INVESTIGASI

HILANG GERBANG MACET BERGANTI 

Gerbang tol Cikarang Utama dipindah karena beban yang berat akibat pembangunan tol layang. Namun kemacetan arus mudik bergeser ke gerbang tol yang baru.

Foto: kepadatan antrean di Gerbang Tol Cikampek Utama, Kamis 30 Mei 2019 (Isal Mawardi/detikcom)

Minggu, 02 Juni 2019

Kemacetan sepanjang 37 kilometer pada Rabu malam, 29 Mei 2019, menjadi catatan pembuka arus mudik di H-7 Lebaran tahun ini. Data PT Jasa Marga menyebutkan, sebanyak 57.405 kendaraan tercatat meninggalkan Jakarta melalui gerbang tol Cikampek Utama. Jumlah tersebut naik 144,44 persen dari lalu lintas hari biasa sebanyak 23.484 kendaraan.

Badan Usaha Milik Negara yang mengurus jalan tol itu menyatakan, kemacetan tersebut selain karena peningkatan volume kendaraan para pemudik juga lantaran melintasnya truk di tol terpadat di Indonesia tersebut. Sebab masa pembatasan kendaraan angkutan barang non-BBM dan sembako baru berlaku Kamis, 30 Mei, sesuai Permenhub No. 37 Tahun 2019.

Untuk mengantisipasi kemacetan yang melelahkan bagi pemudik, sejumlah rekayasa kemudian dilakukan, yakni contra flow dan one way yang diberlakukan pada Kamis, 30 Mei, mulai pukul 05.30 WIB untuk contra flow dan 09.00 WIB untuk one way. One way berlaku dari Cikampek Utama hingga Brebes barat. Cara ini terbukti efektif, karena dalam hitungan dua jam pasca kemacetan panjang Rabu malam mulai cair.

Sebelumnya, Ahmad Zamzuri, Kepala Gerbang tol wilayah 3 Cikarang Utama, kepada detikX, mengatakan, pergeseran gerbang tol dari Cikarang Utama ke Cikampek Utama diharapkan bisa memecah konsentrasi kepadatan di Cikarang Utama. Apalagi buntut dari proyek tol layang membuat enam gardu tol di situ hilang terimbas proyek.

Gerbang Tol CIkampek Utama ketika masih dalam tahap pembangunan. Foto diambil Kamis 16 Mei 2019
Foto : Hafidz Mubarak/ANTARA FOTO

“Di sini (Cikarang Utama) sudah tidak bisa menampung kendaraan sehingga terjadi kemacetan yang cukup parah dengan adanya proyek elevated (tol layang) ini. Banyak lajur yang termakan sehingga kapasitasnya menurun. Dengan dipindahnya gerbang tol ini akan memperlancar arus mudik karena antrean sudah terpecah dua,” kata Zamzuri beberapa waktu lalu.

Untuk one way ini sebetulnya bukan pertama kali tapi ini sudah di periode ketiga. Bedanya, one way 2019 itu sudah disosialisasikan ke masyarakat sebelum pelaksanaan.'

Praktis, lanjut Zamzuri, yang akan melewati gerbang tol Cikampek hanya pemudik yang punya tujuan ke arah Cirebon dan seterusnya. Sementara pemudik atau kendaraan yang bertujuan ke Bandung, Tasikmalaya, Garut, dan Ciamis sudah berbelok ke ruas Tol Purbaleunyi di Km 67.

Namun, pemindahan gerbang tol di Cikampek Utama tetap saja tak mampu meredakan kemacetan yang terjadi. Kemacetan pada Rabu malam di sepanjang tol Cikampek masih berlanjut hingga Kamis 30 Mei 2019. DetikX yang menjajal perjalanan mudik mengalami macet yang cukup panjang hingga lima jam di tol sepanjang 70 Km itu.

Di gerbang tol Cikampek Utama, antrean kendaraan masuk gerbang sangat padat. Belum lagi sempat ada kendala mesin gardu otomatis yang mati, sehingga pemudik harus membayar secara tunai. Selepas gerbang tol Cikampek Utama, kemacetan di jalur Cipali pun masih luar biasa terjadi.

Banyak pemudik yang kelelahan karena macet beristirahat di bahu jalan dan tidur beralas tikar di atas aspal. Alhasil, sejumlah personel polisi sibuk membangunkan mereka agar lekas melanjutkan perjalanan. Pasca one way diberlakukan, kemacetan berangsur mereda. Beberapa hari kemudian, pola kemacetan yang sama terjadi kembali.

Gerbang Tol CIkarang Utama yang kini telah dibongkar.
Foto : Dok NTMC

Adapun Corporate Secretary (Corsec) PT Jasa Marga Mohamad Agus Setiawan, semula mengatakan, dari perencanaan awal, one way rencananya akan dilakukan 3 hari mulai H-3. Sebab rentang waktu tersebut merupakan puncak arus mudik. Lokasi one way dimulai di Cikarang Utama sampai dengan pintu tol Brebes Barat.

“Untuk one way ini sebetulnya bukan pertama kali tapi ini sudah di periode ketiga. Bedanya, one way 2019 itu sudah disosialisasikan ke masyarakat sebelum pelaksanaan. Untuk yang sebelumnya dari segi panjang jalannya tidak sepanjang yang sekarang,” jelas Agus.

Untuk mengantisipasi kebingungan pemudik saat mulai one way, PT Jasa Marga menyiapkan sejumlah rambu. Spanduk-spanduk hibauan dan informasi seputar one way, agar masyarakat terinformasi dan bisa merencanakan perjalanan lebih baik.

Antisipasi serta imbauan yang dilakukan, misalnya, terkait persimpangan dan rest area. Sebab dengan diberlakukannya one way seluruh jalur tol akan digunakan untuk mudik dari Jakarta menuju arah timur yang diistilahkan Jasa Marga dengan “Jalur A”. Sementara arus balik akan dilakukan sebaliknya. Dari arah timur Jawa menuju Jakarta bisa menggunakan seluruh jalur tol dari Brebes menuju Cikarang Utama atau disebut “jalur B”.

Karena ada perubahan jalur tersebut tentu akan berdampak pada rest area yang dilintasi. Untuk itu rest area yang ada di jalur balik diubah pintu masuk dan pintu keluarnya. Begitu pun sebaliknya. “Nah untuk marka jalan tidak akan kita pasang permanen karena hanya beberapa hari saja. Yang diperbanyak adalah rambu-rambu dalam bentuk spanduk, cone portable, dan message yang tertempel di kendaraan patroli. Pokoknya petugas di lapangan akan memberikan info secara maksimal,” kata Agus.

Sementara untuk rute exit tol seperti yang ingin keluar ke Cirebon, pemudik diminta untuk menggunakan jalur A. Sebab pintu masuk atau keluar di jalur B akan ditutup selama arus mudik. Sementara pada arus balik pintu keluar masuk di jalur A di sepanjang tol Brebes-Cikarang Utama yang akan ditutup.

Para pemudik arus lebaran 2019 yang beristirahat di bahu jalan Tol Cipali selepas dari Gerbang Tol Cikampek Utama. 
Foto : Irwan Nugroho/detikX

“Untuk gate atau transaksi tidak ada perbedaan dan tidak terkait. Ini lebih kepada traffic management. Masalah transaksi tidak masalah. Yang ada adalah gerbang tol yang mau masuk ke arah Jakarta semua akan di tutup saat arus mudik karena kan jalur lagi one way sampai Brebes,” begitu kata Agus.

Pemberlakuan one way dari Cikarang Utama hingga Brebes bukan tanpa alasan. Sebab selama mudik dari beberapa tahun sebelumnya jalur ini yang mengalami kepadatan tingkat tinggi saat mudik. Selepas Brebes kondisi kepadatan mulai terurai karena banyak pemudik yang keluar menuju arah selatan, seperti Bumiayu, Purwokerto dan sebagainya.

Sementara untuk mengantisipasi kepadatan di rest area, imbuh Agus, Jasa Marga akan terus memberi informasi seputar kapasitas rest area yang ada di sepanjang jalur yang dilewati pemudik sehingga pengendara akan mengurungkan niatnya masuk rest area jika dinyatakan sudah penuh sehingga tidak menimbulkan kemacetan di pintu rest area.

Sementara Dirlantas Polda Jateng Kombes Pol Rudi Antariksawan, bilang selama pemberlakuan one way untuk kendaraan dari arah Jawa menuju Jakarta di saat arus mudik digiring melewati jalur arteri yakni jalur Pantura. Begitu pun saat arus balik, kendaraan yang dari Jakarta ke arah timur akan diminta lewat jalur arteri.

“Yang jelas, nanti dari Cikampek pokoknya one way sampai Brebes Barat, karena one way maka dipakai jalur kiri dan jalur kanan. Dengan kata lain nanti di Brebes Barat-Pejagan pintu tolnya yang arah Jakarta ditutup semuanya jadi exit untuk keluar. Dan itu semua sudah disiapkan Korlantas dan Jasa Marga,” katanya.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE