatnya yang diterima detikX, Selasa, 21 Mei.

Menurut Sisriadi, Soenarko merupakan tahanan Mabes Polri yang dititipkan di Rutan Militer Guntur. Sedangkan Praka BP menjadi tahanan Mabes TNI, yang juga ditahan di Rutan Militer Guntur. Namun belum terang asal kesatuan serta peran BP dalam penyelundupan senjata api ilegal itu.

Memang, sehari sebelum penangkapan, Soenarko telah dilaporkan pengacara Sumihar Sahala atas tuduhan makar ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Soenarko, yang sempat bergabung dengan Partai Aceh pada 2012, diadukan atas videonya yang viral.

Video itu berisi ajakan kepada anak buahnya dan pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk melakukan people power atas kecurangan Komisi Pemilihan Umum dalam penghitungan Pilpres 2019. Pada 21 Mei, KPU menetapkan perolehan suara capres-cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul atas Prabowo-Sandi.

Petinggi Partai Gerindra itu dianggap telah melanggar Pasal 110 juncto Pasal 108 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Makar dan Pasal 163 bis juncto Pasal 146 KUHP tentang Kejahatan terhadap Ketertiban Umum. Atas laporan itulah polisi bergerak cepat melakukan penyidikan.

Di tengah penyidikan itulah, polisi menemukan dugaan Soenarko menyelundupkan senjata api ilegal jenis laras panjang serbu perorangan. Polisi bekerja sama dengan Puspom TNI melakukan pemanggilan, pemeriksaan, dan penahanan terhadap Soenarko di Rutan Militer Guntur.

Potret keriduhan di Tanah Abang pada 22 Mei 2019 pagi pasca aksi di Bawaslu sehari sebelumnya.
Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom

"Memang ada hukumnya, tidak mengada-ada, tapi memang menjaga keamanan nasional dibutuhkan tindakan tegas seperti itu," ujar Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto dalam keterangan pers di kantornya, Selasa, 21 Mei.

Menurut informasi, Soenarko memperoleh senjata api laras panjang jenis Colt M4 Carbine buatan Amerika Serikat. Senjata yang memiliki Laras 14,5 inci, peluru kaliber 5,56 milimeter, dan magasin berisi 30 peluru itu biasa digunakan militer Amerika Serikat.

Saat Soenarko diciduk, ditemukan satu pucuk senjata api itu bersama dua magasin, peredam suara, tali sandang, dan tas senjata. Ditaksir harganya US$ 725 atau Rp 10,5 juta. "Satu (pucuk). Tetapi menguasai senjata api berat ilegal tidak diizinkan siapa pun. Itu ada hukumnya. Ada undang-undangnya dan tidak mengada-ada," ujar Wiranto.

Sebelumnya, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menyatakan pihak intelijen sudah menangkap upaya penyelundupan senjata sebagai bukti adanya kelompok yang ‘bermain’ dan membuat ricuh saat pengumuman hasil Pemilu 2019 oleh KPU. Motif penyelundupan terindikasi untuk menciptakan isu adanya penembak jitu (sniper). Dan narasi akan adanya penembakan sudah diciptakan sebelumnya.

Selain Soenarko dan BP, ada tiga orang lainnya yang ditangkap terkait penyelundupan senjata laras panjang. Ketiganya adalah Asumardi sebagai pencari senjata, Helmy Kurniawan selaku penjual senjata, dan Irwansyah sebagai eksekutor.

"Eksekutor kepada siapa? Saya kira semua sudah tahu, pada pejabat yang sudah disiapkan sebagai sasaran. Ini saya sampaikan kepada publik agar publik paham tentang perkembangan situasi yang saya sampaikan,” kata Moeldoko di kantornya, gedung Bina Graha, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Rabu, 22 Mei.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan ketiga orang yang disebut Moeldoko ditangkap pada hari yang sama dengan penangkapan Soekarno dan Praka BP. Ketiga orang itu ditangkap bersama barang bukti berupa senjata laras pendek revolver jenis Taurus Glock 22 bersama dua dus peluru M-40 yang berisi 60 butir.

Kerusuhan di depan Baswaslu sehabis Maghrib, 22 Mei 2019
Foto : Agung Pambudhy/detikcom

"Tujuannya untuk apa? Informasi intelijen kita, senjata-senjata ini mereka pakai di antaranya, selain kepada aparat, pejabat, juga untuk ke massa supaya timbul martir. Alasannya buat publik marah, yang disalahkan aparat pemerintah," ungkap Tito dalam keterangan persnya yang didampingi Menko Polhukam Wiranto, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Moeldoko di kantor Menko Polhukam, Jakarta, Rabu, 22 Mei.

Dalam jumpa pers, Kapolri menunjukkan senjata-senjata hasil sitaan tersebut. Tito, pertama, menunjukkan senjata laras panjang M4 Carbine. "Senjata panjang jenis M-4 dilengkapi dengan peredam. Jadi, kalau ditembakkan, suaranya tidak kedengeran. Juga dilengkapi pisir, artinya bisa dipakai teleskop untuk sniper," ujarnya.

Selain menangkap para penyelundup senjata itu, Densus 88 Antiteror Polri menangkapi sejumlah pelaku teror yang akan ‘bermain’ dengan menggunakan bahan peledak serta empat senjata api laras panjang dan pendek.

Terkait isu bahwa selundupan senjata api M4 Carbine milik Soenarko berasal dari Aceh, mantan Menteri Pertahanan Gerakan Aceh Merdeka Zakaria Saman memastikan senjata yang diduga diselundupkan itu bukan senjata sisa konflik di Aceh. "Itu bukan senjata sisa konflik. GAM tidak punya lagi senjata, sudah diserahkan semua, sudah dipotong," kata Apa Karya, sapaan akrab Zakaria Saman, kepada wartawan di Banda Aceh, Rabu, 22 Mei.

Zakaria tak menampik bila dikatakan masih banyak senjata ilegal beredar di Aceh. Semua itu dimiliki dan dipakai sindikat mafia narkoba. Bila ada sabu masuk Aceh, dipastikan mereka membawa senjata untuk melindungi diri anggota mafia narkoba. "Jadi (penyelundupan senjata) jangan dikait-kaitkan dengan GAM. Jangan seolah-olah GAM penjual senjata," kata Zakaria lagi.


Reporter/Penulis: Gresnia F Arela, Agus Setyadi (Banda Aceh)
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE