Surga Baru
Turis Arab
di Puncak

Pelancong muda asal Timur Tengah mengincar daerah Cipanas untuk berwisata. Warung Kaleng dan Ciburial sudah terlalu sesak menampung wisatawan Timur Tengah.

INVESTIGASI 25 Januari 2016

Wisatawan Timur Tengah pertama kali masuk Puncak di Warung Kaleng Cisarua, Bogor, tahun 1985. Kawasan itu berkembang menjadi Kampung Arab. Seiring padatnya Warung Kaleng, turis Timur Tengah menyasar destinasi baru, yaitu Kota Bunga dan Taman Bunga Nusantara di Cipanas.

Raungan sepeda motor terdengar memekakkan telinga ketika memasuki kompleks Vila Kota Bunga, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Rombongan pemuda Timur Tengah menggeber tuas gas.

Mereka berkendara beriringan. Sepeda motor sport 250 cc berada di depan. Sedangkan beberapa pemuda berwajah Arab lainnya mengendarai sepeda motor matik di belakang.

Ingar-bingar pelancong Timur Tengah mulai sering mewarnai kawasan Cipanas di sepanjang Hanjawar, Loji, hingga Cineungah. Sejak 2014, kawasan yang dikenal sebagai Puncak 2 itu menjadi destinasi wisata baru bagi turis Timur Tengah.

Namun turis berusia muda lebih dominan di kawasan ini. Pemilik rental sepeda motor, Nurjen, mengakui kendaraannya kerap disewa untuk hura-hura. Ia meraup rezeki dari foya-foya turis muda itu. Setengah hari saja, ia bisa memperoleh pendapatan Rp 1 juta. "Modal saya 3 motor matik," ujar Nurjen.

Kedatangan para turis itu mengubah wajah Cipanas. Di sepanjang Jalan Raya Puncak-Cianjur di Hanjawar, Loji, hingga Cineungah, kini berjajar toko bertuliskan huruf Arab. Mulai toko Mat'am, yang menyediakan makanan khas Timur Tengah, tempat pijat, sampai agen perjalanan.

Para pelayan toko dan warga di sekitar Cineungah ikut beradaptasi dengan makin banyaknya turis asing di daerah mereka itu. Mereka menguasai bahasa Arab. Namun kebanyakan mereka berbahasa Arab pasaran (Arab suqiyah), berupa bahasa percakapan pendek sehari-hari, buat bertransaksi.

Dua orang wisatawan asal Timur Tengah tengah bersepeda motor di kawasan Kota Bunga, Cianjur.
Rengga Sancaya/detikX

Untuk destinasi wisatawan Timur Tengah di Cipanas, Kota Bunga boleh dibilang pusatnya. Puluhan bangunan vila dimiliki oleh pengembang besar dengan tema kota-kota di luar negeri, seperti Vila Birmingham, Vila Swiss, Vila Osaka, dan Vila Little India.

Menurut Andri, salah satu penduduk setempat, Kota Bunga membuat kawasan itu berkembang. Kota Bunga sebenarnya merupakan wilayah eksklusif yang terdiri atas beberapa vila mewah.

Penduduk sekitar juga mengembangkan vila di luar Kota Bunga. Harga sewa untuk turis Arab tentu berbeda dengan tarif buat turis lokal. Harga sewa vila semalam untuk turis lokal Rp 1 juta, tapi harga menjadi dua kali lipat jika penyewanya adalah orang Arab.

Muhammad ibn Abdul Karim, turis asal Arab Saudi, langsung jatuh cinta pada Indonesia begitu menginjakkan kaki di kawasan itu. Tempat tersebut memanjakan dirinya dengan hamparan pegunungan hijau, udara segar, dan perempuan cantik. Suasana ini tak dia jumpai di negara asalnya, Arab Saudi.

Selasa, 5 Januari 2016, Karim bertandang ke Puncak untuk berbulan madu. Saudaranya memberi referensi mengenai Puncak, tempat yang oleh sebagian orang Timur Tengah disebut sebagai Jabal al-Jannah, Gunung Surga.

"Saya baru pertama kali ke Indonesia. Saya sangat marah, kenapa tidak dari dulu datang ke Indonesia. Saya sering ke Dubai. Saya sangat suka sekali Indonesia. Di sini pemandangannya lebih bagus," ujarnya.

Semasa masih bujang, Karim biasa melancong ke Dubai dan Malaysia. Keindahan tempat-tempat itu langsung buyar ketika ia tiba di Puncak. Dubai tak menyediakan hamparan hijau dan udara sejuk, sedangkan Malaysia membuat kantongnya lekas cekak karena harga barang-barang yang mahal.

113935
2009
143002
2010
163497
2011
144386
2012
187439
2013
216313
2014
Data Kunjungan Turis Timur Tengah ke Indonesia
Sumber: Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif

Baginya, ongkos berlibur ke Indonesia cukup murah. Karim mempersiapkan uang 180 ribu Riyal atau setara dengan sekitar Rp 66 juta untuk bulan madunya. Perkiraannya, uang itu cukup untuk menetap di Indonesia selama 15 hari.

"Jika saya pergi ke Malaysia, lebih mahal. Jadi saya sangat suka shopping, seperti baju dan celana, di Indonesia karena murah-murah," ujarnya.

Sebelumnya, para turis Timur Tengah memilih destinasi wisata di kawasan Puncak, Bogor, tepatnya di Warung Kaleng dan Ciburial. Keduanya terletak di sekitar pintu masuk kebun binatang Taman Safari Indonesia.

Kehadiran wisatawan Timur Tengah ke daerah ini dimulai sejak 1985. Turis dari Arab Saudi, Kuwait, Iran, Irak, dan Maroko memenuhi tempat ini pada musim-musim tertentu, seperti sehabis musim haji, hari raya Maulid Nabi, dan pertengahan bulan Maret.

Sebutan Kampung Arab atau Little Arab pun sudah lama disematkan pada kawasan itu. Plang pertokoan di pinggir jalan teramat riuh dengan huruf Arab. Di sepanjang jalur Puncak yang membelah Warung Kaleng, orang-orang Arab pun berlalu lalang.

Para turis itu semakin mudah dijumpai selepas magrib. Mereka menghabiskan waktu dengan berbelanja, makan di restoran, ke salon, atau sekadar berjalan-jalan menikmati suasana Puncak.

Kepala Desa Tugu Selatan Abdul Lukman menyebut Warung Kaleng sebagian masuk wilayah administrasinya, selebihnya masuk Desa Tugu Utara. Penamaan Warung Kaleng sendiri karena dulu banyak toko beratap seng.

“Sekarang disebut Kampung Arab karena ramai dalam sepuluh tahun terakhir,” ujarnya.

Kehadiran para turis itu membawa rezeki tersendiri bagi wilayahnya. Roda pariwisata pun menggelinding. Bisnis vila selalu ramai ketika musim turis Timur Tengah. Abdul mencatat, pemasukan dari sewa dan pajak vila ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Bogor mencapai Rp 6 miliar per tahun.

Tahun 2015, data Badan Pusat Statistik menyebutkan jumlah wisatawan Arab yang berkunjung ke Indonesia 814 ribu orang, naik dari tahun sebelumnya sebanyak 772 ribu.

Namun belum ada data mutakhir tentang jumlah kunjungan turis Arab ke Puncak. Dinas Wisata dan Budaya Kabupaten Bogor mendata, pada 2012 turis Arab yang menyambangi Puncak sebanyak 62 ribu orang.

Pemerintah Kabupaten Bogor sendiri menargetkan, tahun 2016 dapat menggaet 6 juta wisatawan, baik mancanegara maupun lokal. Banyak pemasukan dari kehadiran wisatawan Timur Tengah ini.

