METROPOP

YOUTUBER MUDA, TERKENAL, & TAJIR

Kisah Gema & Tara Dibayar Ribuan Dolar

Usia Gema dan Tara masih dua puluhan. Tapi penghasilan YouTuber ini setara dengan gaji seorang CEO di Indonesia. Disewa sutradara Steven Spielberg.

Diwantara Anugrah Putra

Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Kamis, 1 September 2016

Diwantara Anugrah Putra meloncat kegirangan ketika mendapatkan pesan dari David Spates, perwakilan YouTube di Los Angeles, Amerika Serikat. Isi pesan: YouTube mengajak Diwantara sebagai pemilik kanal YouTube “Tara Arts Movie” untuk menjadi mitra langsung.

Tawaran itu, buat Diwantara atau yang kerap dipanggil Tara, seperti mimpi di siang bolong. Sebab, awalnya, pada 2007, tujuan Tara mengunggah video ke platform YouTube tidaklah muluk-muluk. Ketika itu Tara ingin mempromosikan toko sulapnya secara online.

Melalui rekaman video, Tara mengajarkan cara penggunaan barang dagangannya dengan melakukan praktek sulap. Ia tidak pernah membayangkan jika empat tahun kemudian atau pada 2011, kegiatan itu membuat YouTube menawarinya kerja sama.

Padahal kami awalnya mengira e-mail itu cuma spam. Ternyata benar itu e-mail pengajuan kerja sama dari Spielberg.”

Mendapat tawaran itu, pria yang baru kuliah satu semester di Universitas Negeri Jakarta tersebut memutuskan berhenti kuliah, dan memilih lebih serius menjadi YouTuber.

Iseng-iseng, Tara memamerkan tawaran itu kepada adiknya, Gema Cita Andika. Gema langsung kepincut karena YouTube memberikan uang dolar AS sebagai kompensasi dari video yang diunggahnya.

Gema, yang baru mengikuti ujian SMA, memutuskan tidak mendaftar kuliah dan bergabung dengan Tara. “Saya pikir sudah S-3 saja: syukur sampai SMA,” ujar Gema, yang lantas tertawa.

Kini Tara dan Gema memiliki lima kanal di YouTube. Setiap kanal berkaitan dengan film maupun game yang menjadi hobi Tara dan Gema. Masing-masing tersedia dalam dua versi bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan kanal berbahasa Inggris.

Salah satu klip video di kanal Tara Arts Movie
Video: YouTube

Jika dihitung dari seluruh kanal milik Tara dan Gema, jumlah subscriber hampir menembus angka 1 juta. Penghasilan mereka per bulan setara dengan gaji seorang CEO di perusahaan Indonesia. “Jumlahnya bervariasi setiap bulannya. Kalau bulan puasa, bulan liburan, hasilnya lebih besar lagi (dari CEO). Paling tinggi itu akhir tahun,” kata Tara.

“Rata-rata bisa dihitung, alhamdulillah sekali. Terendah itu di sini US$ 1.500 dan tertinggi hampir US$ 10 ribu,” tambah Gema.

Penghasilan setara CEO yang didapatkan seseorang yang masih sangat muda tentu sukar dipercaya. Tara masih 25 tahun dan Gema baru 22 tahun. Namun mereka memberi bukti semua itu bukan omong kosong. Mereka pernah disewa oleh sutradara sekaligus produser film Hollywood, Steven Spielberg.

Spielberg meminta agar Tara Arts Movie membuat video endorse untuk serial drama musikal yang sedang diproduserinya. Tara dan Gema diminta menyebutkan serial drama berjudul Smash dalam kanal YouTube-nya. Dari permintaan endorse yang terbilang mudah ini, Tara dan Gema mengaku dibayar hingga ribuan dolar AS.

Tara melihat-lihat komentar atas video yang diunggah.

Gema dan Tara di "ruang kerja" mereka.

“Padahal kami awalnya mengira e-mail itu cuma spam. Ternyata benar itu e-mail pengajuan kerja sama dari Spielberg,” kata Tara.

Kesuksesan Tara dan Gema itu tidak dicapai secara instan. Awalnya jumlah penonton video mereka sangat sedikit, demikian pula uang yang mereka dapat.

“Pertama kali, kalau mau jujur, kita buka videonya 1 viewer, kedua kali kita buka lagi nambah jadi 2 viewer. Lama-lama ngerti sendiri, viewers-nya kita-kita doang, ha-ha-ha…,” kata Tara.

Lakukan apa yang kamu suka, tidak usah mikir uang dan jumlah subscriber. Anggap saja kayak hobi dibayar.”

Jumlah penonton video mereka mulai naik saat mereka membuat video 3D yang memparodikan Jurassic Park 3. Video itu berisi parodi penyebab T-rex berantem dengan Spinosaurus. “Tahun 2012 kami dapat 4 juta viewers,” kata Tara.

Pendapatan pertama mereka dari YouTube masih jauh dari kata cukup. “Bulan pertama setelahnya saya ingat cuma menghasilkan US$ 20. Bulan kedua upload (dapat) US$ 100,” ujar Tara.

Tapi uang yang kecil itu tidak lantas membuat Tara dan Gema patah semangat. Mereka justru tertantang untuk meningkatkan kualitas produksi rekamannya. Mereka belajar secara otodidak lewat Internet apa saja yang mereka butuhkan, seperti sinematografi, seluk-beluk penggunaan komputer, maupun Internet.

Di awal-awal, Tara dan Gema juga menggunakan peralatan seadanya. Saat membuat video pertama yang berjudul Bearminators, misalnya, Tara dan Gema hanya menggunakan kamera ponsel milik ibunya.



“Peralatan tidak harus canggih. Dari segi teknikal, tidak usah mikirin, just do it,” tutur Tara.

Belakangan, Tara dan Gema memakai kamera yang bagus setelah film yang mereka bikin, Bridge to Dinosauria, menang dalam Good Day Schoolicious Movie Competition. Hadiahnya sebuah kamera Canon 5D, yang langsung mereka pakai untuk kerja.

Meski bukan kerja kantoran, Tara dan Gema menerapkan disiplin waktu. Mereka membuat jadwal bekerja sendiri. Hari Senin hingga Rabu biasanya untuk merekam video. Sisanya untuk menyunting dan mengunggah video. Terkadang mereka harus bekerja hingga larut malam untuk proses editing.

Menjadi YouTuber, yang terpenting adalah kreativitas. Untungnya, Tara dan Gema tidak pernah kehabisan ide. Menurut Gema, ide bisa datang dari bahan obrolan yang sedang ramai di masyarakat.

Ide juga bisa berasal dari kejadian tidak terduga. Pernah suatu kali tetangga di kompleks rumah Tara dan Gema mengadakan acara dangdutan hingga tengah malam. Kakak-adik ini kesal karena suara musik dangdut begitu kencang, sampai-sampai membuat kaca jendela rumahnya bergetar.

Tara dan Gema bersama ibunda tercinta.

Tidak disangka, suara bising musik dangdut malah membuat Tara dan Gema terinspirasi membuat film ala Kingsman, judul film Inggris bergenre action-comedy. Banyak penonton yang merasa terhibur, bahkan memuji kepandaian mereka dalam menyusun plot cerita.

Bagi yang ingin menjadi YouTuber, Tara memberi pesan, yang terpenting adalah menyukai pekerjaan yang dilakukan.

“Lakukan apa yang kamu suka, tidak usah mikir uang dan jumlah subscriber. Anggap saja kayak hobi dibayar. Kami awalnya begitu bukan karena duit. Duit itu sebagai hadiah sajalah.”


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.

SHARE