SAINS

Manuskrip Isaac Newton

Dari Inggris Tersebar Hingga ke Israel

“Isaac Newton banyak menulis soal Injil, Yahudi, Kabbalah, dan pertanyaan-pertanyaan lain soal Yahudi.”

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Jumat, 1 April 2016

Suatu siang pada 13 Juli 1936, Balai Lelang Sotheby's di London siap menawarkan warisan manuskrip Isaac Newton milik Gerard Wallop, Earl of Portsmouth. Selama hampir dua abad, keluarga Wallop turun-temurun mewarisi manuskrip Sir Isaac Newton, buah perkawinan Kitty Conduitt, cucu keponakan Isaac Newton dengan John Wallop, pada tahun 1740.

Setelah Sir Isaac Newton meninggal, ribuan lembar catatan yang dia buat sepanjang hidupnya diwariskan kepada keponakannya, Catherine Barton dan suaminya, John Conduitt, kedua orang tua Kitty. Namun sungguh ironis nasib ribuan lembar catatan Sir Isaac Newton, salah satu ilmuwan paling kondang dalam sejarah.

Buku biografi Isaac Newton
Foto: AlembicrareBooks

Sebenarnya, pada 1872, keluarga Wallop pernah menawarkan catatan-catatan Isaac Newton itu kepada almamaternya, Universitas Cambridge. Tapi manajemen kampus Cambridge hanya bersedia menerima manuskrip-manuskrip “ilmiah” Newton. Mereka tak mau menerima coret-coretan Newton soal agama dan alkimia. Ditolak Cambridge, keluarga Wallop berpaling kepada Perpustakaan Inggris. Tapi sikap pengelola Perpustakaan Inggris sama saja. Mereka ogah menyimpan manuskrip-manuskrip “tidak ilmiah” Newton.

Manuskrip Isaac Newton di Perpustakaan Nasional Israel
Foto: Perpustakaan Nasional Israel

Tak disangka, tak menggambarkan reputasinya, lelang manuskrip Newton menjelang Perang Dunia II itu sepi peminat. Bahkan perwakilan almamater Newton, Universitas Cambridge, dan Museum Inggris tak ada yang nongol. Hanya ada beberapa kolektor buku dan naskah kuno yang tampak kurang semangat untuk berebut naskah Newton.

Walhasil, ribuan lembar catatan asli Newton koleksi keluarga Wallop yang ditawarkan hanya laku terjual 9.000 pound sterling, kurang-lebih setara dengan 700 ribu pound sterling atau Rp 13,3 miliar hari ini. Padahal, hari ini satu lembar manuskrip Newton bisa laku ratusan ribu dolar Amerika. Pada tahun 2000, keluarga Macclesfield di Inggris menawarkan koleksi manuskrip Newton milik mereka dengan harga 6,37 juta pound sterling atau Rp 120 miliar dengan nilai tukar saat ini.

Hanya ada dua orang yang sangat bersemangat mengejar manuskrip Newton. Satu orang, John Maynard Keynes, ekonom kondang Inggris. Satu lagi, Abraham Shalom Yahuda, peneliti budaya Timur Tengah dan kolektor naskah kuno keturunan Yahudi. Keduanya terlambat mengetahui lelang itu sehingga telat datang. Sebagian besar manuskrip Newton sudah laku terjual.

Keynes dan Yahuda bersaing merayu para pemilik baru manuskrip Newton supaya mau menjual kembali kepada mereka. Dua pembeli manuskrip, Gabriel Wells dan Maggs bersaudara, bersedia melepas kembali sebagian besar catatan Newton dengan syarat mendapat keuntungan 15 persen. Demi membeli coret-coretan tangan Newton, Yahuda rela menjual sebagian koleksi naskah-naskah kuno miliknya.

Belakangan, Keynes dan Yahuda sadar, minat mereka berbeda dalam hal manuskrip Newton. Keynes lebih tertarik pada catatan-catatan alkimia Newton. Sedangkan Yahuda lebih berminat pada tafsir-tafsir Isaac Newton atas ayat-ayat dalam Kitab Injil. Mereka sepakat berbagi hasil “perburuan” catatan Newton.

Manuskrip Isaac Newton
Foto: Peter Macdiarmid/Getty Images

Total ada 33 pembeli manuskrip Newton. Dari 330 bundel manuskrip yang dilelang, Keynes membawa pulang 38 bundel naskah. Yahuda menghabiskan 1.400 pound sterling, setara dengan 50 ribu pound sterling atau hampir Rp 950 juta dengan kurs hari ini, untuk membeli 3.400 lembar folio catatan Newton. Dengan penuh semangat, dia mengabarkan hasil “perburuan”-nya kepada Ethel, sang istri. “Aku luar biasa senang mendapatkan manuskrip ini.... Isaac Newton banyak menulis soal Injil, Yahudi, Kabbalah, dan pertanyaan-pertanyaan lain soal Yahudi,” Yahuda menulis seperti dikutip Sarah Dry dalam bukunya, The Newton Papers: The Strange and True Odyssey of Isaac Newton’s Manuscripts.

Yahuda menepis anggapan sejumlah orang bahwa catatan Newton soal Injil tak ada harganya. “Barang ini memang antik, tapi menunjukkan kejeniusan Newton, maka akan selalu bernilai tinggi,” Yahuda menulis. Menurut Yahuda, catatan Newton menjadi koleksi naskah tua paling bernilai sepanjang hidupnya. “Manuskrip Newton membuka dunia baru bagiku.”

John Maynard Keynes
Foto: Politico

Yahuda, profesor kajian Yahudi di Universitas Madrid dan pengajar di sejumlah kampus top dunia, mendiskusikan manuskrip-manuskrip Newton dengan sobat-sobatnya, salah satunya Albert Einstein. Fisikawan kondang itu memuji tafsir-tafsir Newton atas ayat-ayat dalam Injil. “Dia berpikir sistematis berdasarkan semua sumber daya yang dia punya,” Einstein menulis kepada Yahuda.

Setelah membawa pulang dan menelaah berlembar-berlembar catatan Newton, pandangan Keynes soal Newton sedikit berubah. Newton, menurut Keynes, bukan orang pertama dari abad rasional, abad pencerahan, tapi “tukang sulap” terakhir dan pemikir hebat peninggalan masa Sumeria dan Babilonia.

“Mengapa aku menyebut dia tukang sulap, seorang magician? Karena dia melihat seluruh semesta ini sebagai satu teka-teki dan satu rahasia yang bisa dibaca dengan menerapkan petunjuk-petunjuk mistik dari Tuhan,” kata Keynes, dikutip Tessa Morrisson dalam bukunya, Isaac Newton's Temple Solomon. Newton, menurut Keynes, merupakan pribadi dengan dua sisi. Dia adalah matematikawan dan astronom Nicolaus Copernicus, sekaligus juru ramal Johann Georg Faust.

Hampir dua abad hanya disimpan oleh keluarga Wallop di Portsmouth, kini ribuan manuskrip Newton tersebar di pelbagai museum, perpustakaan, dan brankas kolektor di seluruh dunia. Setelah Yahuda meninggal pada 1951, Ethel menyumbangkan semua manuskrip dan naskah-naskah kuno milik Abraham Yahuda kepada Perpustakaan Nasional Israel. Beberapa tahun sebelumnya, Keynes menyumbangkan semua manuskrip Newton miliknya ke Perpustakaan King's College, Cambridge.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.



SHARE