INVESTIGASI

Rusuh Aksi 22 Mei

Buka Puasa Terakhir Sang Barista

“Dia bilang ingin jihad di Petamburan.”

Foto : Kerusuhan di Kawasan Slipi, Jakarta Barat, 22 Mei 2019 (Pradita Utama/detikcom)

Jumat, 24 Mei 2019

Selesai menyiapkan makanan untuk sahur, Yuliana mencari anaknya, Adam Nooryan, yang tak keluar-keluar dari dalam kamar. Rupanya Adam, anak sulung dari tiga bersaudara, itu, sudah tak ada lagi dalam kamarnya.

Khawatir putranya itu terlambat makan sahur, Yuliana mengambil telepon genggam dan kemudian mengirimkan pesan, "Dam, di mana?" Pesan Yuliana tak langsung berbalas. Baru sekitar pukul 04.15 WIB Adam mengirimkan jawaban singkat untuk ibunya, "Di sini."

Jawaban itu jadi pesan terakhir Adam bagi keluarganya. Tak sampai setengah jam kemudian telepon genggam Nurul Warsito, ayah Adam berdering. Dari ujung sana terdengar suara panik yang mengabarkan Adam berada di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan.

Nurul bergegas ke rumah sakit. Ia mendapati anaknya terluka di bagian dada dan punggung. "Saya masih dapat Adam bernafas dengan bantuan alat," ujarnya pada detikX di kediamannya. Adam meninggal kurang lebih satu jam pascamengirim pesan singkat pada ibunya.

Nurul Warsito, ayah korban kerusuhan 22 Mei, Adam Nooryan.
Foto : Indra Komara/detikcom


Semuanya bisa damai, bisa saling menyatu, semua warga Indonesia utamanya, nggak ada pecah-pecah lagi kayak gini, kayak dulu lagi lah."

Selasa, 21 Mei 2019 sore sebelumnya, tak ada yang berbeda di rumah keluarga Nurul. Seperti biasanya Adam baru tiba di rumah yang terletak di Jalan Sawah Lio Gang 3, Jembatan Lima, Jakarta Barat, setelah magrib. Adam bekerja sebagai barista di sebuah kedai kopi di Pluit, Jakarta Utara.

"Adam jadi barista sudah setahun lebih. Cita-citanya suatu saat pengen punya kedai kopi sendiri," ujar Nurul, lelaki asal Purwodadi, Jawa Tengah, itu. Nurul pun masih sempat berbincang dengan Adam saat buka puasa. "Dia nggak ngomong mau ke sana (Tanah Abang)."

Setelah makan, saat akan berangkat ke masjid untuk salat tarawih, Nurul melihat Adam tertidur. "Waktu saya pulang pun ia masih tidur," katanya. Namun kira-kira pukul 01.00 WIB lewat tengah malam, telepon Adam berdering. "Saya dengar, sepertinya dia mandi. Terus keluar rumah tidak pamit karena kami di kamar," ujar Yuliana.

Yuliana baru tahu kemudian ternyata telepon itu panggilan dari kawannya. "Mungkin mereka sudah janjian. Menurut pengakuan temannya itu mereka bertiga jalan ke Tanah Abang sekitar pukul 02.30 WIB."

Adam dan dua kawannya tiba saat situasi di Tanah Abang masih sangat panas buntut dari aksi 21 Mei di depan Badan Pengawas Pemilu. Ia dan seorang kawannya memberanikan diri maju ke depan. Seorang kawannya lagi menunggu di motor.

Saat aparat memukul mundur, Adam dan kawannya berlari. "Saat lari itu dia kena. Dari belakang dekat ketiak tembus ke dada," ujar Nurul. "Menurut dokter itu kena peluru tajam yang mungkin dari jarak dekat. Kalau kawannya yang satu kena peluru karet di lengan atas."

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ikut menggotong keranda jenazah Adam Nooryan
Foto : Indra Komara/detikcom

Jenazah Adam dikebumikan di TPU Duri Kepa, Rabu 22 Mei siang. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan turut melepas jenazah pemuda berusia 19 tahun itu di Masjid Al Mansyur, Jembatan Lima. Nurul berharap agar demonstrasi bisa berlangsung damai. Ia tak ingin lagi ada perpecahan, apalagi sampai mengakibatkan korban jiwa.

"Semuanya bisa damai, bisa saling menyatu, semua warga Indonesia utamanya, nggak ada pecah-pecah lagi kayak gini, kayak dulu lagi lah," katanya.

Adam Nooryan salah satu dari delapan korban tewas dalam kerusuhan yang terjadi Selasa 21 Mei 2019 malam sampai Rabu pagi keesokan harinya. Beberapa korban tewas terbilang masih berusia remaja.

Reyhan Fajari, warga Petamburan, Jakarta Pusat masih berusia 16 tahun. Reyhan meninggal saat mendapat perawatan di Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo. Begitu juga Widianto Rizky Ramadhan dari Palmerah, Jakarta Barat, yang masih berusia 17 tahun.