Selain pariwisata, berkah lain dibawa oleh turis-turis ini. Orang Timur Tengah cukup dermawan untuk menyumbang pembangunan masjid. Sebanyak 12 masjid di Desa Tugu Selatan disumbang oleh turis-turis ini.

Abdul ingin sumbangan ini masuk melalui desa. Namun mereka lebih suka langsung memberikan dana kepada pengurus masjid. Tak jarang biaya pembangunan masjid ditanggung sepenuhnya oleh mereka.

Suasana di Warung Kaleng yang banyak didominasi turis Arab.

Okta Marfianto/detikTv

"Nah, orang Arab itu, bedanya, kalau masjid sudah ada, dia tidak mau (menyumbang), maunya tanah kosong (dimulai dari nol)," tuturnya.

Namun kedatangan wisatawan Timur Tengah itu juga membawa keresahan. Prostitusi berkedok kawin kontrak menjadi fenomena yang melegenda di Warung Kaleng dan Ciburial. Prostitusi pun juga mulai menggejala di Cipanas.

Kepala Seksi Obyek dan Daya Tarik Wisata Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor Wardani membantahnya. Ia menyebutkan petugas Dinas Pariwisata pernah melakukan "pemantauan" beberapa waktu lalu. Hasilnya, tidak ada hal-hal negatif yang dilakukan para pelancong itu.

.....

Musim Sepi
Kawin Kontrak

Kawin kontrak disebut tidak lagi menjadi tren di Puncak. Perempuan-perempuan pemburu turis Arab lebih suka di-booking karena pendapatan yang lebih besar.

INVESTIGASI 25 Januari 2016

Danau di Kota Bunga

Fotografer : Rengga Sancaya/detikX

Pengalaman bekerja di Arab Saudi membuat Entin—bukan nama sebenarnya—bisa meraup banyak uang tanpa harus bekerja di benua berbeda.

Berbekal bahasa Arab yang ia dapat selama bekerja di negara kaya minyak itu, perempuan berusia 28 tahun asal Cianjur, Jawa Barat, tersebut mampu menggaet pria-pria asal Timur Tengah yang sedang berlibur di kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur.

“Saya pernah kerja di Riyadh, Arab Saudi, sebagai pembantu rumah tangga. Per bulan digaji 600 riyal,” kata Entin, Rabu, 6 Januari 2016.

Tapi sekarang perempuan berkulit putih tersebut mengaku bisa berpenghasilan sepuluh kali lipatnya dengan menjadi pekerja seks bagi pria-pria Arab di wilayah Kota Bunga, Cipanas.

“Saya dua tahun kerja begitu (pekerja seks) untuk orang-orang Arab, tapi hanya melayani di Kota Bunga,” ucap Entin.

Setidaknya, menurut pengakuan Entin, puluhan pria Arab sudah ia layani selama menjadi pekerja seks. Dan ia tidak pernah melayani pria lokal (Indonesia).

Alasannya masalah bayaran yang diterima. Biasanya, sekali kencan dengan orang Arab, Entin bisa meraup Rp 2 juta. Sedangkan dengan pria hidung belang lokal, yang ia dengar dari sesama pekerja seks, tarifnya Rp 300-500 ribu.

Namun perempuan berambut lurus itu kini sudah “naik kelas”. Tak lagi jadi pekerja seks, Entin menjadi koordinator para pekerja seks alias muncikari. Lokasi operasinya sama, yakni Kota Bunga, Cipanas.

Dalam semalam, menurut Entin, ia membawa delapan sampai sepuluh pekerja seks. Mereka dibawa menggunakan mobil dan berkeliling di Kota Bunga, kompleks vila yang banyak dihuni wisatawan Arab.

Tarif anak buah Entin per jam Rp 400 ribu dengan durasi kencan minimal tiga jam. Dan anak buah Entin hanya bisa diajak kencan di Vila Kota Bunga.

Kota bunga dan vila-vila mewah yang ada di dalamnya kerap menjadi lokasi transaksi antara turis Arab dan pekerja seks komersial.
Dikhy Sasra/detikcom

Dari transaksi masing-masing anak buahnya, ia mendapat jatah 25 persen. Jangan heran jika dalam semalam Entin bisa meraup Rp 10 juta. “Kalau bawa anaknya (pekerja seks), sedikit, ya paling Rp 5 juta.”

Tapi uang itu bukan untuknya sendiri. Sebab, ia harus menyetor kepada bosnya sekaligus pemilik mobil yang digunakan untuk menjajakan anak buahnya ke vila-vila yang dihuni wisatawan Arab di Kota Bunga.

Sedangkan soal uang keamanan buat preman, bos Entin-lah yang mengurusinya. Saat ditanya siapa bosnya itu, Entin hanya bilang bosnya itu sebelumnya seorang muncikari. Sekarang posisi itu diberikan kepadanya. Di Kota Bunga, ada 20 bos muncikari yang beroperasi.

Informasi yang diperoleh dari sejumlah warga sekitar, bisnis esek-esek di Kota Bunga marak sejak tiga tahun lalu. Sebelumnya, para wisatawan dari Timur Tengah, terutama Arab Saudi, biasanya membanjiri kawasan Puncak, yakni di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Wawancara dengan seorang mucikari di Puncak.

Iswahyudi/detikTv

“Mungkin karena di Cisarua sudah padat, mereka (turis Arab) sekarang mereka mulai memadati kawasan Cipanas,” ujar Andre, warga Cipanas.

Hal ini dibenarkan Wardani, Kepala Seksi Obyek dan Daya Tarik Wisata Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor. Menurut dia, kunjungan wisatawan Arab sudah bergeser ke Cipanas, Cianjur, mulai Ciloto sampai Taman Bunga Nusantara.

“Saya ke sana beberapa waktu lalu, itu sudah kayak Timur Tengah banget. Sampai restoran dan apa pun sudah beraksara Arab. Puncak sudah bergeser,” ujar Wardani.

Pergeseran tersebut terjadi, tutur Wardani, mungkin karena Puncak sudah tidak senyaman dulu. Soalnya, Pemerintah Kabupaten Bogor dan ulama setempat kerap melakukan pembinaan kepada warga supaya tidak merusak diri sendiri dan lingkungan.

“Kalau dulu kan sudah santer istilah kawin kontrak dan esek-esek begitu. Karena pembinaan itu, makanya sekarang bergeser,” ujar Wardani.

Sebagai data penguat, Wardani bilang, berdasarkan hasil survei secara langsung, 90 persen turis Timur Tengah yang datang ke Puncak adalah keluarga. Artinya, mereka membawa istri dan anak kecil.

Survei itu, kata Wardani, dilakukan secara langsung dengan memotret turis Timur Tengah yang datang.

Vila-vila mewah di Kota bunga yang kerap menjadi lokasi transaksi antara turis Arab dan pekerja seks komersial.
Dikhy Sasra/detikX

Seorang pemandu yang biasanya mengantar turis-turis dari Arab Saudi punya cerita lain. Menurut Amir—sebut saja namanya begitu—banyak turis Arab yang mengaku sengaja datang ke Indonesia, terutama ke kawasan Puncak, untuk “wisata seks”.

“Terutama untuk turis-turis muda, ya. Saya sering diminta mencarikan cewek saat menemani mereka,” ucap pria yang sudah lima tahun bekerja sebagai sopir dan pemandu turis Arab tersebut.

Dikatakan Amir, saat ini bisa dihitung dengan jari berapa pekerja seks yang bersedia kawin kontrak dengan turis-turis Arab di Puncak dan sekitarnya. Sebab, banyak tindak kekerasan yang dilakukan turis tersebut.

“Kalau sudah mabuk, mereka liar. Banyak pekerja seks yang saya bawa bercerita, mereka sering diajak 'main belakang' atau ditampar kalau mereka mabuk,” tuturnya.

Di lain pihak, banyak kejadian, perempuan yang diajak kawin kontrak kabur membawa duit, sehingga para turis Arab itu mengamuk. “Ada (pekerja seks) yang kabur lewat jendela bawa duit. Arabnya ngamuk-ngamuk. Kami enggak tahu, sopir yang dimarahin. Dia bilang, ‘Elo cari,’” ucapnya.

Seorang pendatang dari Yaman, Marwan Muahamad, mengatakan, dari sekian ribu orang Arab yang datang ke Puncak, mungkin hanya 1 persen yang melakukan kawin kontrak. Sebetulnya kawin kontrak dilarang bagi warga Arab.

“Kalau negara Arab tahu, kalau Kedutaan tahu, itu jadi masalah. Dia (pelaku orang Arab) lima tahun tidak bisa keluar, dipenjara,” kata Marwan, yang dua tahun tinggal di Puncak untuk berbisnis restoran.

.....

Dari Hotel Mentereng
Hingga Pangkas Rambut

Kawasan Puncak dan Cipanas yang sejuk begitu menggiurkan bagi turis asal Timur Tengah. Bahkan kini mereka tidak sekadar berwisata. Peluang bisnis pun diincar.

INVESTIGASI 25 Januari 2016

Karena bukan warga negara Indonesia, umumnya pengusaha asal Timur Tengah bekerjasama dengan penduduk lokal. Orang Arab berperan sebagai pemodal.

Seorang pelancong asal Timur Tengah tengah mengambil foto memakai smartphone di kawasan Kampung Arab, Puncak.

Fotografer : Rengga Sancaya/detikX

Hotel bermotif Timur Tengah itu berdiri megah di Jalan Hancet, kawasan Cipanas, Jawa Barat. Jendela dan ornamen kubahnya dilapisi cat berwarna keemasan. Begitu juga nama hotel yang tertulis dengan aksara Arab dan Indonesia.

Markas Al Jazeerah, demikian nama hotel yang terletak hanya sekitar 20 meter dari kompleks Vila Kota Bunga tersebut. Kamis, 6 Januari 2016, pengunjung cukup ramai. Alunan musik khas daratan Arab sayup-sayup terdengar dari hotel itu.

Hotel itu merupakan hasil kongsi beberapa orang Arab. Tidak hanya membangun hotel, mereka juga membangun vila, restoran masakan Timur Tengah, hingga agen perjalanan. Total nilai investasi mereka disebut-sebut mencapai Rp 5 triliun.

Asep Kartika, Manajer Al Jazeerah Divisi Vila, Hotel, dan Restoran, mengatakan yang berada di dalam kompleks itu mulai beroperasi beberapa bulan yang lalu. Sedangkan vila sampai saat ini belum semuanya rampung.

Ia membenarkan bahwa pemilik usaha tersebut berasal dari negara Arab. “Pemilik Markas Al Jazeerah itu orang Hadromi (orang Arab keturunan Yaman),” ujar Asep ketika ditemui Rabu, 6 Januari 2016.

Al Jazeerah menambah riuh bisnis orang Arab di Cipanas. Sejak tiga tahun lalu, Kota Bunga memang menjadi lokasi favorit baru bagi turis asal Timur Tengah yang berlibur ke Puncak.

Di sepanjang Jalan Hancet, banyak berdiri toko, restoran, hingga agen perjalanan berlabel Arab yang memenuhi kebutuhan turis-turis Timur Tengah selama ngadem di Kota Bunga. Rata-rata pemiliknya orang Arab.

Di Raidan, ia berbagi keuntungan dengan besaran 70:30. Marwan sebagai pemilik modal mendapat 70 persen, sementara mitranya kebagian 30 persen.

Hal yang sama banyak dijumpai di Warung Kaleng dan Ciburial, dua lokasi wisata orang Arab di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bahkan Cisarua lebih dulu berkembang sebagai kawasan wisata Arab dibanding Cipanas.

Seorang pengusaha asal Yaman, Marwan Muahamad, misalnya, membuka rumah makan Raidan al-Khalij. Rumah makan yang menyajikan menu khas Timur Tengah itu terletak di Jalan Raya Puncak Km 80, Tugu Selatan, Kabupaten Bogor.

Kapasitas restoran berlantai dua tersebut 100 orang. Marwan mengaku membuka Raidan hampir dua tahun lalu. Ia berkongsi dengan temannya, Riyad Abu Bakar, yang berkewarganegaraan Indonesia.

“Saya masih warga Yaman. Setiap tahun saya harus perpanjang izin (tinggal). Tapi, insya Allah, setelah 1-2 tahun, saya dikasih izin tinggal selama 5 tahun,” ujar pria yang mengaku masih lajang tersebut.

Karena belum berstatus warga negara Indonesia, Marwan, yang sebelumnya punya restoran di Yaman tapi tutup akibat perang, bekerja sama dengan orang Indonesia. “Kalau mau buka restoran di sini (Puncak), harus dengan orang Indonesia. Yang punya modal semua orang Arab,” ujarnya.

Di Raidan, ia berbagi keuntungan dengan besaran 70:30. Marwan sebagai pemilik modal mendapat 70 persen, sementara mitranya kebagian 30 persen. Adapun gaji dan sewa bangunan, yang berdurasi lima tahun, ditanggung Marwan.

Nasir al-Ahmadi, warga Madinah, Arab Saudi, juga harus bekerja sama dengan orang Indonesia untuk membuka usaha di Puncak. Dia membuka penyewaan vila.

Dengan membeli vila di Cilember, Cisarua, ia bisa meraup untung dengan menyewakan vila sistem harian kepada turis Arab. Nasir dalam setahun tiga kali bolak-balik Madinah-Indonesia. Hal itu dilakukan sejak tujuh tahun lalu.

“Saya berbisnis vila. Saya sudah tujuh tahun pulang-pergi. Vila atas nama orang Indonesia. Dia kenalan saya,” kata Nasir dengan bahasa Indonesia terbata-bata.

Pesta kambing guling Turis Arab di Kota Bunga.

Okta Marfianto/detikTv

Memiliki usaha penyewaan vila, Nasir punya ongkos untuk pulang-pergi Madinah-Indonesia, termasuk berlibur selama di Indonesia. Penyewa vila miliknya kebanyakan orang Arab yang berwisata di Puncak.

Orang dari Timur Tengah yang berstatus imigran pun tidak mau ketinggalan ikut membangun usaha di Puncak. Tengok saja di kompleks pertokoan Pasar Festival Cisarua (Pafesta), yang terletak Jalan Raya Cisarua, Desa Citeko, Cisarua, Kabupaten Bogor.

Pafesta merupakan kompleks pertokoan yang menjual berbagai bahan makanan, seperti minyak zaitun, beras, kacang-kacangan, roti, dan rupa-rupa bumbu. Semua dagangan berasal dari Timur Tengah.

Sunyoto, sesepuh warga Desa Citeko, mengatakan Pafesta menjadi salah satu tempat belanja khusus warga Arab yang berada di Puncak. “Selain di Warung Kaleng, Tugu Selatan, ya hanya di sini orang Afganistan bisa membeli kebutuhan untuk makanannya,” ujar Sunyoto.

Di Blok Jati, setidaknya ada puluhan ruko yang menjual bahan kebutuhan pokok. Sebagian besar yang berjualan adalah warga negara asing. Semuanya imigran Afganistan kecuali satu penjual yang berasal dari Sri Lanka.

DetikX mendatangi toko Adam, yang berada di Blok Jati Nomor 8, yang menjual bahan kebutuhan pokok dan bumbu-bumbu khas Arab. Toko itu milik Ahmadullah Syafiq dan Hasanah. Hasanah merupakan warga negara Indonesia asal Surabaya, Jawa Timur. Sedangkan Syafiq warga Afganistan.

“Saya bertemu dengan Hasanah saat di Dubai (Uni Emirat Arab) sekitar 2003,” ucap Syafiq.

Saat di Dubai, Syafiq bekerja di perusahaan konstruksi, sementara Hasanah bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Setelah setahun berkenalan, keduanya sepakat ke pelaminan dan menikah di Afganistan pada 2004.

Hasanah dan Syafiq datang ke Indonesia dari Afganistan dua tahun lalu. Mereka mengaku punya surat izin tinggal di Indonesia yang dikeluarkan Dirjen Imigrasi.

Sedangkan usaha jualan bahan kebutuhan pokok baru mereka jalankan tujuh bulan belakangan. “Toko atas nama saya. Kalau uang, semua ya dari suami tapi atas nama saya. Surat izin suami saya lengkap semua,” ujar Hasanah.

Seorang turis Timur Tengah keluar dari agen travel perjalanan di Kota Bunga.
Rengga Sancaya/detikcom

Indonesia dipilih sebagai tempat tinggal karena suasananya lebih aman dibanding Afganistan. “Anak-anak saya dan istri orang Indonesia. Di Afganistan perang terus, kerja tidak bagus. Di Indonesia alhamdulillah,” kata Syafiq, yang pernah menjadi manajer di salah satu bank di Afganistan.

Menurut dia, meski menikah di Afganistan, ketiga anaknya berpaspor Indonesia. Sebab, begitu anaknya lahir di Afganistan, dia segera mendaftarkan anaknya ke Kedutaan Besar RI di Kabul, Afganistan.

Saat ini Syafiq mengaku lebih kerasan tinggal di Indonesia. Ia takut pada ISIS (Negara Islam) dan Taliban, yang sering melakukan teror di Afganistan. Karena itu, Syafiq dan Hasanah pun mulai merintis usaha berjualan bahan kebutuhan pokok ala Timur Tengah di Puncak dengan menyewa sebuah ruko seharga Rp 22 juta per tahun.

Pembeli di toko Syafiq kebanyakan orang Afganistan, Arab, dan Irak. “Kebanyakan yang beli di tempat saya pendatang UNHCR (imigran) pencari suaka,” kata Syafiq dengan bahasa Indonesia yang fasih.

Kepala Desa Tugu Selatan Abdul Lukman, 54 tahun, memafhumi adanya kongsi bisnis antara orang Arab dan orang lokal. Rencananya, dalam waktu dekat, tim gabungan dari desa dan kecamatan akan mendata usaha-usaha tersebut.

“Ada rencana kami akan gabungan, baik dengan kecamatan maupun pemda, satu atau dua bulan ini akan dioperasi semuanya, mana kepemilikan yang sah secara de facto atau de jure,” katanya.

.....

Mau ke Australia
Nyangkut di Puncak

Tak semua keturunan Timur Tengah di Bogor pelancong dan tajir. Pengungsi asal Afganistan hidup terbatas. Mereka memelihara harapan untuk menyeberang ke Australia.

INVESTIGASI 25 Januari 2016

Mimpi pergi ke Australia masih terasa kuat di kelas bahasa Inggris di rumah milik Haji Royani, Desa Batu Layang, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Daud, 25 tahun, seorang imigran asal Afganistan, berdiri depan.

Ia tak henti-hentinya mengoceh dalam bahasa Inggris. Orang-orang senegaranya duduk memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Daud.

Bahasa Inggris merupakan modal pokok untuk mengawali hidup di Australia. Karena itu, mereka giat belajar, meski tak tahu kapan waktu berangkat ke negara bekas koloni Inggris di selatan Indonesia itu tiba.

“Saya secara sukarela mengajar mereka. Selain itu, saya lakukan ini agar mereka punya aktivitas, tidak menganggur,” kata Daud setelah mengisi kelas.

Cerita Daud mencapai Cisarua sendiri cukup panjang. Perang berkecamuk di negaranya. Ayah Daud membawa seluruh keluarganya ke Pakistan. Tunangan Daud juga ikut serta dalam eksodus itu.

Tapi Pakistan ternyata juga tidak aman bagi pengungsi. Seorang diri, Daud akhirnya memutuskan berangkat ke Australia pada 2013.

Namun perjalanannya harus terhenti di Indonesia karena persoalan imigrasi. United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi, menampungnya di Cisarua.

Di Indonesia, ia bertemu dengan pengungsi yang senasib dengannya. Mimpi mereka sama, mencari kehidupan yang lebih baik. Di tengah upaya itu, Daud kadang-kadang merasa rindu kepada keluarga dan tunangan.

Daud, imigran asal Afghanistan di Puncak yang menunggu diberangkatkan ke Australia.

Rengga Sancaya/detikcom

Saya telepon setiap bulan. Saya berbicara lewat telepon dan itu sangat berat bagi saya, apalagi jarak sangat jauh,” ucap Daud sembari melihat cincin tunangan di jarinya.

Di kawasan Puncak, Bogor, imigran seperti Daud dan teman-temannya turut memberi corak. Puncak tidak hanya menyediakan destinasi wisata bagi orang-orang Timur Tengah, tapi juga pengungsi dari negara konflik.

Kehidupan para pengungsi pas-pasan. Mereka hanya tinggal mengontrak di sebuah rumah di pelosok Desa Batu Layang. Daerah pelosok menyediakan harga sewa murah.

Alex, imigran lainnya, hidup di Cisarua sejak dua tahun lalu. Ia tinggal di rumah sewa seharga Rp 400-500 ribu per bulan. Biaya hidupnya bergantung pada kiriman keluarganya, sekitar Rp 2 juta sebulan.

“Tidak ada janji apa-apa. Terus saya harus menunggu untuk beresin,” ujarnya ketika ditemui di tengah perjalanan menuju Ciawi, Bogor.

Alex terlilit masalah paspor ketika hendak menyeberang ke Australia. UNHCR lantas membawanya ke Bogor untuk ditampung. Ia merasa beruntung karena biaya hidup di tempat ini lebih murah dan udaranya sejuk.

Data terakhir pada 2015, jumlah imigran di Bogor tercatat 588 orang. Paling banyak warga Afganistan, yaitu 441 orang.

Sekretaris Camat Cisarua Usep Sugeng menyebutkan UNHCR memilih wilayahnya menjadi tempat singgah imigran ilegal asal Timur Tengah. Mereka ditempatkan di Desa Tugu Selatan, Tugu Utara, dan Batu Layang.

Karena penampungan ini kemudian dibatasi, para imigran pun tinggal menyebar hingga wilayah Cibeureum, Bogor. Pengungsi ini hidup mandiri dengan mengontrak rumah. Sebagian berdagang di Pasar Festival Cisarua.

“Imigran itu bisanya tidak menggunakan fasilitas yang menunjang, apa istilahnya, untuk wira-wiri. Mereka sering kali jalan kaki. Kalau butuh kendaraan, paling pakai ojek,” ujarnya.

Kepala Seksi Informasi dan Sarana Komunikasi Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas II Bogor Dedi Firman menyebutkan persebaran ini terjadi karena peraturan melarang UNHCR dan International Organization for Migration menampung pengungsi Timur Tengah di Bogor.

Seorang perempuan imigran menyapu halaman rumah kontrakan di Puncak, Bogor.

Rengga Sancaya/detikcom

Data terakhir pada 2015, jumlah imigran di Bogor tercatat 588 orang. Paling banyak warga Afganistan, yaitu 441 orang. Selain dari Afganistan, imigran terbanyak lainnya dari Bangladesh, Iran, Irak, Pakistan, Palestina, dan Sri Lanka.

“Akhirnya status imigran yang ada di Puncak menjadi mandiri. Mandiri itu punya tempat tinggal sendiri. Keberadaan mereka diketahui oleh UNHCR karena mereka memegang keterangan asylum seeker (pencari suaka),” ujarnya.

Reporter : Ibad Durohman, Isfari Hikmat, Bahtiar Rifai
Penulis: Aryo Bhawono, Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho