INVESTIGASI

Jeritan-jeritan
di Alas Roban

“Kita pedagang di jalur Alas Roban terkena imbasnya. Omzet kita turun hingga 90 persen.” Begitu nasib pedagang di Alas Roban terimbas jalan tol Trans Jawa.

Foto: Muhammad Abdurroyid/20Detik

Rabu 29 Mei 2019

Hari-hari Siti Muayanah kini lebih banyak dihabiskan untuk melamun di sepanjang harinya. Barang dagangannya seperti kopi, kelapa muda, mie rebus, dan gorengan semenjak subuh masih saja utuh. Tidak ada satupun pengunjung yang mampir ke warung kopi miliknya yang terletak di jalur Alas Roban, Jalan Baru, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Dari hari ke hari, Siti cemas keberlangsungan usaha yang telah ia lakoni selama puluhan tahun akan bangkrut. Padahal biasanya, memasuki pertengahan puasa seperti saat ini, jalur Alas Roban sudah mulai ramai dipadati kendaraan yang akan mudik.

Memang sejak Presiden Joko Widodo meresmikan Tol Trans Jawa yang menyambungkan Merak hingga Surabaya pada 20 Desember 2018, kondisi jalur Alas Roban dari hari ke hari kian sepi. Hal ini berimbas pada pendapatan warung milik Siti yang mengandalkan dari kendaraan yang melintas di sepanjang jalur Alas Roban.

Siti bercerita setelah adanya tol omzetnya menurun hingga 90 persen. “Titik sepinya itu dimulai ketika libur tahun baru kemarin. Ketika itu tol sudah dioperasikan dan masih gratis. Hampir semua kendaraan akhirnya menggunakan tol. Kita pedagang di jalur Alas Roban terkena imbasnya. Omzet kita turun hingga 90 persen. Biasanya kita mendapat untung setiap libur natal dan tahun baru, kemarin itu tidak sama sekali," kata Siti Muayanah kepada detikX di Alas Roban, Jumat, 17 Mei 2019.

Siti Muayanah (42), pedagang kopi di Jalan Baru Alas Roban, Batang Jawa Tengah.
Foto : Ibad/DetikX


Jalan itu dibangun Belanda untuk menyambungkan jalur perekonomian antara kota maju dan kota terpencil di area Jawa Tengah.”

Terakhir kali kemacetan panjang di jalur Alas Roban terjadi ketika arus mudik tahun 2016 yang lalu. Tahun itu memang Tol Trans Jawa belum tersambung sepenuhnya. Baru sampai Brebes. Sehingga arus kendaraan dari Jakarta yang yang ingin menuju Semarang dan sekitarnya via jalur Pantura masih melewati Alas Roban.

Pada arus mudik tahun 2017 dan 2018 sebetulnya sudah terjadi penurunan volume kendaraan. Hal ini terjadi karena sebagian pemudik sudah mulai melewati Tol Trans Jawa yang ketika itu masih fungsional. Meski begitu, menurut Siti, Alas Roban masih sedikit padat dilalui oleh para pemudik.

“2017 dan 2018 masih lumayan ada yang mampir, walaupun terus menurun setiap tahun. Nah, mungkin tahun ini lebih parah lagi” kata Siti.

Sebelum ada Tol Trans Jawa, jalur Alas Roban memang sering menjadi biang kemacetan tiap kali musim mudik tiba. Bentuk jalan yang menikung dan menanjak tajam membuat pengendara harus ekstra hati-hati saat melintasinya.

Minimnya penerangan juga membuat Alas Roban rawan akan kecelakaan lalu lintas. Kondisi seperti itulah yang membuat kemacetan panjang saat arus lalu lintas sedang padat tak terhindarkan.

Nama Alas Roban sendiri, menurut Alexander Rujito Rubben, Banpol (Bantuan Polisi) yang berjaga di Pos Polisi Alas Roban, diambil dari bahasa Jawa yang berarti ‘Hutan Roban’. Nama itu diambil karena pada saat jalan itu dibuat oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, pada tahun 1808, harus membelah hutan belantara alias ‘Alas Roban’.

“Jalan itu dibangun Belanda untuk menyambungkan jalur perekonomian antara kota maju dan kota terpencil di area Jawa Tengah,” kata Rujito kepada detikX di Pos Polisi Alas Roban, Jumat, 17 Mei 2019.

Alexander Rudjito Ruben, Banpol (Bantuan Polisi) Pos Polisi Alas Roban.
Foto : Ibad/DetikX

Menurut Rujito, Alas Roban sudah langganan macet sejak tahun 1990-an. Oleh sebab itu pemerintah ketika itu memutuskan untuk menambah lagi jalur di kawasan tersebut. Makanya saat ini jalur Alas Roban terbagi pada tiga jalur.

Jalur pertama disebut Jalan Lama atau Jalan Poncowati. Jalur ini adalah jalur khusus untuk kendaraan besar seperti truk berukuran sedang ataupun bus-bus. Karakter jalan di jalur ini sangat tricky, selain sempit jalannya juga sedikit menanjak dan berkelok-kelok.

Jalur kedua jalan beton atau jalan Lingkar Selatan. Jalur ini merupakan jalan khusus untuk truk-truk besar macam truk trailer ataupun truk gandeng. Jalan ini adalah jalan yang paling lebar, namun memiliki tanjakan dan turunan yang paling curam.

Dan terakhir disebut Jalan Baru jalan ini relatif lebih aman karena jalannya cukup landai, jalan ini dikhususkan untuk kendaraan kecil dan kendaraan beroda dua. Biasanya pemudik yang menggunakan mobil pribadi menggunakan jalan ini.

Tidak jauh berbeda dengan dengan Siti yang berjualan di jalan Baru Alas Roban, kondisi kedua jalan yang lainnya pun cenderung lengang. Seperti ketika detikX menyusuri jalur-jalur itu pada Jumat, 17 Mei 2019. Jalur Beton yang biasanya dipenuhi oleh truk-truk yang hilir mudik, hari itu tampak normal saja tidak ada kepadatan yang berarti.

Sepinya jalan beton itu bisa terlihat dari banyaknya usaha-usaha rumah makan di kawasan itu yang tutup. Kalaupun ada yang berusaha untuk tetap bertahan menjalankan bisnisnya, mereka harus rela kehilangan 80 hingga 90 persen dari omzetnya.

Seperti yang terjadi pada Rumah Makan Bukit Sentul. Rumah makan ini dulunya merupakan salah satu rumah makan terfavorit bagi supir-supir truk lintas Sumatera untuk makan dan beristirahat. Tempat parkir di rumah makan ini sangat luas, bisa menampung hingga 50 truk trailer besar.

Suasana rumah makan Sedang Wungu di Jalan Lama Alas Roban

Ati Indah Hasanah, Staf Keuangan dan Administrasi Rumah Makan Sedang Wungu

Siang itu hanya ada dua truk berukuran sedang yang sedang terparkir di halaman. Fitroh Fatma Fitriana, pemilik rumah makan itu mengaku satu tahun belakangan ini, utamanya ketika jalan Tol Trans Jawa sudah mulai beroperasi, usahanya makin hari makin seret. Omzetnya menurun drastis hingga lebih dari 90 persen.

“Penurunannya banyak sekali, lebih dari 90 persen. Anda lihat sendiri, parkiran luas begitu yang parkir ada berapa biji? Dulu 50 truk parkir sudah biasa. Sekarang 5 truk saja dalam sehari sudah untung,” ucap Fitriana saat ditemui detikX di rumah makan miliknya di jalur beton Alas Roban Jumat 17 Mei 2019.

Sebelum adanya tol, Fitriana mengaku omzetnya dalam sehari tidak kurang dari Rp 1,5 juta. Kini setelah adanya tol omzetnya menyusut drastis. Dalam sehari Fitriana hanya mendapatkan Rp 150-200 ribu. Itu pun belum dipotong operasional dan gaji karyawannya.

Dengan kondisi seperti itu, Fitriana mau tidak mau harus merumahkan para karyawannya. Dua tahun yang lalu Firtiana masih memiliki 6 orang karyawan yang membantunya. Saat ini tinggal satu orang karyawannya yang tersisa. “ Ya, mungkin kita akan berusaha bertahan sampai menjelang lebaran, setelah itu kita akan tutup,” tutur Fitriana dengan nada sedih.

Kondisi serupa juga terjadi di Jalan Lama. Di jalur ini juga banyak usaha bengkel, tambal ban atau rumah makan yang bertumbangan. Salah satu rumah makan yang melegenda di jalur ini adalah rumah makan Sedang Wungu yang sudah lebih dari 30 tahun berdiri.

Fasilitas di rumah makan ini mugkin salah satu yang terlengkap di Jalan Lama Alas Roban. Area parkirnya luas. Ada masjid besar, pusat oleh-oleh dan suvenir, hingga menyediakan fasilitas kantor gratis untuk PO-PO bus. Tak heran rumah makan ini menjadi favorit untuk bus dan penumpang makan dan beristirahat.

Ati Indah Hasanah, Staf Keuangan dan Admistrasi Rumah makan Sedang Wungu yang ditemui detikX mengungkapkan, saat ini omzet rumah makannya menurun hingga lebih dari 80 persen sejak beroperasinya jalan Tol Trans Jawa. Jika sebelumnya dalam sehari rumah makan itu bisa kedatangan 100 sampai 120 bus, kini berkurang hingga lebih dari separuhnya.

“Jelas omzet kita menurun hingga 80  persen lebih dan trend-nya terus menurun. Jika terus menerus seperti ini kita terancam collaps, karena kita sudah sampai titik lebih besar pengeluaran daripada pendapatan,” ungkap Hasanah di rumah makan Sedang Wungu jalan Lama Alas Roban, Jumat 17 Mei 2019.

Kondisi Jalan di Alas Roban

Foto : Muhammad Abdurroyid

Kondisi Jalan di Alas Roban

Foto : Muhammad Abdurroyid

Kondisi Jalan di Alas Roban

Foto : Muhammad Abdurroyid

Kondisi Jalan di Alas Roban

Foto : Muhammad Abdurroyid

Kondisi Jalan di Alas Roban

Foto : Muhammad Abdurroyid

Berbagai langkah telah dilakukan oleh pihak manajemen rumah makan, mulai dari efisiensi operasional hingga menyewa tepat di rest area jalan tol. Namun, upaya-upaya itu belum membuahkan hasil. Harga sewa tempat di rest area terlampau mahal dan tidak sebanding dengan pemasukan yang didapat. Sehingga dengan terpaksa manajemen harus mengakhiri kontrak di rest area itu lebih awal.

Menurut Hasanah, banyak PO-PO bus yang sebelumnya bermitra dengan rumah makanya kini satu persatu memutus kontrak kerja sama. Hal itu tidak bisa dihindari karena setelah adanya Tol Trans Jawa para perusahaan bus lebih memilih untuk mengalihkan rutenya ke jalan tol karena lebih cepat dan efisien ketimbang melewati jalur Pantura.

Langkah terakhir yang bisa dilakukan oleh Hasanah dan manajemen adalah melakukan pendekatan kepada PO-PO bus untuk mampir di rumah makan Sedang Wungu.

“Begitulah kondisinya. Kita hanya bisa melakukan pendekatan ke PO-PO bus untuk sebisa mungkin tetap mampir ke sini. Cuma itu yang bisa kita lakukan, karena kan sebetulnya supir pasti inginnya masuk tol karena lebih efisien” Kata Hasanah.

Bagi Rujito yang sehari-hari bertugas membantu polisi dalam penanganan kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Alas Roban menilai adanya Tol Trans Jawa ibarat pedang bermata dua. Ada sisi baik dan sisi buruknya. 

“Pembangunan Jalan Tol itu ada plus minusnya. Sisi baiknya kenyamanan pengendara yang ingin bepergian  semakin baik dan angka kecelakaan di Alas Roban menurun. Namun sisi buruknya adanya pembangunan Tol Trans Jawa itu memukul perekonomian masyarakat sekitar,” kata Rujito.

Video : Muhammad Abdurrosyid - 20DETIK


Reporter/Penulis: Ibad Durohman
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE