METROPOP

Kumalasari yang
‘Haus’ Darah

“Respons pertama mereka, ‘Oh, itu perempuan yang bikin. Cewek ini sadis juga ya.’”

Kumalasari dengan salah satu karyanya 

Foto-foto: Agung Pambudhy/detikcom

Selasa, 29 November 2016

Sadis. Satu kata ini barangkali jauh dari cukup untuk menggambarkan “kebrutalan” Mo Brothers, duo sutradara Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel, dalam film Rumah Dara. Sepanjang film, penonton tak diberi kesempatan menghela napas sejenak pun.

Darah hitam kemerahan muncrat dari leher, usus terburai, dan suara deru gergaji mesin memotong bahu. Samurai dan tusuk konde beralih fungsi menjadi alat eksekusi di meja mutilasi. Pada satu adegan, Mike Lucock, yang memerankan karakter Alam, terpenggal dan terguling. Di Rumah Dara, Timo dan Kimo benar-benar “merayakan” darah dan kebuasan manusia. 

Adalah gadis cantik Kumalasari Tanara yang bertanggung jawab atas semua adegan penuh darah, sadis, dan menjijikkan itu. Tak ada “bau” darah dan kesadisan dari Kumalasari. Suaranya empuk dan ramah. Tapi tangan gadis inilah yang membuat model kepala yang terpenggal, meracik darah merah yang menyembur dari luka tusukan, juga kulit yang melepuh merah terbakar. Berkat Kumala pula, adegan kaki patah tampak sangat nyata.

Video : Iswahyudi/20detik


Karena sering lihat darah buatan sendiri, darah asli jadi kayak darah palsu.”

“Respons pertama mereka, ‘Oh, itu perempuan yang bikin. Cewek ini sadis juga ya…. psycho nih psycho,’” kata Kumala, menirukan respons penonton setelah menonton film Rumah Dara. Selain dalam Rumah Dara yang sadis dan beberapa film horor, dia terlibat dalam film-film laga, seperti The Raid 2: Berandal, Killers, dan Java Heat.

Sebagai seniman rias efek khusus, Kumala bukanlah penggila film gore yang penuh adegan sadis. Meski kadang ia menjadikan film seperti The Evil Dead karya seniman rias Tom Sullivan sebagai referensi, perempuan blasteran Jerman-Tionghoa ini juga kerap mencari rujukan lain. Untuk mengasah kemampuan membuat luka, Kumala bereksperimen dengan model mayat miliknya.

Dia juga tak enggan membaca buku tentang teknik otopsi mayat dan anatomi tubuh manusia supaya bisa membuat adegan sadis dengan presisi dan akurat. “Aku orangnya enggak gampang jijik. Karena sudah lama mengerjakan hal ini, jadi sudah terbiasa,” dia menuturkan. Padahal sebenarnya Kumala sama lihainya membuat orang tampil menyeramkan, atau justru kebalikannya, menjadikan wajah orang tampak licin dan cantik.

Meski kini Kumala banyak menangani adegan sadis di film, siapa sangka ketertarikannya bermula pada tata rias kecantikan. Sejak kecil Kumala senang mengotak-atik peralatan rias milik ibunya. Orang tuanya menganggap hobinya sebagai hal yang lazim, sama halnya dengan anak perempuan lain. Ternyata hobi Kumala berlanjut hingga SMA. Jika ada acara membuat buku tahunan, misalnya, ia tak sungkan bercapek-capek membantu merias teman-temannya. Atau ketika ada tren rias baru di majalah, Kumala kerap mencobanya sendiri.

Dari sekadar hobi, Kumala hendak menjadikan rias sebagai profesi. Begitu lulus SMA, Kumala terbang ke Jerman untuk kuliah di jurusan kosmetik dan estetika. Di sana ia mempelajari segala macam hal yang berhubungan dengan tata rias kecantikan. Di Jerman, Kumala sempat magang dan bekerja dalam produksi film The Front Line dan serial televisi The Tudors, yang dibintangi Jonathan Rhys Meyers dan Henry Cavill.

“Aku diajak syuting ke Irlandia sebagai asisten rias. Aku baru tahu ternyata tata rias enggak cuma untuk kecantikan saja. Justru ini yang membuat dunia tata rias lebih berwarna,” Kumala menjelaskan tentang ketertarikannya pada tata rias efek khusus.

Untuk belajar tata rias dalam film, ke mana lagi jika tak belajar langsung dari kiblatnya industri film dunia: Hollywood. Dari Jerman, Kumala terbang ke Los Angeles, Amerika Serikat, untuk belajar lagi di Cinema Makeup School. Di sekolah rias untuk film ini, dia belajar anatomi tubuh, otot, saraf, macam-macam lem, pembersih, serta bahan-bahan kimia yang dapat dicampur untuk pembuatan prostetik makeup.

Lulus dari sekolah, Kumala disarankan oleh sang ayah pulang ke Indonesia. Menurut sang ayah, ahli tata rias efek khusus di Indonesia masih sedikit sehingga peluang untuk berkarier akan lebih besar. Pada 2008, Kumala pulang ke Tanah Air. Lantaran belum punya nama, dia menyabet segala tawaran pekerjaan untuk rias kecantikan di majalah.

Jalan masuk ke industri film Indonesia terbuka lebar setelah dia bertemu dengan Mo Brothers, Kimo dan Timo. Melihat hasil karya Kumala, Kimo dan Timo mengajak Kumala bekerja sama. Rumah Dara menjadi proyek film gore pertama Kumala dan sukses mengangkat namanya.

Kini “darah” jadi sumber nafkah gadis cantik itu. Tak hanya melayani proyek efek untuk film laga atau horor, Kumala juga memproduksi dan menjual darah tiruan. Dia memberi nama darah buatannya: Pabrik Darah. Darah-darahan yang semula hanya dipakai dalam produksi film bisa pula dipakai untuk keperluan lain. Bahkan ada pula orang yang membeli darah dari Kumala untuk menjaili temannya.

Sementara orang lain takut dan ngeri melihat darah, karena saking terbiasanya, Kumala malah kesulitan membedakan mana darah asli dan tiruan. “Karena sering lihat darah buatan sendiri, darah asli jadi kayak darah palsu. Pas pengambilan gambar bersama Iko Uwais di The Raid 2, pelipisnya kena pukul dan berdarah. Saya enggak tahu, siapa yang nambahin darah. Ternyata itu darah beneran,” ujarnya terkekeh.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.

SHARE