Rizky meninggal setelah mendapat perawatan di RSUD Tarakan. Ia terluka di bagian leher saat terjadi kericuhan di Petamburan. Liani, keluarganya menuturkan Rizky pergi diam-diam dari rumah usai salat subuh. Rizky tak mengindahkan larangan keluarga untuk keluar rumah.

"Dia bilang ingin jihad di Petamburan," kata Liani. Kepergian Rizky bersama kawan-kawan tetangganya kemudian berakhir tragis.

Sementara korban tewas lainnya diketahui berasal dari luar DKI Jakarta. Di antaranya Bachtiar Alamsyah dari Batuceper, Kota Tangerang; Farhan Syafero warga Depok, Jawa Barat; Abdul AZiz dari Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, Banten; Sandro asal Tangerang Selatan.

Potret kericuhan di kawasan Tanah Abang
Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom

Sandro meninggal dunia sehari setelah kericuhan setelah mendapat perawatan intensif di RSUD Tarakan. Satu lagi korban belum diketahui identitasnya. Kerusuhan tersebut juga mengakibatkan sebanyak 737 orang mendapat penanganan kesehatan.

"Mereka ditangani di RS di sekitar wilayah ini dengan jenis diagnosis terbanyak yang nontrauma 93, luka berat 79, luka ringan 462. Ada yang belum ada keterangan 96," kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Anies memaparkan jumlah paling banyak warga yang mendapatkan pelayanan kesehatan berusia 20-29 tahun, yakni 294 orang. Sedangkan warga usia di bawah 19 tahun sebanyak 170 orang.

Tak hanya merenggut korban jiwa dan luka-luka. Dalam kerusuhan sebanyak belasan mobil yang terparkir di asrama Brigade Mobil (Brimob) Polri di Petamburan, hangus terbakar akibat amukan massa. Kisruh juga sempat melebar sampai ke kawasan Slipi, Jakarta Barat. Slipi. Di sana, bus dan mobil polisi kembali menjadi sasaran amukan perusuh. Setidaknya ada enam kendaraan polisi rusak berat di dekat fly over Slipi.

Kerusuhan juga melumpuhkan aktivitas perekonomian di Pasar Tanah Abang. Pusat grosir tekstil yang disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara itu dipastikan ditutup sampai 25 Mei 2019 dengan menyesuaikan kondisi keamanan. Direktur Utama PD Pasar Jaya Arief Nasrudin menyebut kerugian akibat ditutupnya Pasar Tanah Abang sejak Rabu kemarin ditaksir mencapai Rp 700 miliar. "Perputaran uang di sana cukup besar, bisa di angka Rp 100-200 miliar sehari jika peak time," ujar Arief seperti yang dikutip CNBC Indonesia.

Sementara Kapolri Jenderal Tito Karnavian belum memberikan keterangan pasti soal korban tewas dalam kericuhan tersebut. Ia mengaku baru mendapat informasi ada korban tewas karena terkena senjata api dan senjata tumpul. Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme itu meminta aparat tak langsung disalahkan karena penyebab kematian para korban masih didalami. 

"Ingat ada kelompok yang bermain. Ada upaya memprovokasi dan setting itu. Dengan menciptakan martir, lalu menyalahkan aparat, membangun kemarahan publik," ujarnya saat konferensi pers bersama di kantor Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Rabu kemarin.

Suasana pemakaman korban kerusuhan aksi 22 Mei, Widianto Rizky Ramadhan
Foto : Rifkianto Nugroho/detikcom

Tito memberi penjelasan terdapat dua peristiwa dalam kejadian Selasa malam sampai Rabu pagi. Pertama, aksi damai di depan Bawaslu yang berlangsung sejak sore sampai malam. Aksi penyampaian pendapat  ini menurut Tito berlangsung aman. Massa perusuh baru muncul setelah peserta aksi damai di depan Bawaslu membubarkan diri.

"Sekitar pukul 21.00 WIB sudah clear sebetulnya. Namun sekitar pukul 22.30 sampai pukul 23.00 WIB datang sekitar 300-400 orang anak muda mendatangi Bawaslu dari arah Tanah Abang melempar petugas yang bertugas di sana dengan alat-alat yang membahayakan. Bukan batu kecil, tapi besar, molotov, dan petasan," kata Tito.

Kamis 23 Mei kemarin, Kapolri membentuk tim investigasi untuk mengusut kematian para korban. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen M Iqbal mengatakan, tim investigasi itu dipimpin oleh Irwasum, Komjen Putut Eko Bayuseno. Namun, Iqbal memastikan, korban tewas adalah masa perusuh, bukan massa aksi 22 Mei.

“Itu yang harus diketahui publik, bahwa yang meninggal dunia adalah massa perusuh, bukan massa yang sedang berjualan, massa yang beribadah, tidak," ucap Iqbal.


Reporter: Gresnia Arela F
Redaktur: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE