METROPOP

Seterang Malam Tasniem Fauzia Rais

Baru dua minggu diluncurkan, buku Malam-malam Terang langsung cetak ulang. Segera difilmkan.

Foto: dok. pribadi via Facebook

Selasa, 3 Mei 2016

Puasa 2015 menjadi puasa yang tidak biasa bagi Tasniem Fauzia Rais dan suaminya, Ridho Rahmadi. Pasangan itu berada di Belanda karena Ridho tengah menyelesaikan studi program doktoral. Saat itu Belanda sedang musim panas, sehingga puasa dimulai pada pukul 3 pagi hingga pukul 10 malam. Dengan jam puasa seperti itu, Tasniem dan Ridho pun tidak bisa tidur setelah berbuka puasa.

Keduanya lantas banyak berdiskusi. Salah satunya tentang sosok perempuan yang ideal. Tasniem gelisah melihat kondisi perempuan Indonesia sekarang ini, yang banyak dieksploitasi ataupun mengeksploitasi dirinya sendiri demi modernitas ataupun demi eksistensi diri.

“Padahal kami berdua sangat yakin bahwa seorang wanita adalah elemen… komponen terpenting dari peradaban umat manusia; dari rahimnya dilahirkan seorang manusia, dari kasih sayangnya dibesarkan seorang manusia. Agaknya tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa generasi kelak sedikit-banyak bergantung pada sosok seorang wanita,” kata Tasniem kepada detikX.

Tasniem dan Ridho memamerkan buku Malam-malam Terang karya mereka.
Foto: dok. pribadi via Facebook

Tasniem dan Ridho lantas mengkategorikan perempuan dalam tiga jenis. Pertama adalah perempuan A, yang ketika muda mengejar mimpi setinggi langit, kemudian, ketika ia beranjak dewasa atau ketika sudah menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya, masih saja mengejar ambisinya. Urusan rumah tangga menjadi nomor dua karena karier di atas segalanya.

Kami ingin melempar wacana, sosok manakah wanita yang paling ideal? Atau biarkan wanita menjadi dirinya sendiri-sendiri."

Kedua perempuan B, yakni perempuan yang ketika muda mengejar mimpinya, kemudian, ketika beranjak dewasa, ia paham terkadang harus menyesuaikan diri dengan norma lingkungan atau keinginan orang tua, dan ketika menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya ia mengorbankan sebagian besar yang ia inginkan demi menjadi mimpi bagi anak dan suaminya. Ketiga perempuan C, yakni sosok di tengah-tengah antara perempuan A dan perempuan B.

Diskusi itu membuat pasangan suami-istri itu lantas memutuskan membuat sebuah buku. “Kami ingin melempar wacana, sosok manakah yang paling ideal? Apakah A? B? atau C? Atau biarkan wanita menjadi dirinya sendiri-sendiri?” ujar putri mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Amien Rais ini.

Tasniem merasa perjuangannya selama menyelesaikan sekolah menengah atas di Singapura bisa menginspirasi banyak anak perempuan yang sedang mencari jati diri. Perempuan yang biasa dipanggil “Niniem” ini ke Singapura karena nilai ujian akhir sekolah menengah pertamanya tidak mencukupi untuk melanjutkan ke SMA favorit di Yogyakarta.

Dalam usia baru 15 tahun, Tasniem menantang dirinya untuk hidup sendirian di luar negeri. Kedua orang tuanya sampai menjual tanah agar Tasniem bisa bersekolah di Singapura. Tasniem, yang terbiasa hidup di kota kecil, mengalami kesulitan beradaptasi dengan teman-teman dari negara yang berbeda-beda.

Banyak ujian yang harus dihadapi Tasniem dalam proses menjadi dewasa di negeri orang. Berbagai ujian ini membuat Tasniem, yang biasa dididik dalam keluarga religius, semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Meski banyak kesulitan, Tasniem akhirnya justru menorehkan prestasi yang cemerlang. Ia menjadi lulusan terbaik dan mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Jepang. Kisah nyata inilah yang kemudian dibukukan Tasniem dalam Malam-malam Terang.

Tasniem dan Ridho tampil bersama dalam sebuah acara bedah buku Malam-malam Terang.
Foto: dok. pribadi via Facebook

Malam-malam Terang adalah simbol dari perjuangan, di mana saya selalu bangun dini hari untuk belajar keras ketika SMA di Singapura,” kata Tasniem.

“Juga sebagai simbol kedekatan dengan Tuhan, di mana Tasniem selalu mencurahkan kepada Tuhan segala macam apa yang ia alami, juga memohon segala sesuatu yang ia inginkan,” Ridho menambahkan.

Malam-malam Terang juga merujuk pada waktu pembuatan buku tersebut, yakni malam saat puasa Ramadan.

Untuk membuat buku, Tasniem merasa tidak punya pengalaman. Begitu pula sang suami. Namun, di mata Tasniem, Ridho punya selera sastra yang bagus. Maka Tasniem pun memutuskan berkolaborasi dengan sang suami ketika ia hendak menulis buku.

Dengan berkolaborasi, Tasniem dan Ridho bisa saling melengkapi, sehingga hasilnya diharapkan lebih sempurna. Tasniem memiliki ide dan mengembangkannya. Ridho lebih banyak berperan pada pola dan gaya bahasa.

“Peran suami saya lebih banyak pada pola dan gaya bahasa yang kami gunakan. Sebab, menurut saya, dia punya selera sastra yang lebih baik,” cerita perempuan yang hingga kini tinggal di Belanda tersebut.

Ketika menulis novel Malam-malam Terang, berkolaborasi membuat pasangan suami-istri itu lebih saling mengenal. Ridho beberapa kali sampai berucap baru mengetahui sisi lain Tasniem.

Mengatur waktu menjadi masalah yang sulit bagi pasangan ini untuk menyelesaikan Malam-malam Terang. Ridho, yang sedang menyelesaikan studinya, banyak menghabiskan waktu untuk riset. Sedangkan Tasniem berfokus mengurus kedua anaknya yang masih kecil.

Tasniem dan Ridho berdiri di samping tumpukan buku karya mereka di sebuah toko buku.
Foto: dok. pribadi via Facebook

“Waktu emas kami adalah ketika anak-anak tidur karena kami bisa berdiskusi banyak mengenai buku,” kata perempuan yang sempat menjadi kontroversi karena surat terbuka untuk Joko Widodo saat pemilu presiden 2014 ini.

Akhirnya, setelah satu setengah tahun, buku itu pun selesai. Kebetulan PT Gramedia Pustaka Utama sebelumnya menerbitkan buku kakak Tasniem, Hanum Salsabila Rais, dan sang suami, Rangga Almahendra, 99 Cahaya di Langit Eropa. Hanum memberi tahu editor bukunya, Fialita, bahwa adiknya sedang membuat buku. Fia pun tertarik.

“Kami tertarik karena ceritanya inspiratif. Sang tokoh adalah perempuan yang awalnya merasa underdog, lalu bisa tampil sebagai pelajar berprestasi,” ujar Fia kepada detikX.

Fia tidak memungkiri faktor putri Amien Rais sebagai magnet bagi pembaca. Ayah Hanum dan Tasniem adalah politikus ternama. Amien pernah menjabat Ketua MPR, Ketua Umum Partai Amanat Nasional, juga Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah. Dengan demikian, ia mempunyai basis massa yang besar. Buku-buku Hanum sebelumnya juga laris-manis.

“Itu semua hanya nilai tambah. Kami menerbitkannya karena Malam-malam Terang sejalan dengan nilai naskah yang kami cari," ujar Fia.

Karena mengejar waktu cetak, Gramedia hanya mencetak 2.000 eksemplar untuk Malam-malam Terang. Setelah buku dicetak, Tasniem tidak cuma berpangku tangan. Ia rajin menggelar acara talk show untuk bukunya dan berpromosi di media sosial. Hasilnya, nasib buku itu pun seterang judulnya: hanya dalam waktu dua minggu, buku itu ludes, dan Gramedia lantas mencetak ulang.

Tasniem berencana membuat trilogi dari Malam-malam Terang. Buku kedua akan dirilis pada akhir 2016. Sama dengan buku sang kakak, Malam-malam Terang segera akan difilmkan oleh Maxima Pictures. Tasniem dan pihak Maxima sudah menandatangani kontrak.


Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.

SHARE