METROPOP

Dilema Anak Cinta
Dua Negara

“Menurut aku, anak perkawinan campur seperti aku lebih asyik.”

Gloria Natapradja Hamel

Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Jumat, 23 September 2016

Seorang anak, mana pernah bisa memilih dilahirkan oleh siapa dan menjadi warga negara mana. Tak pula Gloria Natapradja Hamel, 16 tahun. Walaupun ayahnya berasal dari Auxerre, Prancis, Gloria lahir dan tumbuh besar di Cinere, Depok, Jawa Barat.

“Saya ditakdirkan terlahir dari perkawinan antara ibu saya yang bernama Ira Natapradja, warga negara Indonesia, dan ayah saya, Didier Hamel, warga negara Prancis,” Gloria menulis dalam suratnya yang dia tujukan kepada Presiden Indonesia Joko Widodo beberapa pekan lalu.

Buah dari perkawinan campur ini sempat membuat hidup Gloria jungkir balik bak menunggang jet coaster. Nama murid SMA Dian Didaktika, Depok, itu digugurkan dari anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional karena kedapatan memiliki paspor Prancis, meskipun akhirnya Gloria diizinkan bertugas di upacara penurunan bendera pada sore harinya di halaman Istana Merdeka.

Saya menikah dengan suami karena alasan cinta.”

Gloria tidak pernah menyangka kejadian ini akan menimpa dirinya. Sebab, pada awalnya, ketika ditawari menjadi anggota paskibra di sekolah, Gloria tidak begitu berminat. Ketimbang bergabung dengan pasukan pengibar bendera, Gloria lebih senang menghabiskan waktu luangnya dengan bermain basket.

Sejak SD, Gloria memang dikenal oleh teman-temannya sebagai gadis tomboi. Selain bermain bola basket, Gloria menyukai kegiatan penuh keringat, seperti tinju dan muay Thai. Namun Gloria menilai banyak sifat dan kepribadian seorang paskibra yang tidak dimilikinya. Untuk mengembangkan diri, Gloria memutuskan bergabung dalam pelatihan paskibra di sekolah.

Gloria bersantai di rumahnya, Cinere, Depok
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

“Setelah aku perhatikan, mereka itu keren banget. Sedangkan aku ini orangnya pecicilan, enggak bisa diam. Attitude-nya nol banget, deh. Makanya aku mau mengembangkan diri supaya bisa menghapus sifat jelek. Bisa enggak sih aku kayak mereka?” kata Gloria saat berbincang dengan detikX. “Kalau mereka bisa, kenapa aku enggak.”

Tapi sial bagi Gloria. Tulang kakinya patah saat bermain futsal bersama teman-temannya. Gloria pun gagal menjadi anggota pengibar bendera di sekolah. Untuk menghibur Gloria, gurunya memasukkan nama Gloria untuk ikut seleksi pasukan pengibar bendera di tingkat kota.

Tak disangka, gadis itu malah lolos jadi anggota pengibar bendera di Istana. Proses menjadi pengibar bendera pusaka ini, kata Gloria, sangat berat dan penuh keringat. Fisik dan mental calon pengibar bendera pusaka digenjot habis-habisan. Gloria dan teman-temannya bahkan pernah dihukum push-up 1.000 kali karena melakukan kesalahan.

Makanya dia sedih bukan kepalang saat namanya disetip dari daftar Pasukan Pengibar Bendera Pusaka lantaran memiliki paspor Prancis. Saking kecewa, Gloria tak bisa menahan air mata di tempat pelatihannya. “Memang sedih sih pas awal tahu. Tapi aku yakin pasti ada jawabannya. Soalnya usaha enggak mungkin mengkhianati hasil. Dan terbukti akhirnya bisa juga,” ujarnya.

Video: 20detik

Gloria memandang silang pendapat soal status kewarganegaraannya sebagai sebuah anugerah. Sementara dulu Gloria sering mengisi waktu luangnya dengan bermain game, kini kegiatannya sehari-hari lebih banyak diisi dengan aktivitas positif. Salah satunya sebagai duta Kementerian Pemuda dan Olahraga. Gloria juga kembali dipercaya sebagai anggota pasukan pengibar bendera untuk upacara pembukaan Pekan Olahraga Nasional Jawa Barat.

Selain statusnya yang masih kabur, bagi Gloria, lahir dari orang tua beda kewarganegaraan, beda budaya, justru memberi keuntungan. Gloria tumbuh menjadi pribadi yang memiliki pemikiran terbuka dan bisa menghargai perbedaan. “Orang Indonesia kan lebih kekeluargaan dan ramah. Aku ambil nilai positifnya dari sana. Sedangkan orang Prancis terkesan kaku dan introver, ya jangan ambil nilai yang kurang. Jadi menurut aku, anak perkawinan campur seperti aku lebih asyik,” tutur perempuan yang menyukai ayam pop ini.

Soal fisik sama sekali tak jadi soal baginya. Gloria punya kulit gelap, tapi juga tumbuh bulu pirang di tangannya. Kalaupun ada yang menyindir penampilan fisiknya, ia pilih menanggapinya dengan guyonan. “Emang kan bulu di tangan aku ini pirang. Aku jawab aja, ‘Ga papa, keren, kan?” ujarnya, santai.

Menjalin hubungan kasih jarak jauh tak pernah mudah, juga bagi Rosalina Syahriar. Terlebih jika pasangannya adalah seorang warga negara Amerika Serikat. Selisih waktu 12 jam antara Indonesia dan Negeri Paman Sam membuat sepasang kekasih ini begitu tersiksa.


Piagam penghargaan yang diberikan kepada Gloria atas keikutsertaannya sebagai anggota Paskibraka 2016.
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Begitu ada kesempatan, Rosalina buru-buru memperkenalkan pria keturunan Afrika-Amerika itu di hadapan kedua orang tuanya. Kesungguhan dari sang calon menantu membuat pintu restu orang tua terbuka lebar. Rosalina dan pasangan mengikrarkan hubungan ke jenjang pernikahan, 21 tahun lalu.

“Sewaktu masih kuliah, setiap kali liburan, dia sering main ke Indonesia, jadi sudah mengenal budaya dan kultur warga lokal. Dia juga mau tinggal dengan saya di Indonesia. Mungkin itu beberapa hal yang dipertimbangkan orang tua,” kata Rosalina.

Setahun menjalani masa manis pernikahan, kebahagiaan pasangan ini bertambah berkat kehadiran seorang putra pertama, Jarred. Pada waktu itu, Indonesia masih menganut asas kewarganegaraan tunggal. Rosalina pun harus legawa, anaknya yang dilahirkan di Indonesia menyandang status warga negara asing.

Masa-masa bulan madu pasangan baru ini rupanya hanya berlangsung sesaat. Cobaan bagi pelaku perkawinan campuran baru dirasakan ketika mengajukan kartu izin tinggal terbatas (Kitas) untuk Jarred. Saat mengurus perpanjangan Kitas, Rosalina kerap mendapat tatapan sinis dari petugas Imigrasi.

Menurut dia, wanita yang telah menikah dengan pria asing acap kali dipandang negatif. Ada orang yang beranggapan bahwa perempuan yang dinikahi pria asing merupakan wanita nakal. Padahal banyak di antara mereka menikah secara baik-baik. “Saya menikah dengan suami karena alasan cinta,” ujarnya.

Gloria saat mengikuti latihan Paskibraka 2016
Foto: Bertanius Dony/detikcom

Rosalina menuturkan pengalamannya saat hendak mengurus perpanjangan Kitas yang telah melewati tenggat beberapa hari. Ia malah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan. Petugas Imigrasi menyalahkan Rosalina karena menikah dengan pria asing, sehingga harus repot mengurus perpanjangan izin tinggal anaknya.

“Dia bilang, ‘Siapa suruh kawin sama orang asing? Begini nih jadinya.' Saya tak merasa berbuat salah. Tetapi, karena kasus itu, saya selalu dipersulit jika ke Imigrasi,” kata Rosalina. Dia juga mengeluhkan birokrasi yang berbelit dan informasi yang tak lengkap dalam urusan keimigrasian.

Menurut Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006, anak hasil perkawinan campuran diberi kesempatan memiliki kewarganegaraan ganda terbatas sampai usia 18 tahun. Bagi anak yang lahir sebelum 2006, mereka harus mendaftarkan kewarganegaraannya terlebih dulu untuk mendapatkan status kewarganegaraan ganda terbatas.

Rosalina, yang saat itu telah dikaruniai empat anak, harus memproses pengajuan kewarganegaraan ganda terbatas paling telat pada 31 Juli 2010. Masalahnya, Rosalina kerap diminta perusahaannya bertugas ke luar negeri. Satu tahun sebelum pendaftaran ditutup, Rosalina sedang ditugaskan ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Di antara waktu luangnya, ia pergi ke Kedutaan Besar Indonesia untuk mendaftarkan kewarganegaraan ganda bagi keempat anaknya. Petugas Kedutaan meminta Rosalina melegalisasi akta kelahiran yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat. Karena minim informasi, Rosalina mengunjungi kantor Kedutaan Amerika di Kuala Lumpur untuk menanyakan hal tersebut.

Gloria bersama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla
Foto: Gatot S. Dewa Broto/Kemenpora

“Petugas Kedutaan Amerika justru heran, apa yang perlu dilegalisasi? Itu dokumen resmi Amerika. Jadi permintaan untuk melegalisasi enggak masuk akal,” kata Rosalina mengutip petugas di Kedutaan Amerika. Bolak-balik ke Kedutaan Indonesia tak kunjung beres, Rosalina angkat tangan. Dia memutuskan akan mengurus langsung status warga negara empat anaknya di Jakarta.

Di Jakarta, berkas permohonannya ditolak. Rupanya ia telah melewati tenggat pendaftaran. Perjuangan Rosalina selama satu tahun pun terbuang sia-sia. Untuk mendapatkan status warga negara Indonesia, keempat anaknya harus menggunakan cara naturalisasi dengan biaya per orang hingga puluhan juta rupiah.

“Terus terang saya merasa dirugikan. Bukan karena saya enggak berusaha, tapi karena sosialisasinya belum baik. Kedutaan tak mengerti, saya pun kurang paham. Saya bahkan tak tahu ada batas akhir pendaftaran itu,” kata Rosalina. Kini dia bersama empat anaknya menetap di Missouri, Amerika Serikat.

Anak pertamanya yang saat ini tengah kuliah beberapa kali sempat mengutarakan keinginan kembali ke Indonesia. “Sebagai warga negara Amerika, tawaran dan fasilitasnya banyak. Tetapi dia sampai SMA tinggal di Indonesia. Dia ingin bekerja dan berbakti untuk Indonesia,” kata Rosalina.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.

SHARE